Monday, July 28, 2014

Menulis di Kompasiana, dan Menyembuhkan Luka

1301885472256593596
Ilustrasi/Admin (shutterstock)

Kompasiana itu ibarat gudang. Tempat penyimpanan. Di tempat itu (Kompasiana) tersimpan begitu banyak potensial. Mereka kadang diam membisu (silent reader katanya sih), tapi banyak yang sekali menulis, luar biasa, bahkan bulu kuduk bisa berdiri. Ada yang memang aktif menulis, tak terkira, bahkan ada yang sudah menulis ribuan artikel. Para penulis ini, entah yang masih muda maupun yang sudah agak ubanan adalah orang-orang pintar. Ia, menilik dari jenis-jenis tulisan, dapat dipastikan mereka Smart, Excellent, Brilliant, Piawai dalam hal tulis menulis. Tentu saja dengan gaya bertutur, gaya menulis, ciri khas masing-masing. Tulisan yang begitu banyak dan variatif adalah juga sarana pembelajaran. Berbagi ilmu. Istilah kerennya Knowledge Exchange. Untuk yang ingin menyambangi, membaca, pun menulis di blog keroyokan tersebut, silakan buka di sini: www.kompasiana.com

Ada yang pintar menjalin kata-kata lewat puisi, ada yang suka melucu, bercerita perjalanan hidupnya. Bahkan banyak dokter di Kompasiana ini, ahli hukum, pendidik sampai tukang becak dan penjual bakso pinggir jalan.

Fenomenal. Menurut catatan sejarah probability, Kompasiana ini kemungkinan dihuni not only quite possibly but most probably puluhan ribu kompasianer, aktif maupun pasif. Itu berarti ada puluhan ribu otak untuk dipakai berpikir demi kemajuan bersama. Puluhan ribu pikiran yang bisa dipakai untuk  memikirkan tentang sesuatu.

Kalaupun kita terkadang gagal menuangkan isi otak kita (baca: ide) kedalam bentuk tulisan, bersabarlah. Kegagalan adalah sukses yang tertunda. Asal nggak lama-lama ketundanya, iya kan? Makanya dikit demi dikit belajar untuk mulai menulis buah pikiran kita. Yang gampang-gampang dululah, tuliskanlah kicauanmu tentang apa saja di sekitarmu, tidak perlu berimajinasi terlalu susah dulu, tuliskanlah apa yang ada di depan matamu, apa yang kau lihat, yang kau cium, yang kau raba. Setelah engkau fasih menulis hal-hal yang ada di sekitar, barulah kembangkan imaginasimu. Ada yang menjadi badut, ada yang menjadi politikus, ada yang menjelma  menjadi ahli hukum, pengamat olah raga bahkan juru masak!


Sunday, July 13, 2014

Ingin Kerja atau Tinggal di Amerika? Baca Dulu yang Satu ini

Mungkin ada begitu banyak yang ingin bepergian ke luar negeri. Ada begitu banyak yang ingin belajar dan bekerja di luar negeri. Kejarlah dan wujudkan segala impian itu selagi masih ada waktu. Negara di dunia ini sangatlah banyak, mulai dari Afrika sampai China. Atau sekedar ke negara-negara tetangga semisal Malaysia, Thailand, dan sebagainya itu. Dan atau juga di ujung yang lain, seperti Eropa dan Amerika umpamanya. 

Banyak tempat yang dapat kita tuju. Apa perlunya dan apa motivasinya? Jangan tanya saya, tapi tanyailah diri kita masing-masing. Setiap pribadi tentu punya keinginan dan tujuan hidup sendiri-sendiri.
Untuk bepergian ke luar negeri tentu ada persiapan yang harus kita siapkan. Misalnya saja dari segi pendanaan (uang), persiapan diri dan mental, serta persiapan pengetahuan dan bahasa. Kita tidak bisa pergi begitu saja tanpa ada persiapan sama sekali. Apapun itu, sebelum ke luar negeri bersiaplah dulu, sebab kalau tidak, percayalah akan ada begitu banyak hambatan serta penghalang yang akan kita temui. Suka atau tidak, hidup di luar sana tidak seenak yang kita lihat di film-film.

Kali ini saya berkeinginan untuk menuliskan beberapa hal sederhana yang cukup penting bila Anda ingin berkunjung ke Amerika, dalam waktu tinggal yang relatif lama. Ataupun bila Anda memang ingin bekerja di sana untuk selamanya. Atau bagi mahasiswa yang ingin menimba ilmu di sana. (Perlu dicatat, menimba ilmu tidak segampang menimba air di sumur.)

Nah, beberapa hal sederhana ini tentu tidak mungkin mencakup semua hal, namun paling tidak hal-hal sederhana ini akan amat sangat bersinggungan langsung dengan keberadaan kita selama di sana. Untuk hal-hal lain dapat kita bincangan pada topik berbeda. Hal-hal lain itu seperti apa sih? Ya misalnya saja bagaimana untuk dapat ikut aktif berperan di salah satu partai politik yang ada di sana (hanya ada 3 partai yaitu Republik, Demokrat, dan Independen,) sehingga kelak kita bisa merasakan langsung berpolitik di Negeri Paman Sam. Atau dalam hal bagaimana supaya dapat menghasilkan uang banyak dari kerja part time? Atau juga, bagaimana bisa dapat uang dengan ‘mencetak’ sebanyak mungkin anak. Hal-hal seperti itu mesti diurai secara teknis, bisa panjang penjelasannya, dan membutuhkan waktu tidak singkat he he he.

Friday, July 11, 2014

Setelah Pilpres Apa? Berbeda Namun Satu!

Bahkan ketika pemungutan suara telah usai pun, ternyata justru semakin memanas konstelasi perpolitikan di tanah air. Selama masa kampanye, segala macam fitnah, pelecehan, dan tuduhan tak berdasar dengan begitu massive dan luar biasa panasnya beredar dimana-mana, terlebih kepada Jokowi. Tak pelak, segala macam isu panas pun beredar di angkasa perpolitikan Indonesia tercinta ini, membuat sebagian kita hanya sanggup megurut dada. Tak tanggung-tanggung, berbagai macam orang dari berbagai kelompok dan kalangan tertentu, termasuk para akademisi pun unjuk gigi angkat bicara. Saking panasnya suhu kampanye kala itu, maka banyak pakar turun tangan, namun tak sedikit pula rakyat kecil yang angkat tangan. Menyerah. Ya, mereka menyerah oleh karena kampanye ini menjurus ke hal-hal yang tidak lagi sehat. Semuanya berlomba-lomba untuk menang, bahkan ada yang akan memakai segala cara, apapun itu, asal kemenangan dapat diraih.Suasana yang tidak kondusif harus kita tata lagi. Suasana yang panas mesti kita dinginkan lagi. Agar tidak terjadi bentrok seperti yang sudah terjadi di beberapa tempat, termasuk yang di Jogya.

Semuanya mestinya akan wajar saja, bila itu kemudian tidak dibumbui dan disisipi berbagai kampanye hitam, super negatif, dan kotor. Seperti yang kerap kita lihat dalam berbagai arena atau gelanggang perang bernama media sosial, media cetak, mapun media debat di berbagai stasiun TV. Pakar politik yang punya kepakaran dan keahlian yang sama saja bisa punya pendapat yang jauh berbeda, sangat bergantung di kubu mana ia berada. Ibaratnya kita lagi melihat Monas. Yang dari Timur dan Barat melihatnya secara berbeda. Sama-sama melihat satu objek yang sama, Monas, tapi dari sudut pandang dan arah pandang yang berbeda. Apa kemudian yang dari Timur dan Barat harus bertikai hanya oleh karena pandangan yang berbeda tersebut? Memangnya Monas itu lebih bagus dilihat dari mana? Timur atau Barat? Paling bagus Monas itu dilihat dari atas. Coba saja kalau nggak percaya.

Kini semakin menampak, aksi dari berbagai pihak yang menamakan diri sebagai “pendukung setia” calon presiden pilihan diri mereka sendiri, mencoba menggelindingkan model kampanye yang selalu saja mengangkat isu SARA, sebagai senjata. Koran Obor Rakyat adalah salah satu contoh. Malah pada masa tenang sekalipun edisi ke-4 tetap beredar. Apakah aparan keamanan tidur saja? Pemrednya saja tidak mau sadar, bahwa itu bukanlah sebuah karya jurnalistik sama sekali. Isinya lebih dari setengah adalah copy paste, setengahnya lagi fitnah dan pelecehan. Suku, agama, ras, dan antar golongan memang acap kali masih dianggap senjata ampuh untuk berkampanye hitam. Menyerang dan mengait-ngaitkan calon tertentu dengan agama tertentu atau golongan tertentu umpamanya. Sesuatu yang menurut saya justru adalah akibat kekerdilan dan kedegilan cara berpikir semata. Kalau kita masih menghormati perbedaan dan kemajemukan, maka jangan sekali-kali kita memanfaatkan perbedaan-perbedaan SARA itu untuk menyerang lawan politik kita, apapun alasan di balik itu. Itu namanya menghalalkan segala cara.

Lantas apakah kemudian kita akan berkata bahwa kalau begitu berarti politik itu kotor? Sama sekali bukan. Yang kotor adalah orang-orang yang berpolitik. Tidak semua memang, namun banyak yang secara terang-terangan memperlihatkan betapa kotornya mereka berpolitik. Politik itu harusnya adalah sarana kita menyalurkan aspirasi terhadap cara pengelolaan negara, termasuk cara memperoleh, menggunakan, dan mengawasi kekuasaan. Jadi bukan politik yang kotor tetapi pelaku-pelakunya. Orang-orangnya. Politikus-politikusnya. Makanya nggak usah heran kalau ada anggapan politikus itu tingkahnya seperti tikus. Gerogoti sana-sini hanya untuk perutnya sendiri. Kalau tidak mau dibilang persis tikus, ya jangan bertingkah seperti tikus. Apalagi dengan omong kosong dan omong besar, bahwa mereka berpolitik demi rakyat.

Kita harusnya memandang hal ini dengan lugas dan terbuka. Begini, bahwa apapun tujuan kita berpolitik dan berkampanye demi memenangkan salah satu calon, maka tujuannya seharusnya diletakkan pada aras yang sama. Apa itu? Jelas sekali adalah demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik, lebih maju, lebih sejahtera, lebih makmur, lebih adil, lebih aman, lebih terjamin, lebih hebat, dan lebih bermartabat? Tujuan mulia dan positif. Di luar semua tujuan yang baik-baik itu, maka calon tersebut berarti tidak berjuang untuk masyarakat banyak melainkan hanya untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya. Kepentingan perutnya, dan tentu perut TIMSESnya. Namun, jikalaupun tujuan-tujuan mulia itu ternyata hanya sebatas supaya menang doang, setelah itu habis perkara, tidak ada upaya mewujudkannya, itu dosa besar. Dosa abadi yang akan diwariskan sampai ke anak cucu kita. Generasi ke generasi akan mencatat dosa abadi itu dalam catatan sejarah pemimpin pembohong. Jangan sampai seperti itu.

Berbeda-beda Namun Satu Jua

Bukankah dalam rangkaian isi dari visi – misi kedua Capres-Cawapres, baik itu Jokowi-Jk maupun Prabowo-Hatta, adalah memperjuangkan hal-hal yang hampir sama? Nah, kalau dua-duanya bermaksud untuk menjadikan Indonesia ini lebih baik, maka cara-cara yang dipakai juga perlu ditelaah. Apakah kita sudah berpolitik dengan baik dan benar? Apakah kita sudah berkampanye dengan baik dan benar? Ataukah kita malah menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Ini harus menjadi itikad bersama, bahwa pemilihan ini mestinya adalah sebuah pesta demokrasi, semuanya berpesta secara positif. Bukan kemudian pilpres ini justru dijadikan ajang pesta fitnah memfitnah, dan pesta jatuh menjatuhkan. Sangat disayangkan.

Sejak dilahirkan ke dunia ini kita ini memang sudah berbeda. Beranjak dewasa kita akan semakin berbeda. Tidak ada satu orang pun yang akan menjelma sama persis dengan orang lain. Bahkan saudara kembar yang struktur genetiknya sama, pastilah ada perbedaan-perbedaan dalam hal tertentu. Tidak akan ada dua individu yang sama persis. Hobi kita beda. Keinginan kita beda. Kepentingan kita beda. Cara pandang kita beda. Orientasi kita beda. Bahkan keyakinan kita pun pastilah akan berbeda satu sama lain. Perpedaan dan keragaman itu sudah ada dari sejak manusia diciptakan, dan akan begitu terus selamanya. Perbedaan itu hakiki adanya. Bahkan kalau boleh saya bilang, perbedaan dan keragaman itu adalah hak asasi setiap manusia, tidak bisa tidak. Itu tandanya bahwa Tuhan memang menghendaki supaya ada perbedaan dan keragaman. Kalau kita menolak perbedaan dan keragaman, perlahan namun pasti, kita berarti sementara membiarkan benih-benih otoriterianisme dan diktatorianisme tumbuh dan berkembang.

Segala sesuatu di alam semesta ini saling berbeda. Itu adalah kodrat yang sangat ilahi. Artinya, Allah Sang Maha Pencipta tentu memang menghendaki kita supaya berbeda. Makanya, apapun di alam semesta ini pasti ada perbedaan sana-sini. Apapun itu. Tiap buah mempunyai rasa yang berbeda. Alangkah sengsaranya kita bila buah mangga, manggis, pepaya, pisang, jambu air, jambu batu, kelapa, rambutan, dan lain sebagainya itu rasanya sama semua. Kemajemukan rasa inilah yang semakin memperkaya hidup kita. Jadi jangan pernah dipaksakan untuk diseragamkan atau hendak dibuat supaya menjadi satu rasa saja, dan sama semuanya. Jangan pernah. Demikian juga dalam perbedaan pilihan, entah itu pilihan hidup maupun pilihan politik. Pilihan calon Presiden juga pastilah akan berbeda. Perbedaan itu harus kita terima dan syukuri. Itulah Bhinneka Tunggal Ika. Nomor satu atau nomor dua, itu juga adalah sebuah pilihan.

Menurut Dr. Andar, Semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebetulnya adalah salah satu ragam sastra puisi dalam tuturan sastra Kawi yang termuat dalam Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular. Ia adalah seorang pujangga agama Buddha abad ke-14 di Kerajaan Majapahit. Arti ungkapan itu adalah “Berbeda-beda namun satu”, atau juga, “Berbeda itu, satu itu”. Nah, kemudian hari, setelah Republik Indonesia ini lahir, kalimat Mpu Tantular yang sudah berusia ratusan tahun itu diambil dan dipakai menjadi semboyan resmi republik kita ini. Sebab pada hakikatnya kita memang berbeda-beda, namun kita ini satu jua adanya. Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa: INDONESIA.

Mpu Tantular menuliskan semboyan yang sangat terkenal itu sekitar abad ke-14 itu. Kala itu wilayah Kerajaan Majapahit sangatlah luas, yaitu Selain meliputi Indonesia, ia juga mencakup sebagian wilayah yang sekarang adalah Malaysia dan Singapura. Di Kerajaan Majapahit tersebut konon hiduplah penduduk dari ratusan etnik dengan berbagai macam jenis bahasa dan latar belakang. Agama yang mereka anutpun bermacam-macam. Ada Buddha, Hindu, serta ratusan agama suku lainnya. Namun mereka semua tetaplah hidup berdampingan secara damai dan rukun. Kesemuanya itu adalah bukti bahwa meskipun penduduk Majapahit berbeda-beda, namun toh mereka ternyata dapat bersatu padu, hidup rukun demi mendatangkan kesejahteraan bagi Kerajaan majapahit. Jiwa keterpaduan itu digambarkan oleh Mpu Tantular dengan kata-kata, “Bhinneka Tunggal Ika”.

Kerajaan Majapahit masih begitu kuno, ia ada di abad ke-14. Bangsa Indonesia lahir, dan kini telah hidup di abad ke-21. Namun pada kenyataannya, bisa jadi justru Majapahit masih lebih modern dari Indonesia dalam hal menghargai perbedaan. Sebab di Republik ini kita masih begitu sulit menghargai sebuah perbedaan. Baik itu perbedaan gender, etnik, budaya, adat istiadat, pilihan hidup, pilihan politik, dan apalagi pilihan agama. Masakan kita harus tunggu dulu Mpu Tantular bangkit dari kuburnya untuk datang mengajarkan kepada kita tentang betapa pentingnya menghargai sebuah perbedaan, supaya kita dapat berjaya seperti Kerajaan Majapahit pada masanya? Semoga kita akan semakin mampu dan semakin bijak menghargai sebuah perbedaan. Apapun itu. Salam dua jempol. —Michael Sendow—

Wednesday, July 2, 2014

Fakta dan Prestasi Tentang Jokowi



Jokowi dalam acara Ngobrol Bareng Netizen. Pic: Koleksi Pribadi

Kampanye hitam, dan segala bentuk tuduhan serta pelecehan sampai detik ini masih saja dialamatkan kepada sosok Jokowi. Hanya oleh karena perbedaan keyakinan dan perbedaan pandangan politik dalam pilpres. Memang kita sementara berada dalam masa kampanye, maka tidak heran semua bentuk fitnahan dan propaganda hitam terus saja dilancarkan. Ini sama sekali tidakboleh dibenarkan di dalam alam peradaban dan alam keterdidikan yang sudah semoderen ini. Kita tidak lagi hidup di jaman batu. Moral dan etika mestinya lebih dikedepankan.  Apakah terdidik dan beradap ketika kita memfitnah dan menjatuhkan seseorang dengan cara-cara menghalalkan segala cara seperti itu? Tentu tidak. 

Kali ini, saya ingin sekali untuk sekedar menuliskan beberapa fakta (bukan fiksi) tentang Jokowi, dan semua prestasi serta keberhasilannya selama masa kepemimpinannya di Solo dan di Jakarta. Beberapa diantaranya adalah ini.

Sebagai pemimpin yang berhasil, maka ada segudang prestasi yang sudah sudah Jokowi dapatkan. Sebut saja diantaranya Bintang Jasa Utama oleh Presiden SBY. Ia juga menjadi juara 3 walikota terbaik di dunia. Masuk dalam The Leading Global Thinkers 2013 dan mendapatkan awardnya dari Majalah Foreign Policy. Ia kemudian juga menjadi walikota terbaik pada bulan Februari 2013 dari The City Mayors Foundation yang bermarkas di London. Pada tahun 2010 ia menerima penghargaan Bung Hatta Anticorruption Award. Kemudian setahun kemudian di tahun 2011 Jokowi menerima Charta Politica Award. Masih di tahun yang sama, 2011 tersebut, Jokowi menerima penghargaan sebagai Walikota teladan dari Kementerian Dalam Negeri. Yang teranyar adalah ia kemudian masuk dalam list nomor 37 di Majalah bergengsi Fortune sebagai salah satu dari 50 The World’s Greatest Leaders. Nah, apakah semuanya itu masih kurang? Kurang apa Jokowi dalam dunia kepemerintahan?

Mari kita menyelam lebih dalam lagi kalau begitu. Banyak penghargaan nasional lainnya yang sudah diterimanya. Dan, ini mau tidak mau adalah FAKTA tak terbantahkan tentang kepiawaian seorang Jokowi dalam dunia kepemimpinan dan dunia pemerintahan. Jangan kemudian kita membolak-balikkan. Fakta menjadi fiksi, dan imaginasi kita katakan sebagai fakta. Itu sungguh keliru. Kalau kita masih mau menggunakan akal sehat dan nurani yang paling dalam, maka katakan fakta sebagai fakta dan jangan dimanipulasi untuk kepentingan sendiri. 

Saturday, June 21, 2014

Juara dan Jago Panco Asal Indonesia



14021235631766660018
[James Anes (kanan), Juara Panco Nasional melibas lawannya...(Foto: James H Anes]
Bisa jadi pertandingan atau lomba panco belum begitu populer di Indonesia. Padahal panco, atau dalam dialek Manado dikenal dengan sebutan ”baku banting tangan” adalah sebuah pertandingan olahraga yang mendunia. Di tingkat dunia, panco ini dikenal dengan sebutan arm wrestling. Dan sudah begitu banyak kejuaraan yang dilaksanakan untuk mencari siapa pemilik ’tangan terkuat’ di dunia.

Di Indonesia sebetulnya olahraga panco ini sudah ada organisasinya, yaitu Persatuan Olahraga Gulat Tangan Indonesia – Indonesia Armwrestling Association (POGTI-IAA) yang didirikan sejak 8 Agustus 2008 lalu, dan hingga saat ini sudah memiliki sekitar 12 Pengurus Pengda Propinsi. Namun apa mau dikata, di Indonesia jenis olahraga ini masih dipandang sebelah mata, sehingga berdirinya organisasi inipun adalah secara independen saja, tentu dibidani dan diprakarasai oleh atlit dan para peminat panco.
Meskipun hanya dipandang sebelah mata namun ternyata organisasi ini telah menghasilkan atlet-atlet yang handal dan bahkan sudah sempat mengharumkan nama bangsa di tingkat Internasional, antara lain di beberapa Kejuaraan Dunia dan Kejuaraan Asia Pacifik yang diadakan rutin setiap tahunnya.
Untuk tahun inipun pengurus organisasi Persatuan Olahraga Gulat Tangan Indonesia – Indonesia Armwrestling Association sudah mendapat undangan untuk mengikuti Kejuaran Asia Pasifik tahun 2014, yang akan diselenggarakan di Jepang pada tanggal 24-29 Juni nanti. Kejuaraan ini akan diikuti oleh sekitar 15 sampai 20 negara Asia Pasifik. 

Di Indonesia sendiri, sekita dua bulan yang lalu juga telah diselenggarakan lomba panco tingkat internasional. Lomba ini ternyata sudah menjadi agenda tahunan Pengurus Provinsi Persatuan Olahraga Gulat Tangan Indonesia (Pengprov POGTI) Kaltim. Atlet internasional yang diundang pada saat itu adalah atlit panco Malaysia, Singapura, Azerbaijan, India, Mesir, Ukraina, Australia, Korea, Jerman, Rusia serta para atlet nasional dan yang lokal Kaltim juga.

Thursday, June 19, 2014

Cak Lontong si Komedian Cerdas

Tulisan ini tidak hendak menyanjung-nyanjung seseorang secara berlebihan. Tidak sama sekali. Apalagi orang itu tidak saya kenal sama sekali, maksudnya tidak saya kenal secara dekat, tapi hanya lewat TV dan acara ILK saja saya mengenal orang itu. Namun orang ini sungguh luar biasa, sementara itu ia juga biasa di luar. Ini menurut hasil surveinya sendiri. Dimana 95% hasil surveinya itu dilakukan di luar rumah. Hanya 5 persen yang dilakukan di dalam rumah, itupun karena 5% orang yang disurvei adalah keluarganya sendiri yang tidak mau diajak ke luar rumah. Nah, namanya bisa jadi sudah sangat kita kenal karena begitu kental melekat di acara yang selalu kita tonton (yang tidak suka nonton mohon tidak usah baca tulisan ini, kalau tetep dibaca juga, ya nggak apa-apa juga sih).

Nama orang itu siapa lagi kalau bukan Cak Lontong. Itu nama bekennya, sedangkan nama aslinya sendiri rada unik bin ajaib, Lis Hartono! Entah kenapa ia diberi nama Lis Hartono, mungkin hanya Rudi Hartono yang tahu? Ah, entahlah. Si Lontong juga pasti kalau ditanya tidak mungkin bisa menjawabnya. Pasti kitanya yang disuruh “Mikir!”

Siapa sebenarnya Cak Lontong ini? Dia adalah manusia biasa sama seperti kita. Hanya saja, manusia ini sangat lucu dan cerdas dalam beropini dan main logika. Ia adalah satu di antara sedikit orang yang sangat mahir bersilogisme yang serempak memunculkan kelucuan tersendiri. Yang lebih hebatnya lagi, ia melakukan komedi logika dan komedi silogisme, dengan ekspresi wajah yang sangat datar dan hampir tidak pernah tersenyum. Wajah yang datar, innocence looking, serta layaknya “orang setengah blo’on” itu justru sudah membuat kita tertawa, setidaknya saya. Baru lihat wajahnya yang setengah melongo-melongo sehabis melontarkan kalimat ‘konyol’ itu saja sudah bisa bikin ketawa.

Di acara yang ratingnya sudah sangat meroket, nomor satu di stasiun TV – Indonesia Lawak Klub (ILK) – Cak Lontong bagaikan sebuah magnet. Ibaratnya, tanpa kehadiran Cak Lontong, ILK akan kehilangan gregetnya. Tanpa mengecilkan peran para komedian lain, maka tanpa kehadiran Cak Lontong rasa-rasanya ada yang hilang di ILK tersebut. Dia adalah ‘roh’nya ILK sebetulnya. Orang akan menunggu-nunggu setiap hasil surveinya yang selalu saja bikin panas kuping, bikin marah, namun serempak bikin orang tertawa terpingkap-pingkal. Dia itu adalah ikon dan maskotnya ILK. Sosok komedian cerdas, dan pandai bicara. Hal-hal sederhana berubah begitu lucu di tangannya (baca: di mulutnya). Hal sederhana seperti kopi, pacar, cinta, TKI, dan masih banyak lagi dibuatnya menjadi bahan lawakan yang sangat menghibur nan lucu.

Monday, June 16, 2014

Turun Tangan Menjadi Orang Baik dalam Pilpres 2014

Ajakan salah satu jubir dan tim pemenangan Jokowi-JK, Anies Baswedan yang terus mengumandangkan ajakan kepada orang baik untuk mendukung orang baik tentu perlu kita apresiasi. Di berbagai kesempatan, Anies selalu menggagas gerakan turun tangannya itu. Orang baik yang diajak supaya turun tangan untuk melakukan kebaikan. Pencetus Indonesia Mengajar ini ternyata tak pernah pupus harapan untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik menjadi kenyataan. 

Dia mengerti betul, bahwa manusia adalah aset utama suatu bangsa, bahwa dengan membangun manusianya maka suatu bangsa akan menjadi kaya. Ini tidak terlalu mengherankan, karena Anies adalah seorang tokoh pendidikan muda yang kita miliki saat ini, dan menjabat sebagai rektor Universitas Paramadina. Maka itu, tidak mengherankan pula ketika ia mengatakan (sesuai sejumlah tulisan yang beredar yang dikutip banyak orang) bahwa pola pemikiran yang menganggap gas, minyak, dan hasil tambang adalah kekayaan utama suatu negara adalah pola pemikiran kolonialisme. Menurutnya, justru kekayayaan utama dan terbesar suatu bangsa adalah manusianya. Rakyatnya. Masyarakatnya. Warga negaranya. Seperti itu. Tentu ia tidak bermaksud menisbikan SDA yang kita miliki, hanya saja dia menekankan kepada sesuatu yang ia anggap harus lebih dulu ada, yaitu kualitas SDM.

Sekarang kembali ke pernyataan orang baik harus turun tangan mendukung orang baik. Semua orang baik semestinya berkumpul dan bersinergi untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik, terlepas dari golongan dan latar belakang apa orang itu berasal. Terlepas dari agama dan kesukuan apa orang itu berasal. Nah, ini artinya orang baik itu bisa datang dari mana saja dan siapa saja. Orang baik bukan milik suku tertentu, agama tertentu, dan golongan tertentu. Ia ada dimana-mana dan tersebar dimana-mana. Orang-orang baik yang tersebar itulah yang diajak untuk turun tangan. Sekarang muncul pertanyaan selanjutnya, apa sih kriteria orang baik?

Saya mempunyai sebuah cerita. Begini, konon ada tiga orang koruptor yang diperiksa di pintu Neraka. Berkatalah sang penjaga Neraka kala itu, “Anda bertiga akan disiksa di satu tempat yang sama seumur hidup!” Lalu mereka kemudian diantar ke suatu rumah. Itu adalah awal cerita gubahan novel berjudul No Exit karya Jean Paul Sartre seorang filsuf terkemuka asal Perancis.

Kata penjaga, “Inilah rumah penyiksaan kalian bertiga.” Ketiganya langsung masuk kerumah itu dan mulai melihat-lihat isi rumah tersebut. Ternyata isi rumah itu sangat menyenangkan. Ada rak buku, TV, ada kulkas, ada AC, dan sebagainya. Segala sesuatunya tersedia dengan lengkap. Lantas dimana alat-alat penyiksaannya? Katanya ini rumah penyiksaan? Alat-alat itu tidak nampak di rumah itu, ini tentu saja membuat ketiganyapun menjadi lega.

Tetapi, beberapa hari kemudian mereka mulai merasa tersiksa. Apa alasannya? Yang seorang berkata, “Tabiatmu ini aneh dan menyebalkan!” Yang lainnya pun berkata tak kalah garangnya, “Sifatmu lebih aneh lagi. Aku juga sebal!”. Begitulah mereka akhirnya saling benci dan memusuhi satu sama lain, dan akibatnya makin lama mereka menjadi makin tersiksa.

Aksara dan Games

Aksara merupakan salah satu penemuan manusia yang paling kuno. Akan tetapi penemuan kuno tersebut ternyata memberi dampak besar bagi kehidupan manusia, bahkan di era super modern saat ini, aksara menjadi alat komunikasi utama manusia. Aksara masih terus menjadi alat komunikasi tulis dan baca yang ampuh hingga detik ini. Semua media social harus mengamini bahwa aksara adalah penyumbang utama kehidupan dan keberadaan atau eksistensi mereka.

Aksara sudah ada sejak jaman purba. Nah, kini aksara peninggalan purba itu ada yang sudah punah, dan hilang dari penggunaan, namun ada juga yang masih tetap bertahan dan digunakan hingga saat ini. Setidaknya ada enam rumpun budaya baca-tulis yang melahirkan aksara. Menurut catatan sejarah, maka yang paling tua adalah budaya baca-tulis Mesopotamia yang muncul di sekitar tahun 3500 sM. Di situ orang sumeria menoreh tanda-tanda mirip paku pada lempeng tanah liat yang masih basah dengan sejenis alang-alang tajam. Ini merupakan tulisan manusia yang pertama. Namanya kuneiform.
Selanjutnya adalah budaya baca-tulis Mesir yaitu sekitar tahun 3200 sM. Mereka menulis di atas bahan yang terbuat dari papyrus, yaitu alang-alang air. Aksara ini disebut hieroglif. Berikutnya adalah budaya baca-tulis lembah Indus di Pakistan dan India, yang muncul sekitar tahun 2800 sM. Aksaranya disebut Harappa. Lantas kemudian ada juga budaya baca-tulis Tionghoa dengan logogram, yaitu aksara berbentuk lambang yang berjumlah ribuan, dan mulai digunakan tahun 1200 sM. Ada juga budaya baca-tulis Levantin di sekitar Laut Mediterania dan Timur Tengah dimulai sejak tahun 1050 sM. Aksara ini merupakan cikal bakal sejumlah aksara modern, termasuk yang kita gunakan saat ini.

Kini, dengan kemajuan teknologi dan pesatnya perkembangan dunia informatika, aksara sudah ‘naik level’ penggunaannya. Bahasa-bahasa pemrograman komputer maupun bermacam kode canggih untuk berbagai piranti lunak sudah ditemukan, dan terus bermunculan. Bahasa-bahasa pemrograman muncul juga di setiap gadget yang ada di tangan kita. Bahkan aksara sudah banyak yang bermetamorfosis menjadi simbol-simbol, dan bahkan aplikasi-aplikasi canggih lainnya. Satu di antaranya berwujud sebagai apa yang kita kenal sekarang dengan sebutan ‘aplikasi games’.

Wednesday, May 28, 2014

Pejabat Publik Indonesia Adalah Raja korupsi?

Kejahatan Korupsi di Indonesia
14005842301201869899
Ilustrasi Korupsi: Binarmediaeducation.blogspot.com

“A man who has never gone to school may steal a freight car; but if he has a university education, he may steal the whole railroad.” ― Theodore Roosevelt
Menjadi orang yang baik itu tidak gampang. Menjadi orang yang jujur lebih tidak gampang lagi. Kita bisa saja mengucapkan berjuta kali di hadapan semua orang bahwa kita ini adalah seseorang yang baik dan jujur. Boleh saja beribu-ribu janji terlontar dari mulut kita, namun perbuatan kitalah yang kemudian akan menunjukkan siapa sesungguhnya kita ini. Seperti apa sebetulnya kita ini. Bukan karena kita berteriak lantang “saya bukan koruptor” maka saya lantas tidak akan korupsi bukan? Bukan juga ketika kita berjanji tidak akan korupsi lantas kemudian kita serta merta bebas dari korupsi. Kebaikan dan kejujuran seseorang mesti diuji terlebih dahulu. Anda ingin tahu seberapa kuat Anda dapat menolak untuk korupsi dan terbebas darinya? Maka cobalah masuk dalam sistem yang korup. Bergaulah dengan orang-orang yang korup. Bersahabatlah dengan atasan dan bawahan yang korup. Di sanalah ujian itu baru muncul. Sebab, mungkin saja kita tidak korupsi ya oleh karena memang kita hidup di tengah-tengah lingkungan yang tidak memungkinkan kita untuk korupsi dan memakan uang bukan milik sendiri dengan begitu rakusnya. Sederhananya, kita tidak korupsi karena tidak ada (belum ada) kesempatan untuk itu.

Bukankah sudah banyak contoh mereka yang tadinya berteriak-teriak dengan lantang menolak pejabat korup. Mereka dengan ganasnya menghina serta menistakan para koruptor dan tindakan korupsi yang sementara terjadi. Akan tetapi ketika mereka masuk ke dalam sistem. Tatkala mereka terpilih sebagai pejabat publik, eh justru mereka menjelma menjadi jauh lebih busuk dan lebih bobrok dari orang-orang yang mereka demo dan teriaki itu. Sangat kontras. Terlebih, kelak di kemudian hari, ini pastilah menjadi sebuah preseden buruk yang amat sangat memalukan bagi aktivis anti korupsi lainnya, bila ia kemudian menjadi jauh lebih “busuk” dari para koruptor yang sering dihujatnya. Amat memalukan. Dan amat memiriskan.

Terlepas dari semua kebimbangan dan keputusasaan kita terhadap kemurnian para aktivis anti koruptor tersebut, bangsa kita ternyata masih juga terus melahirkan pemimpin-pemimpin yang dapat dipercaya. Orang-orang yang anti korupsi seperti Ahok dan Jokowi, Mahfud MD, serta Abraham Samad membuktikan bahwa sistem dan lingkungan yang korup tidak sanggup menarik mereka masuk ke pusaran itu. Mereka masih punya hati nurani dan dapat berkata tidak, walau sebetulnya kesempatan itu sangatlah terbuka.

Jokowi dan Ahok umpamanya. Sebagai orang nomor satu dan dua di Jakarta ini, peluang untuk korupsi tentu begitu besar. Namun mereka masih setia kepada janji mereka. Mereka juga tetap menunjukkan ketegaran mereka sebagai pemimpin yang anti korupsi. Mereka masih menggunakan akal sehat dan hati yang bersih, bukan sebaliknya menggunakan dengkul dan (maaf) pantat yang mudah tergiur oleh godaan korupsi. Otak mereka masihlah sehat, bahwa uang negara, uang rakyat, tentu semuanya itu adalah demi kepentingan dan kesejahteraan rakyat semata, dan bukan untuk kenikmatan diri sendiri dan keluarga. Sama sekali tidak. Pemimpin yang jujur dan bersih harus sanggup menolak godaan korupsi.

Pemimpin-pemimpin seperti inilah yang mesti kita ancungi jempol dan dukung. Bangsa ini semakin terpuruk, jujur saja oleh karena salah satu alasan utamanya adalah masih begitu banyaknya pencuri dan maling yang duduk berkuasa dan menjadi pejabat publik. Berapa puluh atau bahkan ratus triliunan yang sudah dicuri mereka? Itu bukan jumlah yang sedikit. Lantas apakah kita akan tinggal diam melihat negara kita digerogoti dan dihabisi oleh orang-orang yang seharusnya melindungi dan menyejahterakan kita?

Gaya Ahok Marah dan Gebrak Meja

Marah-marah dan Gebrak Meja, Itulah Gaya Ahok
14007549101965558192“Mikir!” (Sumber gambar: Ahok gebrak meja — www.article.wn.com)
Dalam beberapa kesempatan, saya selalu bicara dan menulis tentang “style” Ahok yang di luar pakem itu. Saya bilang bahwa Ahok sebaiknya tidak mengubah gayanya itu. Ini jelas. Sebab kalau nggak marah-marah dan gebrak meja ya bukan Ahok namanya. Bukankah karena gayanya ini, maka ia terasa begitu serasi dengan Jokowi? Perpaduan yang sungguh harmonis. Dua karakter yang saling mengisi dan melengkapi. Setelah Soekarno – Hatta rasa-rasanya belum pernah ada lagi duet yang seterkenal dan sefenomenal itu. Apalagi dalam kelas gub-wagub. Kenangan Soekarno – Hatta mungkin hanya bisa didekati oleh duet Jokowi – Ahok. Siapa yang tidak tahu dan kenal Jokowi – Ahok. Duet ini akan dikenang dalam sejarah pemimpin Jakarta. 

Marah itu perlu. Bicara lantang itu perlu. Berteriak dan gebrak meja itu pun sangat diperlukan. Toh belum pernah ada yang mati atau terluka akibat dimarahi Ahok. Dan, belum ada meja yang rusak akibat digebraki Ahok. Semuanya masih aman dan terkendali. Lantas kemudian apa pasal saya bilang Ahok mesti mempertahankan gayanya itu? Tanpa gayanya itu, bisa jadi Ahok sudah “digilas” oleh kelakuan para birokrat kotor dan korup di Jakarta yang ganas ini. Tanpa gayanya itu, Ahok mungkin saja tidak akan menjadi seperti apa adanya dia saat ini.

Jakarta ini sudah terlalu lama dibelenggu oleh kekakuan dan kebuntuan komunikasi antara atasan dan bawahan. Bahkan antara pemimpin dan rakyat yang dipimpin. Antara penegak konstitusi dan konstituennya. Kebuntuan dan kekauan ini salah satunya adalah olehkarena komunikasi satu arah peninggalan orde baru. Setiap kata yang keluar dari mulut pemimpin kala itu laksana titah, jangan pernah dibahas, jangan pernah dibantah. Antara rakyat dan pemimpin juga terpampang jarak yang amat sangat tinggi, luas, dan tebal. 

Jokowi dan Ahok membongkar semua “kasta kepemimpinan” dan memberi ruang komunikasi menjadi semakin dalam. Antara pemimpin dan yang dipimpin bagaikan tak berjarak lagi. Nah, ada dua cara membongkar kebuntuan itu. Yaitu dengan cara Jokowi, turun ke bawah dan berkomunikasi dua arah langsung di lapangan. Cara kedua, adalah dengan cara Ahok, yaitu marah dan menggebrak meja ketika tidak memperoleh jawaban yang jelas, dipermainkan bawahan, dan dibodoh-bodohi bawahan. Dua cara itu sangat benar dan baik. Mereka yang terkesan dan juga yang terusik dengan cara Jokowi – Ahok ini menandakan bahwa ada dampak yang ditimbulkan. Ini penting dan perlu dalam sebuah komunikasi.

Tuesday, April 29, 2014

Membuat Judul Tulisan

“If you wait for inspiration, you’re not a writer, but a waiter.”
Saya ingin kembali menulis ah! Sebab seperti ujar-ujar di atas yang bilang begini, bahwa jika Anda menunggu inspirasi datang dulu baru menulis, maka Anda bukanlah seorang penulis melainkan seorang penunggu. So, jangan tunggu, menulislah. Maka dari itu saya ingin menulis tentang sesuatu yang ada hubungannya dengan tulisan. Yaitu tentang judul pada sebuah tulisan.

Isi sebuah cerita terpampang pada judulnya. Judul adalah wahana untuk meneropong isi. Oleh karenanya, memberi judul pada sebuah tulisan sangatlah penting. Judul adalah objek paling awal yang menuntun calon pembaca mau membaca isinya atau tidak. Memilih dan memberi judul ibarat memberi ‘nafas kehidupan’ awal pada sebuah tulisan. Lho kok? Lha iya. Kalau umpamanya judul kurang atau tidak menarik sama sekali, dan kemudian tidak ada yang baca, ya artinya tidak ada kehidupan dari segi pembaca. Padahal isinya bisa jadi sangat menghidupkan dan amat berbobot. Kira-kira seperti itu.

Orang dinilai dari penampilan pertamanya. Ketika kita bertemu seseorang maka penilaian pertama yang muncul adalah lewat penampilan kita, pakaian yang kita pakai, dan bahasa tubuh kita. Sebuah tulisan dinilai pertama kali adalah dari judulnya. Judul melahirkan antisipasi dan ekspektasi. Ia juga, sangat mungkin akan melahirkan rasa tertarik dan rasa tidak tertarik. Artinya orang bisa jadi tidak suka membaca isi tulisan, karena melihat judul yang hambar. Dengan judul juga, dapat menuntun seseorang untuk membuka isinya, atau tidak.
Judul tulisan juga ibarat sihir. Ia dapat menyihir calon pembaca untuk membuka dan membaca isi tulisan. Judul yang menyihir, adalah sebuah keniscayaan bila kita ingin tulisan kita dibuka dan dibaca.
Coba sekarang mari kita lihat, kira-kira mana dari ketiga judul novel ini yang sangat merangsang dan menantang untuk dibaca?
The World’s Room
They Who Get Shot
A Farewell to Arms

Seorang penulis terkenal Ernest Hemingway memilih dan yakin bahwa judul novel yang pertama dan kedua adalah yang menarik. Dan dari dua judul itulah kemudian ia akan memilih salah satu yang paling menarik. Bukankah ia benar? Karena memang judul ketiga, A Farewell to Arms kurang menarik, kurang menggigit, dan kurang merangsang dibanding dua judul pertama.

Sunday, April 20, 2014

Caleg Gagal yang Siap Jadi Gila



1397475443421828777
Caleg Gila? (source: www.lugasberita.com)

“I am free, no matter what rules surround me. If I find them tolerable, I tolerate them; if I find them too obnoxious, I break them. I am free because I know that I alone am morally responsible for everything I do.” ― Robert A. Heinlein
Setiap kita mesti bertanggungjawab atas apa yang telah kita buat. Hanya kita, yang harus mempertanggungjawabkan kepada Tuhan apa yang sudah kita buat, yang kita sementara buat, dan akan buat nantinya. We are morally responsible for everything we do. Semua kegilaan kita yang menyeruak muncul akibat frustasi dan depresi, adalah juga tanggungjawab kita, bukan orang lain.
Pemilu legislatif sudah usai, dan sampai sekarang, sedikit demi sedikit mulai bermunculan ke permukaan berbagai caleg gagal yang jadi caleg gila, atau yang akan segera jadi caleg gila. Pastinya, belum ada data resmi berapa banyak caleg gagal yang mesti diinapkan di RSJ, namun jumlahnya semakin meningkat.

Fakta sudah berbicara lebih dari cukup. Dari berbagai pemberitaan di media seluruh Indonesia, nampak jelas bahwa caleg gagal yang bermetamorfosis menjadi gila, ataupun yang sekedar berpotensi menjadi gila sudah semakin banyak. Tidak sedikit juga yang mengunjungi paranormal untuk minta petunjuk. Ini yang saya bilang sebagai political disorder. Sakit luar biasa akut yang menjadikan mereka sebetulnya tidak layak menjadi wakil Anda dan saya. Menjadi wakil kita.

Sebelum pileg dimulai, mereka acap kali mengunjungi dukun biasa serta dukun politik demi mencapai tujuan utamanya, sekali lagi bukan sebagai wakil rakyat, tapi dengan tujuan memenangi pileg DEMI DIRI SENDIRI. Saya lihat di TV, ada dukun yang pasang harga dari jutaan, miliar, bahkan 1 triliunan untuk level Presiden. Ia jamin, kalau pakai jasanya, pasti jadi sesuai yang dinginkan. Masalahnya, kalau ada 5 calon Presiden bayar 1 triliuan, apakah kemudian Indonesia akan mendapatkan 5 Presiden sekaligus? Luar biasa. Ya, luar biasa menggelikan. Apakah ada jaminan caleg-caleg model begini memang dapat berfungsi sebagai wakil kita? I don’t think so.

Nah, para caleg-caleg inilah yang ketika gagal, maka berpotensi besar menjadi gila. Implikasinya sangat kentara dan sudah tercium baunya. Apa itu? Bila gagal, maka apapun yang sudah dikeluarkan akan diupayakan untuk diambil kembali, bila perlu dengan memakai segala macam cara. Makanya saya amat sangat yakin, untuk memuluskan jalan mencapai kemenangan, mereka-mereka itu juga niscaya akan dengan senang hati menghalalkan segala cara. Tidak ada ketulusan di sana. Dan, tidak ada kemurnian untuk menjadi wakil kita. Maka kita semestinya patut berbela sungkawa sedalam-dalamnya, bila mendapatkan wakil-wakil seperti mereka itu. Kita harusnya malu. Kita mestinya kecewa.

Thursday, April 10, 2014

Media Asing Memandang Jokowi Seperti?

 Jokowi di Mata Media Asing


1395313611684973472
Setelah Jokowi resmi ditetapkan sebagai capres PDIP, namanya kembali langsung menjadi bahan pembicaraan dimana-mana. Sama seperti ketika Jokowi pertama kali tampil untuk DKI1. Mulai dari kedai kopi tingkat desa sampai café-café mentereng di ibukota mengulas tentang dirinya. Mulai dari tingkat kecamatan sampai ke dunia internasional. Nama Jokowi memang benar-benar memberi efek yang luar biasa, makanya munculah istilah Jokowi Effect

Media luar negeri juga tak mau ketinggalan mengulas tentang fenomena sosok Jokowi, dan segala kemungkinan menjelang pemilu Presiden dengan tampilnya sosok Jokowi ini. Media besar asal Amerika Serikat Washington Post umpamanya memuat sebuah tulisan yang isinya adalah mengenai ‘Jokowi Effect‘. Tulisan tersebut membahas mengenai fenomena politik di Indonesia sejak penetapan Jokowi sebagai capres oleh PDIP, tentang elektabilitasnya, dan harapan masyarakat.

Menurut Washington Post, Indonesia adalah negara yang sangat demokraris, dengan sebuah sistem yang bisa mengakodmodasi banyak partai. Sejak tahun 1999 partai di Indonesia jumlahnya tidak menentu. Partai pemenang pun tidak gampang ditentukan. Bayangkan saja, di Amerika negara yang begitu besar hanya memiliki tiga partai. Dua partai dengan kekuatan yang sangat besar serta berimbang, dan satu lagi adalah partai independen. Kita di Indonesia punya belasan partai.

Poin yang harus digarisbawahi adalah biasanya setiap partai akan menggandeng sejumlah pihak sehingga muncul kontrak tertentu yang mengikat untuk menduduki otoritas kekuasaan. Namun jika benar ‘Jokowi Effect‘ itu ada, maka PDIP tak perlu membangun kontrak politik terlalu banyak untuk memenangkan Pemilu. Ia sudah kadung disukai dan dicintai rakyat banyak. Itu kontrak tertinggi Jokowi. Ya, mengikat kontrak dengan rakyat banyak.

Di sana tertulis demikian, “Right now the big news in Indonesia is the long-anticipated announcement that Jakarta Governor Joko Widodo will enter the race for president. Widodo — universally known as “Jokowi” among Indonesians — is by some degree the most popular of the many candidates for presidency this fall, which include a series of retired generals, businesspeople, and party apparatchiks.”

Katanya pada tataran tertentu maka Jokowi adalah calon yang paling popular dibandingkan calon-calon lainnya, termasuk di dalamnya para pensiunan jendral, pengusaha, pemimpin partai politik, dan lain sebagainya.

Monday, April 7, 2014

Jokowi di Mata Sosial Media

1395401910186248918
Jejaring sosial adalah sarana ampuh dan luar biasa untuk mempromosikan barang, juga diri. Bahasa sederhana saya, melalui media sosial kitapun sebetulnya dapat ‘menjual diri’, lebih kasar lagi bahwa kita dapat ‘melacurkan diri’ untuk itu. Seperti yang dapat Anda baca di sini: http://media.kompasiana.com/new-media/2011/07/28/melacurkan-diri-untuk-personal-branding-383489.html
 
Di dunia politik misalnya, menggunakan media sosial dan segala macam bentuk jejaring sosial yang ada, sudah bukan lagi barang tabu dan bukan barang baru. Semakin hebat Anda mensosialisasikan ‘barang dagangan’ Anda, akan semakin terkenal Anda. Ini adalah keuntungan politikus yang hidup di era keemasan dunia informatika seperti saat ini. Sangat menarik untuk dibahas, bagaimana manusia mengubah pola komunikasinya melalui mediasi-mediasi teknologi. Tentunya juga, ini akan menjadi pengalaman yang amat sangat pantas didokumentasikan oleh siapapun. 

Twitter dan Facebook, selain Kompasiana, adalah dua sarana mediasi itu, dimana orang-orang dapat bertemu ‘secara maya’, bertumbuh, bercinta, berkarya, bahkan sampai mencuri, menipu dan merusak sekalipun. Dua sarana tersebut, kini juga dipakai sebagai ladang berkampanye yang murah biaya, namun besar pengaruhnya. Sebagai contoh, Prabowo memaksimalkan peran itu dengan tepat dan jitu. Dia adalah satu-satunya politisi Indonesia yang memiliki jumlah follower di FB sebegitu banyaknya (hampir 5 juta orang), dan yang kemudian masuk dalam list 5 besar politisi dunia paling banyak di-follow. Ia tentu tau betul memanfaatkan media sosial.

Di Twitter, lihat saja politisi mana yang paling banyak followernya, dan yang paling sering berkicau, tentu akan menuai banyak hits. Mereka tentu paham betul pengaruh media sosial dalam memomulerkan diri. Artinya, semakin banyak pengikutnya dan kicauan terhadap dirinya, akan semakin memomulerkan yang bersangkutan.

Di Indonesia, kita punya Kompasiana. Media yang satu ini sangat unik. Dalam bahasa saya, Kompasiana adalah gabungan antara FB, Twitter dan Kaskus. Semua akan Anda dapatkan di sini. This is the one stop station, you can get anything you want here. Bahkan, ‘menjual’ serta ‘melacurkan’ diri, di sinilah tempat yang paling tepat. Dijamin akan laku keras. Dijamin akan terkenal.

Wednesday, March 19, 2014

Di Indonesia: Orang Kaya Semakin Kaya, yang Miskin Bertambah Miskin

Jurang Antara yang Kaya dan yang Miskin Semakin Lebar
Menurut catatan di Majalah Forbes ada sederetan nama orang terkaya dunia di tahun 2014 ini asalnya dari Asia. Dari daftar nama tersebut (data orang terkaya dunia 2014 versi Forbes), maka setidaknya ada 10 orang Indonesia yang juga ikut masuk dalam 1.000 orang paling kaya sejagat raya ini.

Sebut saja nama-nama miliuner Indonesia yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Ada pengusaha pemilik Grup Djarum, Budi Hartono yang kekayaannya sudah menembus angka USD 7,6 miliar atau setara Rp 88 triliun. Ada pula saudaranya Michael Hartono yang memiliki kekayaan sebesar USD 7,3 miliar. Berikut juga, ada Mochtar Riady dengan kekayaan menyentuh angka USD 2,5 miliar, kemudian juga Sukanto Tanoto dengan kekayaan USD 2,1 miliar dan nama-nama orang terkaya lainnya.

Masuknya orang Indonesia dalam daftar orang terkaya sejagat rasa-rasanya bukan sesuatu yang perlu terlalu kita bangga-banggakan. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi turut punya andil dalam membuat harta kekayaan mereka semakin berlipat ganda. Namun ada hal lain yang terkadang mengerenyitkan dahi kita, memunculkan berbagai bentuk keprihatinan secara kolektif. Bahwa ternyata, peningkatan harta kekayaan orang-orang kaya di negeri ini tidak serta merta dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat miskin di Indonesia. Justru Nampak jelas gap (atau jurang pemisah) yang begitu lebar antara si miskin dan si kaya. Yang kaya semakin kaya, yang miskin makin terpuruk dalam kemiskinan. Sesuatu yang sungguh ironis.

Meskipun paparan angka-angka dari Badan Pusat Statistik (BPS), serta kegirangan para penguasa negeri ini mengatakan bahwa mereka sukses menekan angka kemiskinan, akan tetapi ada banyak pihak yang meragukannya, dan justru beranggapan sebaliknya. Di sisi yang lain juga, BPS juga tidak bisa menyembunyikan data ketimpangan antara orang kaya dan orang miskin yang justru semakin lebar itu.

Dampak dari sebuah ketimpangan banyak sekali, misalnya kelompok yang miskin akan merasa iri dan frustasi menghadapi keadaan tersebut. Imbas dari ketimpangan yang semakin meluas dan melebar juga pada tataran tertentu dapat mengancam stabilitas nasional. Ini amat berbahaya bila tidak diatasi dan dicarikan jalan keluar. 

Propaganda bahwa orang miskin di negeri ini sudah dientaskan sedemikian rupa tidak akan pernah sanggup menisbikan kemiskinan itu sendiri, bila tidak diikuti tindakan nyata mengentaskan orang miskin dan mempersempit gap antara yang kaya dan yang miskin. Mestinya pemerintah kita menyadari sepenuhnya bahwa indikator keberhasilan pembangunan ditentukan oleh tingkat penurunan ketimpangan. 

Mengatasi ketimpangan antara yang miskin dan yang kaya harus menjadi agenda utama dan prioritas pertama siapapun yang bakal terpilih menjadi presiden negeri ini nantinya. Dalam RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) lima tahun mendatang, di samping penurunan kemiskinan dan pengangguran, harus juga mencantumkan penurunan ketimpangan dari sekian persen menjadi sekian persen. Dan harus diupayakan untuk mencapai target tersebut. Indikator-indikatornya pun haruslah jelas.