Monday, December 19, 2011

Media Sosial Sebagai Nabi Baru

Saat ini perkembangan media sosial (Social Media) semakin pesat dan bertumbuh kembang laiknya tanaman-tanaman bibit unggul yang bertumbuh sangat cepat, dan sangat pasti di tanah yang subur dan selalu dipupuki. Pesatnya media sosial tentu akan membawa dampak menguntungkan sekaligus merugikan, tergantung siapa dan dari sudut pandang mana ia melihatnya. Cotoh kecil saja, media sosial akan sangat mungkin merugikan dan mengambil alih peran promosi lewat media cetak, melangkahi fungsi salesman atau salesgirl, walau tentu saja ini belum sepenuhnya benar dan diakui banyak pihak. Belum lagi dampaf negatif bagi para pengguna belia, yang banyak memanfaatkan media sosial secara serampangan dan asal-salan. Untuk banyak tujuan tidak berfaedah.

Tapi perkembangan pesat media sosial juga pada sisi lain akan sangat menguntungkan para pegiat di bidang ini, termasuk mereka yang menjadikan sarana ini sebagai “alat untuk mencari keuntungan sebanyak mungkin”, katakanlah para online marketer, baik secara perusahan maupun individually. Juga yang kerjaan sehari-hari adalah penggerak media sosial. Semakin besar lahan ini, semakin menguntungkan mereka.

Nah, lalu apakah peran ini bisa disikapi secara bijaksana dan serius oleh para pelakunya? Itu juga tentu saja akan menjadi pertanyaan setiap kita. Terkadang kepesatan pertumbuhan media sosial tidak diiringi kesiapan mental dan wawasan para pelakunya, oleh karena itu jangan heran kalau banyak juga menuai hal-hal negatif di balik euphoria social media ini. Secara signifikan ia kadang terlalu meroket sampai-sampai menawarkan sesuatu yang utopis, terlalu tinggi untuk digapai dan dipraktikkan. Tapi juga ada kalanya ia begitu membumi, sampai-sampai tukang bakso dan tukang ojek pun merasakan manfaatnya dengan sangat.

Hati-hati Kekeliruan Dalam Berbahasa Inggris

Bahasa bukan hanya serentetan kata yang membentuk sebuah kalimat yang dimengerti. Bahasa ternyata juga adalah alat representasi sebuah adat, sebuah budaya, sebuah negara atau komunitas tertentu. Cara berpikir, dan kebiasaan-kebiasaan dapat juga terlihat dari bahasa (language) dan the way people talk. Dengan kata lain juga, bahwa menerjemahkan suatu bahasa tidaklah segampang yang kita kira. Sebaliknya juga, betapa bahasa sangat dipengaruhi oleh kondisi-kondisi di atas tadi. Karena itu saya yakin bahwa it’s not that easy to master one language.

Beberapa hari yang lalu saya menonton acara TVRI tentang menggunakan Bahasa Indonesia. Acara yang bagus, mengajak kita untuk menggunakan dan mencintai Bahasa Indonesia. Acara itu dipandu oleh 3 wanita cantik (termasuk Mbak Maudy Koesnadi) dan seorang bapak sebagai nara sumbernya. Mereka membahas dan mengkritisi tentang berbagai penggunaan bahasa asing di beberapa restaurant di Indonesia. Bahwasanya, alangkah lebih eloknya kalau semua kata-kata bahasa asing itu disebutkan saja dengan padanan kata Bahasa Indonesianya. Seperti dinning room seharusnya ruang makan. Atau welcoming drink yang seharusnya ada padanan bahasa Indonesianya, misalnya saja dengan menyebutnya sebagai minuman penyambutan. Appetizer mestinya disebut saja sebagai pemancing selera. Main menu (atau kalau di Amerika main course) padanannya juga ada, yaitu menu makanan utama. Nah, lucunya ada seorang pembawa acara wanita keliru menyebut makanan penutup atau hidangan akhir sebagai desert bukannya dessert (baca: disert). Padahal desert itu artinya gurun. Pelafalan itu penting, sebab banyak kekeliruan terjadi karena salah eja, salah tulis, salah kutip, ataupun salah mengartikan.

White House for Protest?

Banyak pilihan untuk berwisata. Apapun dan kemanapun pilihan kita, tentu saja ada alasan masing-masing kenapa pilihan tersebut kita ambil. Kali ini saya ingin mengajak Anda untuk mengunjungi Gedung Putih (White House), yang merupakan tempat nomor satu di Amerika. Ia menjadi nomor satu, karena di tempat inilah semua presiden Amerika ‘bekerja’ dan tinggal secara bergantian. Di bawah atap gedung inilah orang nomor satu itu berteduh.

Gedung ini menjadi menarik bukan hanya karena arsitekturnya yang bergaya Georgia Neoklasik, tapi juga kejadian-keadian di seputaran gedung ini. Gedung yang sudah berdiri selama tidak kurang dari 200 tahun ini tepatnya berada di Pennsylvania Avenue. Washington DC. Menurut catatan, bahwa yang menjadi arsitek pembangunan gedung ini adalah seorang warga Amerika keturunan Irlandia bernama James Hoban.


Nah, di dalam gedung putih ini ada ruangan yang dinamakan Blue Room. Ruangan ini dikenal juga sebagai pusat dari Lantai Negara. Selama bertahun-tahun, bentuk oval dari ‘Ruang Biru’ selalu saja menarik perhatian siapapun yang melihatnya. Secara turun temurun Blue Room ini telah  menjadi tempat spesial bagi presiden untuk secara resmi menerima tamu. Atau juga kunjungan resmi dari kepala-kepala negara dan pemerintahan negara lain.

Lalu di ruang mana orang nomor satu di Amerika itu bekerja? Ada sebuah ruang bernama Oval Office, di situlah tempat yang menjadi kantor pribadinya. Ruang ini terletak di tengah West Wing, dari sini juga presiden bisa langsung masuk ke Ruang Kabinet. Kalau ada pidato khusus yang sering ditayangkan TV, hampir selalu mengambil tempat di ruangan kerjanya itu. Icon keseluruhan gedung putih sebenarnya ada di Oval Office ini.
Semenjak beberapa tahun terkahir, jarak kunjungan wisatawan semakin dibatasi. Tapi bagi para wisatan mungkin saja itu bukan soal, sebab masih banyak tempat wisata lainnya di seputaran DC yang tak kalah menarik. Bahkan bagi saya, mengunjungi gedung putih tidak melulu adalah untuk melihat gedungnya. Yang lebih menarik adalah apa yang sedang terjadi di sekitarnya.

Sunday, October 30, 2011

Little Story About Love

You Are The One and Only! 

I love that about you. I cherish the fact that you understand me so well and that I know you just about as well as I could ever know anyone.
It seems like I’m always searching for a way to tell you how wonderful I think you are!
And I thought that maybe this letter could help me….

I write this just for you, for being someone whose soul is so inspiring. This is a “thank you” for having a heart that’s so big and a mind that is open. And a spirit that I really love. You know well that every step in my life here in America or back home in Indonesia, always and always getting better because of you. Because of the ‘togetherness’ of us. Because of the understanding of you. And because the chance you gave me.
There will never be a day when I won’t wish the world for you. And I hope you always keep planting the seeds of your dreams, because if you keep believing in them, they’re sure to blossom for someone who’s as marvelous as you.
Honey, one of the most special places in my heart will always be saved for you. Everyone needs someone who is always there and always caring. Everyone needs someone to encourage them, to believe in them, and to share with them. Lucky me, I have you. It’s really a blessing to have you in my life. You are the one and only. You are “my everything”.
Thanks honey bunny ‘buchu-buchu” for bringing me happiness when I’m so tired and so frustrated here in a hectic environment. In a work place though in the city. Thanks for listening to the words I want to say. I appreciate you and love you more than I can write that down here. In this limited piece of paper (or laptop). Thanks for being everything you are to me, and for doing it so beautifully.
The more often I think about you, the more wonderful I realize you are! Whether I’m alone, or we’re talking on the phone, or we’re talking a long walk. I know how much we both care. And I cherish knowing that it will always that way.

Learn English From Animal?


Belajar bahasa Inggris bisa dari mana saja. Bahkan kita bisa mulai belajar tentang apa sebutannya dalam bahasa Inggris untuk setiap suara yang keluar dari mulut binatang.
Contohnya begini, orang yang berbicara terlalu cepat dan tak jelas apa yang dibicarakan atau dikatakannya, maka orang itu sering dijuluki berbicara gibberish. Nah, kalau binatang, apa sih yang suaranya suka gibber (mericau)? Tentu saja monkey. Monyet itu mengeluarkan suara gibber atau juga chatter (mengoceh). Jadi sesama monyet juga sering chat lho.

Para burung hantu (owls) yang kalau di Minahasa dikenal sebagai burung Manguni mengeluarkan suara scream (memekik) sambil screech (menciut-ciut). Makanya hati-hati kalau di antara kita ada yang suka darah tinggi dan doyan ber-scream ria ketika lagi bertengkar dengan suami, istri, atau dengan siapa saja, periksa diri jangan-jangan masih punya kekerabatan sama burung hantu tuh.

Thursday, October 6, 2011

Bahasa Inggris yang Keliru

English: Gampang Keliru, Kelirunya Gampang.

Ketika kita berbicara dengan penutur asli atau English speaking people, kadang-kadang lidah kita mesti digesek-gesek atau digasak-gasak dulu. Kenapa ya? Karena meskipun katanya sudah benar kalau lafalnya keliru mereka bisa menangkapnya lain. Banyak kegagalan kita berkomunikasi dengan mereka justru disebabkan karena pronunciation yang keliru. 

Banyak sekali contoh kesalahan mengucap atau melafalkan kata dalam bahasa Inggris, sebut saja beberapa diantaranya: Ketika kita mengucapkan kata said maka pastikan untuk melafalkan huruf “d” dengan jelas, jangan sampai ketukar dengan huruf “t”, karena di telinga mereka kata yang kita ucapkan akan terdengar sebagai set. Arinya sudah pasti jauh berbeda. Atau ketika mengucapkan kata Loose dan Lose. Pastikan untuk mengucapkan huruf “s” pada kata Loose dengan bunyi yang halus. Nah, untuk kata Lose huruf “s”nya diucapkan dengan tekanan lebih berat, seakan-akan berbunyi “z”. Dua huruf “o” berurutan juga dibaca “u”.
Masih banyak kata-kata lainnya yang terkadang kalau salah ucap membuat yang menangkapnya bisa keliru juga. Memang lidah kita kadang kaku melafalkan beberapa kata dalam bahasa Inggris. Ada beberapa pembiasaan yang semestinya kita lakukan kalau memang ingin pengucapan kita tepat. Misalnya pengucapan kata yang ada “th”nya. North, South, Then, Fifth dan lainnya. Th pada kata-kata seperti itu harus jelas terdengar. Bukan hanya huruf “T”nya doang, atau juga kadang menjadi “zen” pada kata then.

Tuesday, October 4, 2011

Hati-hati Mengartikan Bahasa Asing.

“Melakukan kekeliruan itu manusiawi.”
“Menunjukkan kepada seseorang bahwa ia keliru adalah hal biasa, namun menyadarkannya akan kebenaran itu adalah luar biasa.”John Locke.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki saya di Amerika, saya benar-benar terhenyak dan tersadar. Ternyata apa yang selama ini saya kuasai dan yang saya yakini yaitu bahwa kemampuan berbahasa Inggris saya sudah lebih dari cukup, paling tidak di atas rata-rata. Excellent dan mendekati ‘perfect’, ternyata nothing. Semakin saya merasa bahwa saya mengerti dan tahu banyak, semakin sadar saya bahwa lebih banyak yang saya tidak (belum) tahu dan paham.

Pertanyaan pertama yang pernah diajukan teman saya orang Amerika adalah: “Coba kamu sebutkan kalimat pendek dalam Bahasa Inggris yang di dalamnya terkandung semua abjad, A—Z.” Jelas saya bingung. Tak bisa dan tak siap ditodong seperti itu. Tiga hari berlalu, belum sanggup saya membuat kalimat pendek berisi semua abjad. Ia pun memberi tahu saya satu contoh sederhana yang di dalamnya terkandung semua abjad misalnya A quick brown fox jumps over the lazy dog.” Seekor musang coklat yang gesit melompat di atas anjing yang malas.

Cap Tikus Masuk Amerika?


Manhattan dan Cap Tikus.

Mungkin sebagian kita hanya mengetahui dan mengenal Manhattan NYC sebagai kota belanja dunia, kota yang tidak pernah tidur, sorga wisata, big apple, dan berbagai macam julukan lainnya. Kota yang memiliki tingkat kepadatan paling tinggi ini ternyata menyimpan sejarah unik tentang asal mula penyebutan atau munculnya nama Manhattan tersebut.

Bagi orang Indian New York adalah Manhattan. Mereka hanya mengenal New York sebagai Manhattan. Tapi nungkin tidak banyak yang tahu apa arti Manhattan bagi orang-orang Indian itu bukan? Manhattan atau Manna-ha-ta, bagi orang native Indian adalah “Tempat Kemabukan.” Nama ini dapat ditelusuri hingga ke tahun 1524 ketika Giovanni Verazzano, sang penjelajah dari Florentine, yang untuk pertama kalinya mendarat di tempat yang sekarang berada di ujung bawah New York City. Ia yang baru mendarat lalu menawarkan minuman keras yang dibawanya untuk dicicipi pertama kalinya oleh suku Indian. Semua orang bergembira, mereka mabuk dan bermabuk-mabukan. Kenikmatan duniawi meliputi mereka. Sejak saat itulah para pribumi menyebut pulau ini “Manna-ha-ta” atau “Tempat Kemabukan”.

Tuesday, September 27, 2011

Akibat Penduduk Bumi Makin Bertambah


Puluhan tahun lalu ada beberapa negara yang memberikan imbalan kepada setiap orang tua yang memiliki banyak anak. Bangsa-bangsa yang menjadi lemah akibat perang juga menggunakan berbagai metode kawin paksa untuk mendapatkan anak-anak. Banyak dari anak-anak tersebut dilatih untuk berperang. Di beberapa negara Asia dan Afrika masih memiliki tempat-tempat sakral di mana para istri yang tidak memiliki anak berdoa memohon kesuburan. Bahkan masih ada suku barbar yang menyembah penis. Kenapa? Karena ada anggapan bahwa “banyak anak banyak manfaat”.

Ada bahkan yang meyakini dengan amat sangat bahwa banyak anak, pastilah akan banyak keberuntungan.
Ketika ditanya, apa yang paling dibutuhkan Perancis, Napoleon Bonaparte menjawab, “seorang ibu.” Dan sebuah tempat tidur bayi pun pernah diletakkan di pintu Katedral Notre Dame di Paris. Kenapa sampai begitu? Jawabnya adalah karena mereka merasakan pentingnya menciptakan atau melahirkan bayi lebih banyak lagi. Semakin banyak anak-anak, apalagi kalau anak tersebut laki-laki maka akan semakin kuat suatu negara. Franklin Roosevelt, mantan Presiden Amerika menekankan pentingnya membesarkan anak dan menghormati orang tua yang memiliki keluarga besar.

Monday, September 5, 2011

Hati-hati, Bumi Kita Kian Panas!



Mungkin kita sudah tahu bersama bahwa topik “Global Warming” sudah menjadi percakapan yang sangat controversial bagi banyak orang. Para ahli pun berbeda pendapat akan hal ini. Dahulu, ada banyak orang yang tidak percaya bahwa temperature atau suhu bumi semakin meningkat secara signifikan. Sekarang, sebagian besar sudah menerima bahwa global warming (pemanasan global) itu memang nyata.
Suhu bumi pada satu abad terakhir ini memang terdeteksi meningkat secara teratur. Tapi Anda mungkin akan kaget kalau tahu bahwa peningkatan tersebut totalnya ‘hanya’ sekitar 1 derajat saja. Lho, kecil amat peningkatannya? Memang! Tapi bagaimana pun, perubahan satu derajat itu menghasilkan berbagai masalah besar! Lalu, para ilmuwan semakin terperangah, kenapa kaget? Karena pemanasan global itu akhir-akhir ini terjadi lebih cepat dari yang mereka perkirakan sebelumnya.

Bumi yang kita tinggali ini layaknya tubuh kita, sangat perlu untuk tetap berada pada batasan temperature tertentu untuk menjaga kelangsungan hidup. Seperti tubuh kita juga, bumi ini memiliki suatu mekanisme natural (natural mechanism) untuk mengontrol “suhu badan”nya tetap stabil. Hal itu disebut bomeostatis.
Gampangnya, mari kita lihat seperti ini: Radiasi sinar matahari menembusi atmosfer bumi, panasnya masuk dan “membakar bumi”. Tentu saja, kalau sinar matahari maha dahsyat panasnya itu diijinkan untuk langsung menembusi atmosfer bumi dan menyengat kita, terpangganglah kita. Manusia bakal persis ikan garam dijemur seminggu. Garing dan gepeng. Apa yang mencegah sinar matahari memanggang kita? Lapisan Ozon! Lapisan ozon (ozone layer) di bagian luar atmosfer inilah yang menjadi “saringan” sinar matahari. Ozon inilah yang memantul-balikan sebagian radiasi berbahaya dari sinar ultra violet itu, sekaligus “melindungi” bumi. Selain ozon, medan magnet juga melindungi bumi dari energy elektromagnetik matahari.

Sunday, August 28, 2011

Kenapa Banyak Artis Pilih Amerika?



Apa yang menyebabkan begitu banyak artis/penyanyi / grup musik (celebrity) Indonesia hijrah, sekolah atau belajar dunia acting di Amerika? Walau banyak yang sekedar jalan-jalan, tapi tidak sedikit yang memang berniat ke Amerika untuk belajar pun untuk menetap.

Menurut CelebrityNews begitu banyaknya artis yang sudah dan berniat untuk sekolah akting di Amerika beberapa diantaranya adalah Luna Maya, mantan presenter dahsyat, yang sementara belajar serius dan menekuni dunia kesutradaraan. Ia berniat untuk fokus sekolah mengenai sutradara di Amerika Serikat.

“Sekolah broadcast mungkin saja, why not? Kalau ada uangnya aku mau ngambil short course di New York atau LA karena mereka kan pusatnya. Paling enggak pergi selama enam bulan atau setahun untuk belajar teknis menjadi sutradara. Kalau feel sama rasa kan belajar dimana saja bisa. Tapi kalau teknis kan perlu dipelajari,” (Luna Maya: CelebrityNews).

Social Security Bagi Warga Indonesia? Why Not...

Pertanyaan simple ini pernah saya tanyakan atau usulkan kepada Dr.Ryaas Rasyid seorang pakar otonomisasi dan desentralisasi pada waktu ia berkunjung ke Amerika Serikat beberapa tahun lalu. Saya bilang kenapa tidak sebaiknya setiap penduduk Indonesia diusahakan untuk memiliki Social Security Number (Nomor Jaminan Sosial) atau di Amerika dikenal dengan SSN (SS#). Beliau bilang hal itu sudah pernah ia pikirkan tapi masalahnya teknologi di Indonesia belum sepenuhnya bisa mendukung.

Pertama mari kita buka-buka dulu, makanan macam apa sih SS itu? Social Security adalah suatu nomor unik yang diberikan bagi setiap warga negara sejak ia lahir, atau juga bagi para pendatang (immigrant) yang secara khusus mendapat ijin kerja (working permit) atau juga kepada mereka yang telah pindah kewarganegaraan. Nah, SSN ini unik dan setiap yang memiliki nomor ini akan mendapatkan kartu yang dinamakan Kartu Jaminan Sosial atau Social Security Card. Tidak ada pemilik SSN yang memiliki nomor yang sama. Bagi warga Amerika atau pun pendatang yang bekerja di Amerika, SSN ini adalah “nyawa” mereka. Tanpa ini segala sesuatu akan sulit dan terhambat. Ibarat mobil tanpa roda. Tidak bisa bergerak, kalaupun bisa jalannya pasti terseok-seok lalu mogok.

Thursday, June 30, 2011

Menertawakan Diri Sendiri Itu Penting.

Menertawakan Diri Sendiri Itu Penting.

Kepala orang ini tiba-tiba ada di dalam tubuh seekor kalkun raksasa. Di hari yang lain ia secara tiba-tiba berada di dalam kamar operasi dan bertindak sebagai seorang dokter, duh! Betapa kagetnya pasien ketika melihat siapa dokter di hadapannya itu. Ia juga pernah makan ikan hias hidup-hidup saking laparnya dan tidak ada lunch bagi dirinya. Ikan itu diselip di antara roti tawar miliknya berikut selembar sayur kol. Itulah beberapa adegan lucu seorang Rowan Atkinson yang berperan sebagai Mr.Bean.

Kita sering dibuat tertawa oleh adegan-adegan film lucu. Salah satunya adalah film Mr.Bean ini. Adegan lucu Mr.Bean bahkan membuat kita terbahak tanpa mendengar ia berbicara sama sekali. Gerakannya, mimik mukanya, tatapannya dan gerak-geriknya saja sudah membuat kita geli dan tertawa.

Tertawa itu sehat. Tertawa itu obat awet muda, bahkan ada pendapat seperti itu. Tertawa itu membuat hati kita senang. Bahkan pun ketika kita sementara menertawai orang lain. Memang naluriah dasar manusia adalah menjadikan orang lain itu sebagai objek, termasuk dalam hal tertawa. Artinya, kita begitu senang ketika bisa menertawakan orang lain. Waktu kita kecil, melihat teman kita terjatuh kita tertawa secara spontan, merasa lucu. Setelah dewasa pun kita tertawa ketika melihat ada orang lain yang “jatuh”, walau kita bukan tertawa lucu lagi, melainkan tertawa senang. Senang lawan kita jatuh, kalah, tersingkir, terluka dan masih banyak lagi.

Kemudian marilah kita lihat acara-acara TV yang sering membuat kita tertawa sekuat-kuatnya, terpingkal-pingkal ketika melihat kejadian-kejadian spontan di acara-acara seperti “spontan”, “big laugh”, “America’s funniest home video” dan masih banyak lagi. Orang mengerjai orang lain membuat kita tertawa. Orang dikerjai orang lain membuat kita tertawa. Orang kena musibah kita tertawai. Memang ada juga video kelucuan sering dengan sengaja dibuat (dibuat-buat) untuk memancing tawa. Tapi bagaimana kalau kita ada di posisi orang-orang yang ditertawai itu?

Sunday, June 12, 2011

Disable atau Diffable?

Mereka Berbeda Tapi Tetap Sama

Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, satu dari rata-rata enam penduduk di hampir tiap negara adalah penyandang cacat atau penyandang kelainan bawaan. Kita tidak menduga bahwa jumlah penyandang cacat itu begitu banyak, sebab ada kecenderungan bahwa mereka tidak tampil di depan umum. Ada keluarga yang menyembunyikan anaknya yang cacat untuk melindungi dia dari rasa malu. Akibatnya anak ini malah betul-betul menjadi malu dan hilang rasa percaya diri. Ada gedung sekolah yang bagus, namun tidak menyediakan lerengan (ramp) dan toilet untuk kursi roda. Seolah-olah menolak siswa berkursi roda, padahal siswa yang cacat justru sering terbukti lebih cerdas dan lebih ulet. Ada perusahaan yang apriori menolak pelamar yang cacat.

Pengalaman saya di Amerika telah membuka mata hati saya lebih lebar lagi. Memahami yang berbeda itu sebagai suatu keindahan. Perbedaan itu indah kalau diterima dengan hati yang terbuka. Saya melihat bahwa sungguh-sungguh orang-orang cacat itu dihargai. Di tempat antrian selalu saja ada jalur khusus untuk orang cacat. Di parkiran (parking lot) selalu ada tempat khusus untuk orang cacat, kalau Anda parkir mobil di tempat khusus orang cacat, siap-siaplah untuk bayar ticket denda yang tidak sedikit dari polisi. Di mall-mall ada jalur khusus untuk orang cacat. Di rumah sakit, di tempat ibadah, di perpustakaan, di apartemen-apartemen, di wc umum pun ada tempat duduk khusus/ruang khusus dan di mana-mana selalu ada tempat khusus untuk orang yang cacat. Mereka itu special.

Friday, June 10, 2011

Lebih Mengenal English Idiom

“Masuk Kandang Kambing Mengembik, Masuk Kandang Singa Mengaum”, ada lagi “Di Mana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung”. Itulah beberapa contoh pribahasa yang sering kita jumpai. Nah, kalau pribahasa diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris secara literal maka sangat pasti orang yang berbahasa Inggris tidak akan pernah memahaminya. Bagi mereka sangat aneh kalau harus masuk ke kandang kambing dan mengaum, lalu mengapa pula harus masuk ke kandang singa? Mati dong diterkam. Pribahasa yang makna/artinya kurang lebih sama dengan itu harus sesuai konteksnya. Kalau di Amerika dikenal dengan “If You In Rome, Do As Romans Do”. Dan itu sama dengan “Masuk Kandang Kambing Mengembik, Masuk Kandang Singa Mengaum”.

Memang mempelajari pribahasa atau frasa bahasa Inggris ( English Idiom or phrase) sangat menarik. Kadang lucu dan unik. Menggelitik. Tapi juga membuka wawasan kita. Mendapat pengetahuan baru dan seterusnya.

Saya akan coba menampilkan beberapa idiom yang sering dipakai atau digunakan secara umum. Kalau kita mendengar idiom A Blessing In Disguise tidak bolehlah menerjemahkannya sebagai Berkat Yang Tersamar. Karena arti sesungguhnya adalah sesuatu yang baik, indah, bagus yang nanti diketahui kemudian. Tidak langsung diketahui pada pandangan pertama.

Ada juga yang terdengar sungguh feminine, mari kita simak kalimat pribahasa ini
A Picture Paints a Thousand Words artinya: Presentasi melalui visualisasi adalah jauh lebih mengena dan deskriptif daripada sekedar berkata-kata. Lalu ada yang mirip dengan itu: A Picture is Worth a Thousand Words . Seperti yang bisa dilihat melalui video lucu dari Youtube ini,.




Saturday, June 4, 2011

Belajar Dari Sosok Oprah Winfrey



Siapa tidak kenal Oprah Winfrey…Acara The Oprah Winfrey Show ditayangkan oleh TV hampir di seluruh dunia. Majalah The Oprah Winfrey Magazine beredar sebanyak tiga juta eksemplar. Lalu ada Oprah Winfrey Book Club tempat Oprah membahas buku. Buku yang dibahas langsung laris. Bahkan buku yang sudah seabad seperti Anna Karenina karangan Leo Tolstoy tahun 1877 langsung menjadi best seller lagi.

Salah satu acara TV Oprah mengangkat tema pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap anak kecil. Oprah berkata, “I speak from personal experience because I was raped by a relative.” Artinya, “Saya berbicara dari pengalaman pribadi sebab saya pernah diperkosa seorang kerabat.”

Realitas TV Show dan Wanita Cantik.

Realitas TV Show dan Wanita Cantik.

Program-program acara televisi seperti TV Show dan atau Reality Show sepertinya sangat erat dengan sosok wanita. Dalam arti bahwa wanita sering dijadikan “objek” demi rating atau popularitas. Sadar atau tidak memang daya tarik suatu acara dengan ada tidaknya sosok wanita ternyata besar pengaruhnya. Ada daya tarik tersendiri. Ada magnet tersendiri. Lihat saja acara-acara seperti Bukan Empat Mata. Acara yang menempati ranking nomor wahid paling popular itu. Setiap kali tayang, pasti ada bintang tamu wanita cantiknya. Bahkan Tukul selalu didampingi dua wanita di setiap penampilannya. Kemudian lihat juga Opera Van Java (OVJ), hampir pasti di setiap tayangan pasti ada bintang tamu wanita cantik, bahkan yang tidak bisa acting pun hadir di situ. Saya pernah nonton seorang bintang tamunya bahkan tidak bisa membalas percakapan dengan si Sule. Ia hanya cekikikan, sedikit senyum lalu tertawa geli. Ada juga yang sangat grogi dan malu-malu. Ada yang asal sudah tampil, semuanya beres. Everything else-- it’s ok.

Tapi itulah realitanya. Di situlah daya tariknya. Tanpa wanita seakan semuanya terasa hambar. Bayangkan saja Kompasiana ini tanpa kehadiran wanita. Tanpa kehadiran wanita, belumlah lengkap. Ibarat kopi tanpa gula, atau nasi tanpa lauk.
Tapi kadang realita itu terlalu dieksploitasi sedemikian rupa demi rating dan money. Di Amerika terlihat jelas program-program TV yang terlalu mengkomersialisasikan wanita, tanpa memperhitungkan negative side dari tayangan-tayangan seperti itu.

Tuesday, May 31, 2011

Kendala Bahasa Inggris dan American Slang



Kalau suatu saat punya kesempatan jalan-jalan ke Amerika, atau berbicara dengan native speaker asal Amerika jangan sampai salah mengartikan apa yang mereka ucapkan. Kebanyakan orang Amerika kota sering menggunakan slang atau juga kata-kata plesetan yang bukan ungkapan resmi. Bahkan ada kata-kata yang sama sekali tidak akan ditemukan di kamus.

Banyak kisah unik ketika berbicara dengan mereka yang tinggal di daerah perkotaan yang padat atau pun juga mereka yang tinggal di desa yang sangat terpencil. Dialek juga kadang terasa membingungkan, orang selatan menyebut kata “park” dengan mereka yang dari utara Amerika sangat berbeda terdengarnya. Sengaunya kadang membingungkan para pendatang yang tidak terbiasa mendengarnya. Jangankan pendatang (turis), yang penduduk asli Amerika saja kadang bingung. Misalnya cara bicara orang dari provinsi (state) Rhode Island (RI) dan Texas untuk kata-kata tertentu sulit dimengerti oleh mereka yang tinggal misalnya di New York dan NJ.

Monday, May 30, 2011

Dokter Kita Mungkin Harus Belajar Dari Patch Adams

Dokter Kita Mungkin Harus Belajar Dari Patch Adams


Pengalaman tidak sedap sungguh ketika menghadapi dokter yang galak, tidak ramah dan kasar. Tapi mungkin kita hanya bisa melongo dan menunduk sedih. Tidak bisa apa-apa karena kita yang datang berobat dan merekalah yang mengobati kita. Padahal dokter harusnya bisa memahami kondisi pasien tidak hanya secara fisik tapi juga psikologis sang pasien. Harusnya dokter menciptakan hubungan yang akrab dengan pasien, agar tiap pasien merasa dirinya dihargai dan ia bergembira. Bukankah hati gembira adalah obat yang manjur?

Saya mengalami pengalaman yang tidak sedap itu ketika mengantar tante saya ke rumah sakit terkenal di kota saya. Rumah sakit dengan semboyan “Pelayanan Kami Adalah Yang Terbaik” serasa hanya sedap dipandang mata. Tapi kenyataannya dokter yang bekerja di situ kurang memahami apa arti semboyan itu. Bayangkan, waktu itu sudah agak sore dan tante saya sudah menempati ruang lantai dua sejak jam 1 siang tapi pelayanan kok hanya dari para suster, mana dokternya? Nah, akhirnya datanglah dokter setenga baya itu sembari mulai memeriksa tante saya. Setelah itu dokter bilang, “oke, malam ini ibu harus nginap di rumah sakit karena masih ada pemeriksaan lebih intensif besok pagi”.

Saya masih menemani tante saya sampai pukul 8 malam. Ketika saya berencana untuk keluar buat cari makan, tiba-tiba pintu ruang terbuka dan ada dokter muda, cantik tapi kelihatan agak galak masuk, dan sambil kaget dokter itu bilang dengan ketusnya, “lho, kok tante masih disini? Pulang saja. Tante itu tidak apa-apa, bikin penuh ruangan saja! ‘Kan bisa di pakai buat pasien lain.” Lho, balik saya yang jadi kaget. Apa RS ini tidak ada koordinasinya? Dokter yang satu bilang supaya tinggal, kok dokter muda ini dengan galak dan kasarnya ngusir tante saya pulang? Apa haknya? Saya bilang “Dok, tante saya bayar dan datang berobat bukan untuk dibentaki dan dikasarin. Ada dokter lain yang suruh tante saya nginap!”. Ia terlihat tergesa-gesa hanya menulis beberapa list dan ngeloyor pergi sambil nyeletuk “Sorry, saya tidak tahu!!”

Ini bukan kali pertama. Teman saya juga menceritakan pengalaman mengantar neneknya berobat. Pelayanan dokter katanya sangat mengecewakan. Karena neneknya bergerak lambat---maklumlah sudah tua renta tentu saja lambat---ia dibentak-bentakin dokter, “Cepat dikit oma, saya juga harus menangani pasien lain!”. Dokter kok galak amat sih. Pikir saya. Harusnya mereka memiliki kesabaran, keramahan dan santun. Bukankah katanya dokter adalah pekerjaan mulia seperti juga guru?

Saya tidak mau terjebak dalam sikap generalitatif. Memanglah tidak semua RS sama, demikian pula tidak semua dokter sama seperti contoh dua dokter tadi. Dan kejadian seperti ini bukan hanya di Indonesia. Di rumah sakit sekelas JFK (John F Kennedy Hospital) Di NJ Amerika pun punya beberapa kasus yang sama. Ketika saya mengantar teman kerja saya yang kesakitan luar biasa ---belakang saya baru tahu ia mengalami hiatus hemia atau sakit maag yang sangat akut---pelayanan mereka justru sangat lambat. Padahal saya bilang tangani saja sembari saya memberesi urusan administrasinya. “You are not going to let him suffer or die first, are you?” Malah dengan ketusnya salah seorang dokter bilang “So what?”

Saya jadi Robin William, aktor terkenal peraih beberapa piala Oscar yang bermain dalam film Patch Adams dan berperan sebagai Patch Adams. Ia adalah seorang mahasiswa kedokteran yang unik. Tapi film ini dibuat berdasarkan kisah nyata di Virginia. Sekitar tiga jam naik mobil ngebut kalau dari tempat saya Edison, NJ. Dalam kisahnya si Patch itu paling pandai di kelasnya dan termasuk peringkat atas. Ia juga sangat suka melucu. Tapi hobi melucu itu berakibat buruk baginya. Dekan sekolah kedokteran menganggap bahwa perbuatan melucu Patch telah melanggar peraturan rumah sakit. Akibatnya, Patch terancam dipecat, padahal wisuda tinggal beberapa bulan lagi.

Banyak contoh dalam film itu bagaimana Patch melucu, lihat saja bagaimana ia masuk ke bangsal anak-anak penderita kanker. Muka mereka pucat. Rambut mereka sudah rontok. Wajah mereka sayu. Mereka hanya terbaring lemas. Lalu Patch mendekati seorang anak, lalu ia tersenyum dan menyapa dengan mimik muka lucu. Anak ini tertawa. Anak-anak lain di bangsal itu mendengar lalu menoleh. Patch kemudian mulai melucu bagaikan badut di tengah bangsal. Semua anak bersorak. Mereka tertawa terpingkal-pingkal sampai melompat-lompat di ranjang.

Patch juga melucu dalam hal lain. Ia mendengar bahwa ada seorang oma yang sudah beberapa hari tidak mau makan. Patch meminta staf dapur menyiapkan sebuah bak besar berisi mi kuah. Bak itu lalu diletakkan di halaman rumah sakit. Disoraki oleh puluhan perawat, Patch menggotong oma itu. Lalu mereka berdua mencemplungkan diri ke dalam bak berisi mi kuah itu.

Apa sebenarnya falsafah yang melatarbelakangi Patch melucu? Ia berkeyakinan bahwa tugas seorang dokter bukan sekedar menyembuhkan, sebab tidak semua penyakit bisa disembuhkan. Tugas utama seorang dokter adalah membuat pasien merasa hidupnya bermutu. Patch berkata, “A doctor’s mission shoud be not just to prevent death, but also to improve the quality of life.” Artinya, Bahwa misi seorang dokter tidak hanya mencegah pasien supaya tidak meninggal, tapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup si pasien. Bikinlah pasien merasa dihargai dan bermartabat.

Falsafah Patch ini mendorong ia melakukan beberapa hal. Diantaranya ia menyapa pasien dengan menyebut nama, sebab pasien adalah seorang pribadi bukan kasus. Juga ia berusaha mengurangi rasa cemas pasien dengan bersikap ramah dan santai. Memang dokter selalu sibuk dan ia harus berpikir serius. Tetapi bukankah sebenarnya dokter bisa bersikap lebih ramah dan lebih santai terhadap pasiennya? Sunggulah besar pengaruh senyum dan keramahan dokter terhadap pasiennya. Saya alami dan yakini itu.

Tetapi apa yang diperjuangkan Patch ternyata dihadang oleh dekan sekolah kedokteran. Apakah Patch bisa lulus? Ataukah malah ia dipecat? Kalau Anda berkunjung ke Virginia dan menyaksikan sebuah rumah sakit yang kebanyakan pasiennya berekreasi di taman, bermain-main riang gembira, bercakap-cakap secara berkelompok di kebun maka Anda akan segera tahu apakah patch dipecat atau sebaliknya. Lebih gampangnya nontonlah film Patch Adams itu. Lucu dan menghibur sekaligus mengharukan. Banyak pesan moral untuk profesi dokter.

Kalau saja para dokter yang sangar, kasar dan tidak ramah itu menonton film Patch Adams mungkin mereka bisa merubah sikap dan cara pandang mereka terhadap pasien.Jangan merasa bahwa karena pasienlah yang datang berobat maka martabat mereka jadi lebih rendah daripada mereka yang mengobati para pasien itu. Kalau saja lebih banyak dokter yang bersikap seperti Patch Adams yang mengutamakan sikap ramah dan pendekatan personal alangkah indahnya rumah sakit-rumah sakit kita. Patch telah mendobrak sikap kaku profesi dokter sebagaimana Briptu Norman mendobrak sikap kaku dan sangar para polisi di mata masyarakat. Bukannya maksud Patch agar semua dokter harus jadi seperti badut. Dokter harus berpikir sungguh-sungguh dan serius. Tetapi apakah seorang dokter tidak bisa sedikit lebih ramah? Apakah dokter dilarang untuk tersenyum pada pasien?



Catatan: Film Patch Adams ini diangkat dari kisah nyata Hunter Doherty “Patch” Adams, M.D (lahir May 28 1945di Washington D.C.) Ia kemudian menjadi seorang American Physician yang terkenal, seorang aktivis sosial yang rajin, menjadi diplomat dan penulis buku serta penulis artikel di sejumlah surat kabar. Ia mendirikan Gesundheit! Institute tahun 1971. Setiap tahun ia mengorganisir sebuah grup sukarela dari berbagai penjuru dunia untuk berkeliling dunia ke berbagai negara, mereka mengenakan pakaian seperti badut dengan tujuan membawa hiburan dan humor kepada para anak yatim piatu, para pasien rumah sakit-rumah sakit dan orang lain yang menderita batin.

Michael Sendow

I’m Sorry, Excuse Me? Thank You!

I’m Sorry, Excuse Me? Thank You!


Mungkin ada tiga ucapan paling laris di Amerika. Apa itu? Mereka adalah “I’m sorry”, “Excuse me”, dan “Thank You”. Ucapan-ucapan ini jugalah yang paling banyak saya jumpai, entahkah di tempat kerja, lingkungan apartemen, pergaulan dan di mana saja. Sebenarnya makna yang tersirat dalam ucapan kata-kata itu dalam. Memang dalam keseharian sepertinya ucapan-ucapan itu hanyalah formalitas belaka.

Saya bukain pintu untuk seseorang pastilah akan menerima ucapan “thank you”. Memberi tempat duduk kepada seseorang di bis umum diucapin “thank you”. Hampir apapun yang Anda lakukan untuk seseorang dengan mudahnya mereka akan mengucapkan terima kasih. Ucapin selamat pagi dibalas “Thank you, good morning to you too”. Membeli sesuatu, membayar sesuatu pun diucapin “thank you”, terkecuali merampok jangan harap Anda akan menerima ucapan terima kasih. Bukankah akan ada perasaan terhargai dan dihargai bila seseorang mengatakan “terima kasih” terhadap apapun yang kita lakukan. Sekecil apapun itu?

Lalu ucapan “I’m sorry”. Sering sekali kata yang kemudian disingkat “sorry” ini diucapin di mana-mana. Mau duduk di sebelah seseorang dalam bis umum mereka ngomong “I’m sorry, can I sit next to you?” Bikin kesalahan besar bilang “I’m sorry”, buat kesalahan kecil berucap “I’m sorry”, bahkan tidak bikin kesalahan apapun tetap mengatakan “I’m sorry”. Pernah saya nabrak seorang ibu di depan pintu perpustakaan saking tergesa-gesanya ngejar waktu. Sebelum saya sempat minta maaf, ibu itu malah sudah duluan bilang “I’m sorry sir”. Padahal salah yang salah. Mau antri makanan bilang “I’m sorry”, mau nanya jalan ke polisi pun bilang dulu “I’m sorry officer”. Bahkan mau pulang duluan dari tempat kerja ngomong dulu “I’m sorry but I have to leave now”. Mengungkapkan rasa bela sungkawa banyak yang berujar “I fell so sorry about your lost” (di sini arti sorry bukan maaf tapi rasa prihatin. Turut merasakan duka cita). Merasa agak mengganggu seseorang? Katakan saja “I’m sorry to bother you” Nah, bukankah kita akan merasa “nyaman” ketika mengucapkan “maafkan saya”, lalu yang mendengarnya juga pasti akan respek dengan kata-kata kita.

Ungkapan “Excuse me” termasuk di deretan yang paling sering diucapkan. Anda akan banyak mendengar kata-kata ini di misalnya stasiun, mall, pusat kota. “Excuse me”nya orang yang lalu lalang mendahului Anda akan terdengar jelas di kiri-kanan. “Excuse me” atau permisi ini juga sering di pakai di ruang-ruang rapat misalnya “Excuse me, can I see your report Mike?” Pokoknya seabrek-abreklah penggunaan “excuse me” ini dalam lingkup formal maupun pergaulan sehari-hari. Bertanya marah pun seorang tante berujar dengan “Excuse me…what did you say?” dengan nada yang di tinggi-tinggikan. Teman saya memotong pembicaraan bos besar (mucho grande) dengan “Excuse me sir, I don’t wanna hear nothin’ coz what just happened isn’t my fault!”

Nah, secara berkelakar saya bilang ke teman saya karena terlalu banyak ucapin permisi maka Amerika dan dunia menjadi kian permisif. Tidak ada lagi yang mau mengakui kesalahan walau sudah terbukti bersalah. Apa pun---asal “senang sama senang” dan tidak merugikan siapa-siapa----silahkan saja. Apa pun asal “mau sama mau” dan “tidak saling memaksa”---nggak apa-apalah. Maka terjadilah budaya permisif itu dimana-mana. Janin di bunuh biasa. Kumpul kebo lumrah. Manusia di “cloning”, perang kimia dan nukir oke-oke saja. Virus HIV-AIDS “disebar-luaskan” nggak perlu dipertanyakan. Sangat permisif. Apa-apa boleh. Tapi ini cuma kelakar saya, entah benar atau pun tidak, itu cerita lain.

Lho, tapi bukankah makna kata “excuse me” ini juga paling doyan dipakai dan digunakan anggota dewan kita di Senayan sana? Tindakan permisif apa sih yang selalu dan selalu mereka lakukan yang justru tidak menyejahterakan rakyat? I’m sorry, I can’t tell you right now. Mungkin kali lain. Sekarang saya hanya pengen bilang saya lapar banget, mau cari makan dulu so you guys, please excuse me and I’m sorry can’t tell you more. Tapi thank you yah sudah membacanya sampai disini.

Michael Sendow

Friday, May 6, 2011

Do You Know How Important You Are to Me?

I know you probably wonder from time to time what you mean to me.
So I’d like to share this thought with you, to tell you that you mean the world to me.
Think of something you couldn’t live without…and multiply it by hundred.
Think of what happiness means to you…and add it to the feeling you get
On the best days you’ve ever had.

Add all up your best feelings and take away all the rest
…and what you’re left with is exactly how I feel about you
You matter more to me than you can ever imagine
And much more than I’ll ever be able to explain.


You are so important to my days
And so essential to the smile within me.
You’re like the answer to a special prayer
And I think God knew that my world needed you.
My world really need someone exactly like you.


Having someone like you in my life is like having a wish come true.
You are blessing and a miracle, such guiding light to shine my ways.
I can’t even begin to count all the times that special thoughts of you
Have brightened up the day, made me count my blessings.

There is a “thanks” I quietly say from time to time in my heart
Because you’re so important to me…really important.
I can’t live without you. I just can’t !
That’s how important you are to me. (Michusa)

Thursday, April 28, 2011

Lambang Keterbukaan---Lady Liberty

Hidup Majemuk---Statue of Liberty.


Berkali-kali saya mengunjungi patung liberty, tapi sepertinya tak puas-puasnya untuk menikmati sejuknya udara dan pemandangan alam yang asri di Taman Liberty. Dari taman ini kita bisa melihat patung Lady Liberty dengan jelas, sebelum kita menaiki boat untuk bisa mencapai lokasi patung itu yang agak ketengah, seperti lagi berdiri di suatu pulau kecil.

“Berikan kepadaku kaum lesu, kaum miskinmu, kerumunan jelatamu…
Yang mendamba napas merdeka, kaum celaka yang ditolak…
Di pesisirmu yang sesak…
Kirimkan mereka kepadaku, kaum yang tidak terlindung…
Yang diombang-ambing tak menentu…
Aku mengacungkan lampuku di sisi gerbang kencana.”

Demikian terjemahan syair Emma Lazarus yang terukir pada Statue of Liberty atau Patung Kemerdekaan di pelabuhan New York. Patung ini menjadi monument lambang keterbukaan dan kemajemukan falsafah gaya hidup Amerika.

Patung wanita yang disebut Lady Liberty ini dibuat di Perancis oleh pemahat Bartholdi sebagai hadiah dari yakyat Perancis kepada rakyat Amerika. Bagian demi bagian dari tubuh Lady Liberty ini dengan berat ribuan ton diangkut naik kapal. Pada tahun 1886 patung ini berdiri megah setinggi 92 meter di pulau kecil Liberty Island di perbatasan New York dan New Jersey. Di tempat inilah para korban yang selamat pada peristiwa tenggelamnya kapal Titanic ditampung sementara.

Dari jauh patung ini menjadi fokus pertama yang dilihat oleh jutaan imigran dari dek kapal ketika mereka mendekati pantai. Patung ini melukiskan wanita dengan rantai belenggu yang putus pada kakinya. Ia memakai mahkota dengan tujuh ujung melambangkan tujuh samudera dan benua. Tangan kanannya mengacungkan obor yang menyala. Tangan kirinya memegang loh batu bertuliskan: July IV, MDCCLXXVI, yaitu tanggal proklamasi kemerdekaan Amerika Serikat pada 4 Juli 1776.

Pengarang Emma Lazarus menulis syair ini sebetulnya bukan untuk diukir pada Statue of Liberty. Ia menulisnya tiga tahun sebelum peresmian patung itu. Puisinya baru diukir kemudian, yaitu lima belas tahun setelah patung ini berdiri.

Kalau bukan untuk patung ini, untuk siapakah puisi ini ditulis? Emma menulisnya untuk para pembaca bukunya. Puisi yang dikutip pada patung itu hanyalah bagian akhir dari puisi seutuhnya. Puisinya yang lengkap berjudul “The New Colossus”.

Pesan puisi Emma adalah bahwa Amerika akan menjadi sebuah kolosus atau Negara Kolosal jika bersifat terbuka dan majemuk. Biarlah orang yang tertekan dan mendambakan kebebasan datang ke sini. Inilah negara bebas. Di sini tiap orang boleh menyatakan pendapat. Tiap orang boleh memilih agama yang disukainya. Tiap orang boleh berbeda. Biarlah orang miskin datang ke sini. Ini Negara demokratis. Di sini tiap orang punya kesempatan yang sama. Biarlah imigran dari segala penjuru datang ke sini. Meskipun berbeda bangsa, bahasa, budaya dan agama, tetapi di sini kita menjadi orang Amerika yang mempunyai impian yang sama, yaitu The American Dream. Di sini tiap orang berpacu dengan waktu mewujudkan impian itu, yaitu hidup maju dan bermutu. Setidak-tidaknya itulah harapan Emma dalam buku dan puisinya.

Masyarakat Amerika memang bersifat majemuk. Hampir tiap orang adalah keturunan asing. Saya memiliki teman-teman yang asal aslinya datang dari berbagai bangsa. Mulai dari Afrika, Asia sampai Eropa. Mulai dari Korea, Tailand, Jepang sampai Finlandia, Swedia dan Ukraina. Mulai dari Jawa, Bali, Aceh sampai ujung Sulawesi. Dari Sabang sampai Merauke. Akan tetapi sejauh mana hal itu sudah terwujud, setiap orang punya penilaian yang berbeda-beda.

Komunitas etnik ini sama sekali tidak menutupi jati dirinya. Sebaliknya, tiap etnik mempertahankan bahasa dan budayanya. Dan keaneka-ragaman itu adalah nilai tambah tersendiri. Orang Amerika tidak malu, malah bangga, bahwa masyarakatnya bersifat plural. Justru karena berbeda, semua diperkaya. Ketika tujuh astronot terbang ke ruang angkasa, ketujuh orang itu berasal dari tujuh etnik yang berbeda. Kemajemukan dimanfaatkan untuk kemajuan. Tiap pendatang asing (yang resmi) diberi kesempatan supaya kelak menjadi potensi yang berkontribusi.

Dimensi melindungi dan memberdayakan pendatang asing yang tak berdaya supaya kelak menjadi sumber daya, tersirat dalam kata-kata Emma Lazarus. Ia menyuarakan pembelaan untuk orang asing, karena kita juga dulu orang asing yang tak berdaya. Kata-kata Emma Lazarus telah menjiwai gaya hidup yang terbuka dan majemuk hingga kini. Ia sendiri tidak menyaksikan kejadian ketika syairnya diukir pada monument Statue of Liberty, sebab wanita pengarang keturunan Portugal dan Yahudi ini meninggal dunia empat belas tahun sebelumnya. Tetapi suaranya tetap bergema di tujuh samudera dan benua:

“Give me your tired, your poor, your huddled masses…
Yearning to breath free, the wretched refuse….
Of your teeming shore.
Send these, the homeless, tempest-toast to me,
I lift my lamp beside the golden door.”

Tuesday, April 26, 2011

Generasi Bingung

Generasi Bingung


Sambil tertawa beberapa orang dewasa menendang-nendang seekor kucing bagaikan bermain sepak bola. Kucing itu merintih kesakitan dan lalu mati tergelepar. Baguskah perbuatan mereka? Bisa jadi budaya di situ menganggap sikap kejam mereka terhadap kuncing sebagai perbuatan terpuji. Sebaliknya, dalam budaya lain itu merupakan perbuatan keji.

Itu adalah sebuah contoh tentang life values (hampir selalu ditulis dalam bentuk jamak). Nilai-nilai hidup adalah sejumlah sikap dan perbuatan yang kita junjung tinggi sebagai sesuatu yang patut dan mulia. Nilai-nilai hidup adalah kualitas yang kita anggap ideal untuk menjadi sifat, watak dan kepribadian kita. Nilai-nilai hidup yang kita pelajari dan kita anut menumbuhkan karakter, citra diri dan tujuan hidup kita. Nilai-nilai hidup menolong kita agar tidak bingung mebedakan mana yang baik dan mana yang keliru. Nilai-nilai hidup menghasilkan perilaku yang kita anggap baik dan juga dianggap baik oleh orang lain. Cirinya universal dan akseptabel menurut kemanusiaan yang beradab. Tapi semestinya kita sadar bahwa nilai-nilai hidup bukanlah bakat atau sifat. Riang atau murung adalah sifat dan pandai bernyanyi adalah bakat; bukan nilai hidup.

Apakah nilai-nilai hidup sama dengan moral? Hampir sama namun agak berbeda. Moral adalah bentuk primer yang mengatur hubungan antar orang supaya hubungan itu jangan menjadi kacau, buas dan biadab. Nilai-nilai hidup lebih luas dari moral. Harper Encyclopedia of Religious Education menulis, “Values is a broader term than morality since it includes not only moral values but aesthetic, cultural, educational, political and economic aspects as well.”

Samakah nilai-nilai hidup dengan agama? Tidak! Meskipun agama mengajarkan junjungan tertentu, namun junjungan itu belum universal. Seandainya sebuah agama mengajar umatnya untuk menista, mengejek orang-orang tidak berTuhan (atheis), maka junjungan itu hanya akseptabel dalam agama tersebut, namun tidak akseptabel di mata mungkin sebagian agama yang toleran terhadap orang ateis tersebut. Jadi belum bersifat universal.

Kalau begitu siapa yang menentukan nilai-nilai hidup? Yang menentukan adalah budaya kita, tepatnya budaya yang diteladankan kepada kita oleh orang tua, guru dan pemuka. Termasuk yang diteladankan oleh Nabi Muhammad, Yesus, atau Sidharta Gautama bagi para pengikutnya.

Nilai-nilai hidup itu bukan bawaan sejak lahir, melainkan produk dari pengaruh didikan yang kita terima. Sepanjang hidup kita. Sepanjang umur kita akan terus diwarnai oleh pengaruh itu. Namun usia yang paling peka dalam menyerap pengaruh itu adalah masa anak dan remaja.

Sekarang mari kita intip lebih jauh apa kira-kira contoh dari nilai-nilai hidup itu…Oooh ada banyak, diantaranya; Jujur, rendah hati, kerja keras, rasa tanggung jawab, adil, menghargai waktu, komitmen dan masih banyak lagi.
---Misalnya nilai dari hidup jujur itu. Jujur terhadap diri sendiri dan bisa dipercaya orang lain merupakan dasar integritas. Apa jadinya kalau tiap orang saling mencuri atau saling tidak jujur baik di sekolah, pemerintahan dan bahkan keluarga sendiri?
-----Atau nilai dari rendah hati. Rendah hati bukan rendah diri dengan selalu berkata “Aah, aku tidak bisa”. Rendah hati juga bukan berarti bangga. Ketika berprestasi kita patut bangga, namun tidak menghina mereka yang lebih rendah prestasinya. Rendah hati adalah mau mengaku salah, tahu keterbatasan diri, bisa mengagumi orang yang lebih unggul dan bisa menempatkan diri pada kedudukan yang lebih rendah. (Hal mana belum dimiliki oleh kebanyakan pemimpin dan penguasa di negeri ini).

Bagaimanakah cara mewariskan nilai-nilai hidup? Yang pasti bukan dengan nasihat!. Nah, di sini letak persoalan dan kendala pendidikan nilai-nilai hidup kita. Hidup ini penuh dengan nasihat, petuah, wejangan, pengarahan; tetapi apakah orang-orang itu sendiri melakukannya? Apakah mereka yang berkata-kata itu juga melakukan apa yang mereka ucapkan? Apakah mereka menjadi teladan?

Coba sekarang kita lihat kenyataannya… Ayah menyuruh anak rajin belajar, namun ia sendiri jarang baca buku. Guru mengajar murid untuk adil, namun ia sendiri pilih kasih. Pemuka agama berseru-seru agar umat saling menghargai, namun ia sendiri iri dan menjegal rekannya. Polisi menegur pengemudi, tetapi ia sendiri melanggar aturan lalu-lintas (banyak itu). Para pembesar berpidato agar rakyat cinta negeri ini, namun ia sendiri mencuri uang Negara (apalagi yang beginian). Wakil rakyat berkoar-koar memperjuangkan kesejahteraan rakyat tapi uang triliunan rupiah diperuntukkan demi kenyamanan dan gengsi mereka semata!

Maka bingunglah sebuah generasi. Mereka mendengar nasihat, namun tidak melihat teladan. “Jadi mana yang betul? Kenapa ia sendiri tidak melakukannya? Katanya tidak boleh, tetapi kenapa dibiarkan saja? Bukankah itu salah, tetapi kenapa lalu semuanya itu dianggap lumrah?”

Sebuah generasi sedang bingung. Jika sebuah generasi menjadi bingung, mungkinkah ia mewariskan nilai-nilai hidup dan teladan yang tidak membingungkan bagi generasi berikutnya?

******


Dedicated with respect to all my fellow pemerintah dan juga para wakil saya yang sebentar lagi bakalan duduk nyaman disinggahsananya. Di gedung yang kata teman saya “lambang ketamakan”, “simbol egoistis” dan “ menara kesombongan” itu.

Wassalam.
-MS-

Winnetou dan Old Shatterhand



“Eeh, itu rambutku! Siapa yang memberikannya kepadamu?” teriak Winnetou keheranan sambil mundur selangkah ketika melihat seikat potongan rambut di kaleng sardine itu.
Old Shatterhand menjawab tenang, “Roh Agung yang Mahabaik mengutus seorang penolong yang tidak dikenal ketika kamu diikat di pohon oleh suku Kiowa. Penolong itu tidak mau diketahui jati dirinya demi keselamatannya. Tetapi kini penolong itu tidak perlu menyembunyikan diri lagi. Percayakah kamu sekarang bahwa sebetulnya sejak dulu aku bukan musuhmu, melainkan sahabatmu?”

Winnetou terbelalak heran bercampur haru, “Jadi….kamulah yang malam itu melepas tali pengikatku? Oh, sungguh kami berutang budi kepadamu. Berkat jasamu aku masih hidup!”

Demikian sebuah adegan dari buku Winnetou. Memang beberapa bulan sebelummya pada suatu malam Old Shatterhand merayap sejengkal demi sejengkal mendekati pohon tempat Winnetou akan dibantai. Saat itu Old Shatterhand mengerat sepotong rambut Winnetou yang panjang itu sebagai bukti bahwa ia adalah penolong Winnetou.

Sejak itu kedua pemuda ini menjadi sahabat. Winnetou adalah kepala suku Apache dan Old Shatterhand adalah pemuda Amerika keturunan Jerman yang bekerja sebagai pengukur tanah. Mereka bersahabat karib. Winnetou tidak pernah ragu-ragu mempertaruhkan nyawa demi melindungi Old Shatterhand, demikian pula diperbuat Old Shatterhand terhadap Winnetou.

Persahabatan kedua insan itu melalui suka dan duka telah menjadi kisah empat jilid buku dengan hampir dua ribu halaman karya Karl May (1842-1912) yang digemari jutaan pembaca mulai Albert Einstein sampai Mohammad Hatta. Saya termasuk di antara jutaan orang yang suka dengan buku itu. Cerita ini pertama kali terbit tahun 1875 di Jerman.

Siapa Karl May? Ia lahir dalam keluarga penenun miskin di Jerman. Karena kurang gizi ia langsung buta sejak lahir. Ia juga menderita sesak napas. Ia diperlakukan keras oleh ayahnya dengan tujuan menanamkan sifat ulet dan tangguh.
Dalam kebutaannya May mendapat penghiburan dari cerita-cerita neneknya. Tiap hari ia larut dan hanyut dalam cerita. Raut muka neneknya tidak bisa dilihatnya. Oleh sebab itu daya imajinasi May tumbuh dengan kuat.

Pada usia enam tahun May mulai bisa melihat. Ia bersekolah dengan baik dan kemudian menjadi guru. Namun ia mulai mengidap gangguan jiwa berupa keterpecahan pribadi. Perilaku akibat gangguan kejiwaan membuat May dijebloskan ke dalam penjara. Selama beberapa tahun di penjara ia dibimbing dan ditempa.

Selepas dari penjara, dengan bekal daya imajinasi dari neneknya, ketangguhan dari ayahnya dan kecakapan mengarang yang ia peroleh selama di penjara, May mulai menulis, dan terus menulis sampai usia 70 tahun. Sekitar 70 judul buku telah lahir dari tangannya.

Apa keistimewaan buku May? Pertama, ceritanya merupakan imajinasi namun berdata factual. Uniknya, data factual itu belum pernah dilihatnya. Cerita Winnetou berkisah tentang perang dan damai orang Indian di gunung dan lembah Amerika, padahal May belum pernah ke Amerika, apalagi melihat orang Indian. Namun data faktualnya sangat akurat dari segi antropologi dan geografi. Kedua, May mengarang mundur. Ia mulai dengan menulis bab penutup lalu mundur ke bab pembuka. Ketiga, ia menempatkan dirinya sendiri dalam cerita yang ia tulis. Old Shatterhand adalah personifikasi dirinya.

Keistimewaan yang lebih mendalam pada buku May adalah teologinya. Ia menggambarkan manusia sebagai Edelmensch, yaitu manusia yang berjiwa mulia. Buku May merupakan apologi (artinya, pembelaan teologis) terhadap filsafat Nietsche yang mengajarkan bahwa manusia adalah Ubermensh, yaitu manusia yang bernafsu menjadi unggul. Menurut May kehebatan manusia justru terletak dalam kemauan untuk berdamai dan bersahabat. Edelmensch ajaran May adalah insan sesuai pengakuan. Insan yang diakui dan yang mengakui. Jiwa mulia itu tampak dalam diri Winnetou dan Old Shatterhand yang selalu mencari damai dan memulihkan hubungan dengan semua suku Indian dan orang kulit putih.

Pada suatu hari Winnetou dan Old Shatterhand menyiapkan penyerbuan untuk membebaskan pemukiman desa kulit putih yang akan dibantai oleh suku Ogellallah. Old Shatterhand memimpin penyerbuan ini namun diambil alih oleh Winnetou demi keselamatan Old Shatterhand.

Winnetou berfirasat bahwa dalam pertempuran ini ia akan tewas. Sambil memeluk Old Shatterhand berbisiklah Winnetou, “Hari ini aku berangkat ke tempat di mana Putra Manitou Agung telah menyiapkan banyak tempat bagi kita. Di sana kita akan bertemu lagi. Di sana tidak ada perbedaan kulit putih dan kulit merah. Tidak ada lagi pembunuhan dan pembantaian. Yang ada hanyalah kebahagiaan tanpa akhir.”

Firasat Winnetou ternyata benar. Ia tertembak. Old Shatterhand mendekap Winnetou di pangkuannya. Darah terus mengalir. Winnetou berdesah, “Nyanyikan bagiku Kidung Ratu Surgawi.” Para pemukim dengan anak-anak yang baru dibebaskan mengelilinginya dan menyanyikan “Ave Maria” dengan kalimat akhir “Semoga aku berlalu dalam kesalehan, dan bangkit nanti dalam kebahagiaan.”

Bibir Winnetou yang kaku bergerak-gerak. Old Shatterhand merapatkan telinganya. Berbisiklah Winnetou dengan suara halus, “Aku yakin, namaku akan disebut-sebut di Kompasiana…karena secara tidak langsung aku adalah kompasianer tertua…dan aku harap rumah sehat itu akan tetap sehat. Damai. Kalaupun ada riak-riak, itu hanya sebagai bunga bakung dan bukan bunga kemboja si bunga kematian..…Semoga mereka mencontohi hubungan kita berdua Old Shatterhand, my friend!.....Selamat Tinggal!!”

Tuesday, April 19, 2011

Filsafat Bambu


“Ini dia batang bambu yang kuperlukan! Betul-betul besar! Mungkin ini yang terbesar di lereng Gunung Fuji ini,” kata petani itu kepada istrinya. Maka ditebanglah batang bambu itu.

Tetapi alangkah terkejutnya petani itu dan istrinya. Di dalam rongga batang bambu itu ternyata ada seorang bayi perempuan mungil seperti boneka. Dengan hati-hati mereka membawa bayi itu pulang dan merawatnya. Ia diberi nama Putri Bambu.

Putri Bambu memang ajaib. Hanya dalam beberapa tahun saja ia sudah tumbuh menjadi gadis jelita dan lemah lembut. Dari pagi buta sampai jauh malam ia rajin membantu keluarga petani itu. Seluruh penduduk desa menyukai dia.

Suatu ketika raja pun mendengar kabar tentang Putri Bambu. Lalu raja mengirim utusannya untuk meminta Putri Bambu pindah ke istana dan menjadi selirnya. Nah, kalau raja mencari selir, ceritanya menjadi seru. Cerita tentang Putri Bambu terdapat dalam beberapa versi di Jepang, Korea dan Tiongkok. Budaya di negeri-negeri itu menjunjung tinggi keistimewaan, keindahan dan kegunaan pohon bambu.

Coba kita lihat keistimewaannya. Mengapa bambu tidak tumbang atau patah batangnya ketika diterpa badai atau angin kencang? Apakah karena akarnya dalam? Bukan! Akar pohon pinus lebih dalam lagi. Apakah karena batangnya kuat? Juga bukan! Pohon ek dan jati jauh lebih kuat batangnya. Kalau begitu apa sebabnya bambu bisa bertahan terhadap angin kencang?

Rahasia ketahanan bambu terhadap angin kencang terletak pada sikapnya. Ketika diterpa badai, pohon-pohon lain berdiri kaku dan tegak seakan-akan menantang kekuatan angin. Akibatnya ranting dan batangnya bisa patah dengan mudahnya. Sebaliknya bambu justru merunduk dan menunduk. Bambu membiarkan dirinya diarahkan oleh tiupan angin sampai termiring-miring. Batang bambu bersifat lentur, yaitu bisa berlekuk atau melengkung. Sifat lentur itu menyebabkan pohon bambu mampu bertahan dalam badai dan topan. Sifat lentur itu yang menjaga bambu tidak mudah patah. Pohon lain berkonfrontasi terhadap angin, padahal bambu beradaptasi.

Bambu bisa menjadi guru. Oleh sebab itu bambu dijunjung dalam budaya Kung Fu Tse di Jepang, Korea dan Tiongkok. Dalam seni lukisnya bambu adalah lambang estetika. Dalam filsafatnya bambu adalah lambang ketahanan. Dalam pedagoginya bambu adalah lambang ketekunan. Selanjutnya karena rongga bambu kosong, maka bambu juga adalah lambang pengosongan dan pemurnian batin. Pokoknya, bambu adalah bagus dan berguna. Sebab itu lahir cerita tentang Putri Bambu.

Kembali kecerita Putri Bambu di atas, apa yang terjadi ketika raja menyuruh Putri Bambu pindah ke istana? Putri itu menulis surat, “Maaf baginda, hamba lebih berguna di desa daripada di istana.”

Raja kembali mengirim utusannya dan memberi lebih banyak hadiah untuk Putri Bambu. Tetapi Putri Bambu tetap menolak. Kemudian raja menyuruh pasukannya untuk memaksa Putri Bambu. Menghadapi ancaman raja, Putri Bambu cepat-cepat bersembunyi di hutan. Ia masuk ke dalam rongga pohon bambu. Dimanakah sekarang Putri Bambu itu? Sampai hari ini ia masih ada dalam rongga tiap pohon bambu. Kadang-kadang ia menampakkan diri pada orang yang betul-betul mencintai bambu.


Note:
Tidak dalam setiap hal sifat bambu bisa kita tiru. Pemerintah kita adalah contohnya, sering mereka menjadi dilemma pada situasi-situasi tertentu. Banyak anggota dewan yang (katanya) dalam hati mereka sebenarnya tidak setuju pembangunan “rumah baru” mereka. Tapi karena kebanyakan anggota pada setuju, maka akhirnya mereka menyetujui juga. Nah lho! Begitu banyak yang bersikap ikut arus, asal bapak senang, cari aman dan cari selamat.
Ikut arus akan kehilangan jatidiri, namun bertahan dan melawan aruspun akan hancur lebur.

Bunglon Berbatik

Bunglon Berbatik



Saya baru saja menyaksikan sesuatu yang langka. Apa itu ? Bunglon berbatik !. Ini kisah nyata yang saya alami sendiri. Saya lagi menjemur kemeja batik saya di pekarangan belakang rumah, kegiatan rutin yang saya lakukan supaya batik saya tidak kusut. Ketika hendak mengangkat batik saya beberapa jam kemudian, saat itulah saya lihat ada seekor bunglon lagi nangkring diatas batik saya dan lucunya ternyata benar kata orang bahwa bunglon itu bisa berubah rubah warna tubuhnya. Pada waktu itu saya ketawa sendiri melihat ada bunglon berbatik. Bentuk warna tubuh bunglon itu tepat mengikuti warna batik saya yang agak kecoklatan berbunga.

Bunglon adalah sejenis reptil yang termasuk ke dalam suku (familia) Agamidae. Bunglon meliputi beberapa marga, seperti Bronchocela, Calotes, Gonocephalus, Pseudocalotes dan lain-lain. Bunglon bisa mengubah-ubah warna kulitnya, meskipun tidak sehebat perubahan warna chamaeleon (suku Chamaeleonidae). Nah si bunglon ini bisa berubah dari warna-warna cerah (hijau, kuning, atau abu-abu terang) menjadi warna yang lebih gelap, kecoklatan atau kehitaman. Bunglon ini memiliki nama ilmiah Bronchocela jubata (Duméril & Bibron, 1837). Nama lainnya dalam bahasa Inggris cukup menyesatkan: bloodsuckers, karena pada kenyataannya kadal ini tidak pernah menghisap darah.
Dan ini keunikan serta kehebatannya bahwa di saat Bunglon merasa terancam , Ia akan mengubah warna kulitnya menjadi serupa dengan warna lingkungan sekitarnya, sehingga keberadaannya tersamarkan. Fungsi penyamaran demikian disebut kamuflase. Hal ini berbeda dengan "mimikri", yakni penyamaran bentuk atau warna hewan yang menyerupai makhluk hidup lain.

Melihat pemandangan langka itu saya teringat dan membayangkan bahwa betapa banyaknya ‘bunglon berbatik’ lainnya di negeri kita ini… Mereka tersebar dimana saja, ratusan jumlahnya, atau bahkan ribuan atau ratusan ribu atau entah berapa banyak lagi..Mereka kelihatan sangat hebat, sangat gaya, sangat mentereng dengan kemeja batik yang mereka pakai. Para bunglon berbatik ini ada dihampir semua propinsi di Indonesia dan mungkin disetiap instansi dan organisasi apapun tak terkecuali organisasi politik dan sosial dinegeri ini. Bahkan mereka banyak berkeliaran di gedung-gedung Wakil Rakyat, dipusat-pusat pemerintahan negara dan daerah. Tidak sedikit yang bercokol di department-departement strategis di pusat maupun daerah. Atribut bunglon berbatik ini memang cocok ditujukan bagi mereka para abdi negara, wakil rakyat, pelayanan masyarakat dan lain-lainnya itu yang tabiatnya persis seperti bunglon. Apa itu..? Di saat Bunglon merasa terancam , Ia akan mengubah warna kulitnya menjadi serupa dengan warna lingkungan sekitarnya, sehingga keberadaannya tersamarkan. Fungsi penyamaran demikian disebut kamuflase !
Bukankah tidak sedikit para abdi negara, wakil rakyat serta yang memegang kekuasaan di pusat-pusat pemerintahan akan dengan seketika berubah menjadi penjilat, pecundang, munafik dan ‘berubah warna’ ketika keadaan mereka terancam, atau ketika karir, jabatan, kedudukan, posisi, keuangan dan pangkat mereka dalam posisi terancam ? Ada berapa banyak dari mereka yang bisa dan mampu serta mau mempertahankan kredibilitas serta integritas janji mereka ketika diperhadapkan pada posisi-posisi tersebut ? Ada berapa banyak yang masih mau peduli dengan suara rakyat, keberpihakkan terhadap kepentingan rakyat dan kepentingan umum ? Bukti nyata para bunglon berbatik ini sangat terlihat ketika lagi ramainya kasus si Gayus dan mafia pajak, juga ketika Sri Mulyani di-lengserkan secara halus oleh orang-orang yang haus kekuasaan, harta dan jabatan itu. Mereka yang takut keberadaannya terancam. Mereka yang lebih suka jadi penjilat dan “yess boss” demi menyenangkan atasan dan mengamankan posisi. Tapi jangan salah, para bunglon berbatik ini paling hebat kalau berkoar-koar dan berteriak-teriak didepan publik dan masyarakat seakan-akan kepentingan rakyatlah yang selalu mereka perjuangkan…Aaaagh dasar bunglon !
Ada tiga “P” yang tumbuh berkembang di dunia yang rakus akan kekuasaan ini yaitu Pejabat, Penjilat dan Penjahat. Ketika seorang pejabat menjadi penjilat maka otomatis ia akan menjadi penjahat. Kenapa ? Karena ia telah menjahati kepentingan orang banyak. Kepentingan masyarakat dan lebih memilih untuk memelihara kepentingan sendiri, mengenyangkan dan berusaha membuat buncit perut sendiri, Rakus, serakah untuk mengisi belanga sendiri tanpa peduli hak dan kepentingan orang banyak.

Menyimak sejarah politik Indonesia sama artinya dengan menyimak ulang konsep politik Machiavelli. Politik Indonesia pertama-tama bukan memikirkan bagaimana pejabat dan penguasa mengatur tata hidup bersama, melainkan bagaimana mereka mengatur tata pemerintahan sedemikian rupa sehingga ia tetap dicintai, dikagumi dan diandalkan rakyatnya. Politik Indonesia lebih memikirkan bagaimana kekuasaan dipertahankan selama mungkin daripada bagaimana Indonesia dibangun sebaik mungkin. Dengan cara apapun termasuk cara-cara kotor seperti berkamuflase ala bunglon. Sementara itu, institusi-institusi politik juga dikembangkan sedemikian rupa sehingga menghasilkan formasi politik yang mendukung para penguasa dan pejabat tinggi. Kekuasaan politik berpusat di tangan pemerintah/penguasa. Institusi perwakilan politik rakyat secara efektif bekerja untuk melegitimasi kebijakan pemerintah. Fungsinya sebagai wakil rakyat (atau saya tulis huruf besar WAKIL RAKYAT) tidak dilaksanakan secara memadai. Dengan demikian, kekuasaan penguasalah yang dilanggengkan oleh rekayasa politik yang banyak kita jumpai kalau kita peka. Para politisi di anggota dewan misalnya jelas terlihat bahwa kebanyakan adalah penganut Machiavellian juga. Sebab sangat terlihat mereka tampaknya berjuang keras melanjutkan aspirasi rakyat. Waktu yang lalu bahkan mereka berteriak, melompati meja dan saling dorong atas nama rakyat. Namun siapakah yang tertawa senang melihat aksi itu? Rakyat? Saya kira tidak. Rakyat justru malu melihat para wakilnya seperti para preman berdasi. Kita mesti bertanya lagi. Apakah itu sungguhan ataukah hanya kamuflase semata? Apakah terdorong oleh nurani kemanusiaan ataukah hanya untuk mempertahankan kedudukannya sebagai anggota dewan. Memperjuangkan aspirasi rakyat ataukah berdusta dan menarik simpati rakyat? Tinggal kita sendiri yang harus pintar-pintar menilai tindak tanduk mereka. Jangan biarkan para bunglon berbatik tersebut mengelabui kita. Tapi kita juga mesti jujur bahwa tidak semua mereka seperti itu. Pasti masih ada segelintir yang memiliki nurani bersih dan memegang teguh prinsip serta memiliki integritas yang mumpuni. Yang berpihak pada orang banyak bukan pada diri dan kantong sendiri.

Kalau saja para bunglon berbatik ini mau berubah dan menjadi lebih berbakti dan sungguh-sungguh untuk kepentingan bangsa, kepentingan masyarakat…maka kita boleh bernafas agak lega melihat masa depan bangsa ini....

Tuesday, April 5, 2011

Perang adalah kejahatan kemanusiaan

http://politik.kompasiana.com/2011/03/26/perang-adalah-kejahatan-kemanusiaan/


Apakah kita memang membutuhkan perang ? Peperangan apa yang bernilai positif di dalam sejarah umat manusia ? Rupa-rupanya peperangan positif itu adalah perang melawan ketidakadilan, perang terhadap kemiskinan, perang melawan korupsi dan masih banyak lagi perang yang positif lainnya. Termasuk perang terhadap perang!

Saat ini yang ingin saya soroti adalah perang yang notabene adalah musuh kemanusiaan. Perang dengan menggunakan aksi militer, membunuh, mencabut nyawa dan merampas hak paling hakiki dari manusia. Hak untuk hidup.


Perang yang seharusnya menjadi jalan paling akhir - terakhir, dan sebisa bisanya ditiadakan, ketika suatu bangsa diperhadapkan dengan masalah, juga dalam hal mengambil keputusan, malah sering manjadi tujuan utama. Di Indonesia sendiri memang keputusan untuk mengijinkan untuk mengadakan perang, kalau kita baca UUD kita, dalam kondisi tertentu,dibolehkan, dimana seorang presiden bisa menyatakan perang.

Untuk sekedar sebagai gambaran, betapa perang benar-benar mengerikan dan sudah menjadi musuh utama peradaban dan kemanusiaan, mari kita simak kisah-kisah dahsyatnya akibat yang diolehkarenakan peperangan tersebut.

*) Pertarungan perang sipil “The Great Peace Rebellion” tahun 1851 hingga 1864 telah mengakibatkan 20-30 juta orang meninggal. Pemberontakan pasukan dari pemerintahan Manchu melawan para simpatisan Dynasty Ming dari bagian Selatan, dipimpin Hung Hsiu yang pada akhirnya memenangkan pertarungan itu. Banyak jiwa terkorbankan sebagai taruhannya.

*) Selama perang dunia ke 2, World War II, diperkirakan 55 juta orang kehilangan nyawanya. Hampir setengah dari jumlah tersebut, dikatakan adalah dari Soviet Union.

Bahkan ada banyak hal-hal sepele yang berakibatkan justru perang yang sangat dahsyat;

*) Perang selama 12 tahun di Italy pada tahun 1325 terpicu hanya gara-gara pasukan dari regim Modena menginvasi Bologna untuk sekedar mencuri sebuah brankas. Selama penyerangan pasukan Modena membunuh ratusan orang Bologna, yang kemudian diadakan serangan balasan oleh orang-orang Bologna.

*) Pada tahun 1704 seorang wanita Inggris, Mrs. Mashaur, menumpahkan segelas wine (anggur) ke pakaian yang dikenakan seorang lelaki parlente dari Perancis, Marquis de Torey. Marquis menganggap perempuan tersebut menumpahkan wine itu dengan sengaja. Laki-laki ini kemudian merencanakan dan menyatakan untuk perang! Ia tidak main-main dengan “The war of the Spanish Succession”. Itulah awal mula peperangan yang menjalar ke hampir seluruh Eropa hingga tahun 1709, ketika ‘Peace of Ultrecht’ ditandatangani.

*) Di tahun 1152, ketika King Louis VII dari Perancis pulang dari perjalanan jauhnya, istrinya Lady Eleanor terkejut melihat suaminya, sang raja telah mencukur jambang atau jenggotnya sampai botak. Sang ratu meminta suaminya untuk menumbuhkan kembali jenggotnya, tapi apa daya, sang suami menolak. Akhirnya sang ratu menceraikan King Louis VII dan menikah dengan King of England. Ratu juga berusaha “mengambil” 2 propinsi di Perancis untuk diberikan kepada suaminya yang baru. Akibatnya sangat fatal, “War of the Whiskers” terjadi hingga tahun 1453. Selama lebih dari 300 tahun! (Seperti di ceritakan dalam buku The Worst Wars and Weapons).

Belum lagi peperangan-peperangan yang memakan korban sipil dalam jumlah besar, sebut saja;

- Dalam 3 bulan saja, disuatu musim panas tahun 1994, kelompok Tutsis Rwanda menghabisi 1 juta tetangga mereka dari kelompok Hutu.

- Di China pada masa kepemimpinan Mao terjadi Cultural Revolution, tahun 1966-1976 menewaskan sekitar 20 juta orang.

- Di Rusia, terror sangat mengerikan dari seorang pemimpin bernama Stalin juga menghabiskan sekitar 20 juta orang di tahun 1936-1953.

- Holocaust di Eropa tahun 1933-1945, 11 juta orang menjadi korban.

- Pakistan, perlawanan melawan Bengalis tahun 1971 yang jadi korban sekitar 3 juta orang.

- Di Kamboja, Pasukan Khmer membunuh sekitar 1.6 juta orang (1975-1979). (Sumber : Wikipedia dan The Best of The World’s Worst Book.)



Menilik data-data sejarah kejahatan perang, yang tentu saja belum termasuk peperangan lainnya di sejumlah Negara Afrika dan Timur Tengah, membuat kita harusnya membenci perang. Perang itu merampas hak hidup, apapun alasannya. Akibat kekerasan perang bisa dirasakan turun temurun, sampai ke anak-cucu.

Agressi militer Amerika dan sekutunya, pambantaian tentara Libya terhadap warga sipil, perang di Afganistan, di Yaman, Rwanda, Jordania adalah bukti betapa masih banyak yang lebih memilih jalan kekerasan daripada jalan damai. Lebih memilih perang daripada damai. Jangankan perang antar bangsa, perang saudarapun bisa dengan mudah tersuluti dan dengan gampangnya terwujud. Indonesia adalah satu diantara banyak saksi atas perang saudara itu. Perang yang seharusnya tidak terjadi kalau kita lebih bijaksana, lebih menggunakan otak daripada emosi perasaan, lebih mengutamakan dialog daripada ego pribadi, kelompok dan golongan.


Sesungguhnya perang tidak akan pernah membawa kemaslahatan dan keuntungan bagi umat manusia. Perang itu keji. Perang itu kejam. Tapi apa mungkin ada benarnya apa kata sebagian orang ? Bahwa, tanpa perang dunia terasa hambar, tanpa perang berita-berita TV kurang greget, tanpa perang banyak perusahaan senjata akan brangkut, tanpa perang perusahaan-perusahaan pembuat obat akan down, tanpa perang ekonomi negara penghasil senjata akan hancur ? Ah, masak sih ? Masak iya sih dengan alasan-alasan diatas kemudian perang dibenarkan. Kalau saya sih tetap anti perang. Apapun alasannya, perang lebih banyak memunculkan kepedihan dan kehancuran daripada kesenangan dan kemakmuran. Perang itu memiskinkan. Perang itu merusak.

Saya pernah mendapatkan kesempatan langka, bertemu dengan seorang mantan Congressman asal Jersey, Scott Snyder. Atau lebih tepat dipertemukan. Saya dipertemukan dengan beliau pada suatu acara, dan yang memperkenalkan saya kepada beliau adalah seorang pengacara, dimana pengacara inilah (Raymond Fasano,Esq) juga yang membantu saya dalam keterlibatan kita mendirikan organisasi kemasyarakatan Kerukunan Keluarga Nusantara secara legal di USA.

Pada saat itu saya sempat ngobrol dengan si Om Scott yang tinggi tegap itu. Akhirnya obrolan kita sempat menyinggung kebijakan LN AS, yang saya bilang sangat “senang” menggunakan senjata. Perang menghasilkan duit bukan ? Om Scott bilang, anda salah, kita tidak harus demikian dalam memaknai perang…dst. Intinya, missi militer Amerika adalah sejalan dengan United Nations. Kalau jalan negosiasi damai tidak bisa ditempuh, jalan perangpun harus diambil. Saya hanya diam. Bukan berarti saya setuju. Tapi saya hanya wong cilik yang Cuma bisa senyum, legowo dan hanya bisa berharap dan berdoa. Karena toh, pada akhirnya mereka-mereka sang penguasa negaralah yang menentukan jalan.

Tapi sebelum pulang, saya sempat nyinggung dikit ke Om Scott. Saya katakana, Om Scott, bukankah Markas Besar PBB (United Nations) yang megah berdiri di antara jajaran gedung pencakar langit di NY itu adalah juga gedung perdamaian ? Mereka harusnya lebih mengambil jalan damai bukan perang bukan ? Dan saya pernah main ketempat itu sekedar foto-foto, sambil iseng ngintipin kali-kali aja ada orang Indonesia nongol dari dalam, kan bisa kenalan. Nah, di depan Markas Besar PBB itu ada prasasti yang bertuliskan demikian : “They will hammer their swords into plowshares and their spears into pruning hooks; Nation will no longer fight against nation, nor train for war anymore”. Atau “mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; Bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang”.

Intinya, kelihatannya PBB berkeinginan keras, dan berkeyakinan untuk supaya tidak akan ada lagi peperangan. Harusnya sejata-sejata perang yang mengakibatkan kekerasaan itu diubah menjadi mata bajak demi kemaslahatan umat manusia. PBB harusnya juga membenci perang. Dan dalam tataran tersebut, menolak perang, bukan sebaliknya!

Eh, mana si Om Scott…? Malah ngeloyor pergi!

Free Like A Bird Strong As An Eagle

Free Like a bird Strong Like an Eagle
(Michael Sendow)



Most of us have heard the statement “free as a bird”. Birds are associated with freedom because of their ability to fly. They are not yoked or earthbound. They can escape out of a trap or fly away at will. Although all birds can fly, it’s the eagle’s superior flying power, among its other qualities, that has given it its name as the king of birds. It is not by accident that the eagle is the national emblem of The United States. The eagle is on the currency and in many of the states and federal buildings. America is a country that prides itself in freedom and democracy ( but not for DemoCrazy). Similarly, The Eagle (Garuda) is the symbol of Indonesia’s independence in 1945 and being use as a symbol of The Republic of Indonesia until now in many places, building, schools for very much the same reason.

Eagles are strong of heart and represent admirable qualities such as power, majesty and faithfulness—qualities that governments want to identify with. However, the quality that seems to stand out in the eagle is its sense of freedom. Nothing is more beautiful that to see an eagle soar against the sunset. It is said that the wingspan of an eagle measures eight to nine feet, and that with just one powerful downbeat of its wings, this hundred-pound bird can be airborne to 12,000 feet in just minutes! In fact, pilots have spotted them flying as high as 25,000 feet and going as much as 150 miles an hour.


Freedom was not intended by the founding father of The United States. God has put within each human being the desire to be free. You will kill the baby eagle if you try to help it get out of the egg, because it’s through the struggle that it develops its strength and will to live. In the same way, after nine months, a pregnant woman experiences the pain of contraction as the baby within her struggle to be free. So, even from birth, a human being desires to be free.

Freedom is one of the greatest gifts that God has given us. When we are treated unfairly because of our race, gender, age or religion that freedom is being taken away from us, He gives us freedom. God frees oppressed people who are held captive and imprisoned by a political system. But he also frees people from spiritual imprisonment—because that is at the heart of the matter.

Sounds like that still happening until these present days, doesn’t it? We no longer had the yoke of slavery around our necks, but in a sense, they still had it around our hearts. Like so many of us who are experiencing the ongoing affects of September 11, nation against nation war, race against another race all over the world, killing people everywhere, slaughtering, murdering and not only that but also demolition and destruction that taking place in so many area of life around the world, we are living in fear of being attacked and enslaved again or even being killed. As a result, we are being robbed of our true potential, and living less than human beings made in the image of our God.

What is the yoke that you are wearing around your neck that is choking out your true potential and causing you to live less than human? Is it low-self-esteem? Is it a physically or verbally abusive relationship? Are you wearing the yoke of guilt or shame because of a past mistake? Is it a yoke of habitual sin that you can seem to shake? Or are you bound by the fear of tragedy? Or by the fear of now-a-day situations which are unfair, no real justice, corrupt with all the nonsense inside and within government?


We must act like an eagle and have its power. This power to mount up with wings as eagles—to achieve our true potential—is the power that only God can give. Receive His power and fresh start in life. You can fly like an Eagle or a Garuda! You can be free as a bird!