Tuesday, October 4, 2011

Cap Tikus Masuk Amerika?


Manhattan dan Cap Tikus.

Mungkin sebagian kita hanya mengetahui dan mengenal Manhattan NYC sebagai kota belanja dunia, kota yang tidak pernah tidur, sorga wisata, big apple, dan berbagai macam julukan lainnya. Kota yang memiliki tingkat kepadatan paling tinggi ini ternyata menyimpan sejarah unik tentang asal mula penyebutan atau munculnya nama Manhattan tersebut.

Bagi orang Indian New York adalah Manhattan. Mereka hanya mengenal New York sebagai Manhattan. Tapi nungkin tidak banyak yang tahu apa arti Manhattan bagi orang-orang Indian itu bukan? Manhattan atau Manna-ha-ta, bagi orang native Indian adalah “Tempat Kemabukan.” Nama ini dapat ditelusuri hingga ke tahun 1524 ketika Giovanni Verazzano, sang penjelajah dari Florentine, yang untuk pertama kalinya mendarat di tempat yang sekarang berada di ujung bawah New York City. Ia yang baru mendarat lalu menawarkan minuman keras yang dibawanya untuk dicicipi pertama kalinya oleh suku Indian. Semua orang bergembira, mereka mabuk dan bermabuk-mabukan. Kenikmatan duniawi meliputi mereka. Sejak saat itulah para pribumi menyebut pulau ini “Manna-ha-ta” atau “Tempat Kemabukan”.


Sekarang Manhattan sudah menjelma menjadi kota yang super sibuk dan sangat megah. Kota ini memang memiliki kemajemukan penduduk paling tinggi di dunia. Segala macam bangsa berbaur di sini. Para immigrant dan berbagai negara datang bercokol dan menetap, mencari sesuap nasi di sini. Para mahasiswa berbondong-bondong menuntut ilmu di sini. Wisatawan tak henti-hentinya menyambangi kota ini. Masyarakat New York memang bersifat majemuk. Hampir tiap orang adalah keturunan asing. Tempat ini sepertinya telah menjadi melting pot atau panci campur aduk. Di mana pun kita jalan di New York pastilah akan bertemu dengan orang yang berbeda etnik, budaya, agama dan ras. Segala macam keturunan, mulai A sampai Z ada di sini. Dari Azerbaijan, Angola, Arab Saudi sampai Zimbabwe, Zambia dan Zaire ada di New York. Bagaimana dengan Indonesia? Banyak juga! Lalu masikkah Manhattan modern ini tepat dijuluki lagi “Tampat Kemabukkan”? Rasa-rasanya masih tepat. Ratusan toko minuman keras yang menjual ratusan jenis minman beralkohol dari ratusan negara dapat Anda temui di tiap sudut jalan, pinggiran lorong, bahkan di pelosok sekalipun. Saya pernah kenal seorang bernama Ted Chan, owner dari salah satu US Wine Distribution nomor satu di NY/NJ. Menurut data perusahannya, permintaan ratusan jenis wine dari negara-negara lain tiap tahunnya meningkat terus. Demand selalu meningkat.

Nah, sejak peristiwa September 11th semuanya jadi serba ketat, termasuk di airport-airport seluruh Amerika. New York memiliki John F Kennedy Airport dan La Guardia International Airport. New Jersey memiliki Newark International Airport, salah satu yang paling ketat pemeriksaannya di seluruh Amerika. Tapi ada yang unik dan lucu. Bahwa dengan sebegitu ketatnya airport-airport tersebut---bahkan saya harus menanggalkan ban, membuka jacket, menuang seluruh isi tas kalau melewatinya---toh masih bisa “dibobol” orang Indonesia. Orang Manado dan Minahasa, entah bagaimana beberapa kali masih bisa meloloskan kiriman dari kampung berupa makanan khas Minahasa yang sebetulnya dilarang keras masuk Amerika. Yang paling “hebat” adalah bahwa saya pernah melihat ada yang kadang kala “berhasil” juga meloloskan minuman keras (yang sebetulnya paling dilarang untuk bisa masuk ke dalam pesawat oleh otoritas-otoritas di Amerika) berupa Cap Tikus dan Pinaraci (minuman keras yang dimasukin akar tumbuh-tumbuhan tertentu). Cap Tikus asli Minahasa adalah salah satu minuman yang kadar alkoholnya paling keras. Kalau Anda menyulutnya dengan api, ia bakal terbakar bagai bensin. Luar biasa. Barang seperti ini masuk secara illegal tanpa diketahui petugas manapun?

Cap Tikus Minahasa.

Orang Minahasa memiliki ciri khas dalam memproduksi minuman beralkohol ini. Terlebih dahulu para lelaki dikampung melakukan aksi batifar. Setelah selesai batifar (langsung dari atas pohon) kemudian sarinya diolah sedemikian rupa. Yang didapat pertama adalah saguer. Cap Tikus adalah jenis cairan berkadar alkohol rata-rata 40 persen yang dihasilkan melalui penyulingan saguer (cairan putih yang keluar dari mayang pohon enau atau seho dalam bahasa daerah Minahasa). Tinggi rendahnya kadar alkohol pada Cap Tikus tergantung pada kualitas penyulingan. Semakin bagus sistem penyulingannya, semakin tinggi pula kadar alkoholnya
Saguer sejak keluar dari mayang pohon enau sudah mengandung alkohol. Menurut kalangan petani, kadar alkohol yang dikandung saguer juga tergantung pada cara menuai dan peralatan bambu tempat menampung saguer saat menetes keluar dari mayang pohon enau.Untuk mendapatkan saguer yang manis bagaikan gula, bambu penampungan yang digantungkan pada bagian mayang tempat keluarnya cairan putih (saguer), berikut saringannya yang terbuat dari ijuk pohon enau harus bersih. Semakin bersih, saguer semakin manis. Semakin bersih saguer, maka Cap Tikus yang dihasilkan pun akan semakin tinggi kualitasnya. (The Minahasa Net)
Saat ini warung-warung yang menjual minuman keras ini sudah semakin diperketat, karena memang sudah ada larangan untuk menjual bebas Cap Tikus ini. Minuman ini sangat memabukkan bagi mereka yang meminumnya bahkan dapat merusak organ-organ tubuh tertentu jika mengonsumsinya secara berlebihan. Malah ada selorohan di Minahasa dan Manado mengenai mereka yang suka mengonsumsi minuman ini. Katanya hati-hati kalau minum Cap Tikus, minum satu sloki (sejenis gelas kecil) masih wajar untuk sekedar tambah darah, memanaskan tubuh. Minum dua sloki mulai banyak bicara. Tiga sloki pasti akan cari gara-gara. Empat sloki sudah pasti bikin perkara dan marah-marah tanpa sebab. Minum lima sloki bikin tumpah darah, baku hajar kiri-kanan. Enam sloki masuk penjara. Akhirnya, minum tujuh sloki mati dan masuk neraka.

Sebenarnya sudah banyak usaha untuk memaksimalkan dan menghasilkan Cap Tikus lebih dari sekedar menjadikannya hanya sebagai konsumsi yang memabukkan, tapi diolah untuk dijadikan produk medis yang lebih baik dan relevant, atau misalnya mengolah Cap Tikus menjadi Bio Etanol seperti yang dilakukan di Amurang Minahasa. Bahkan dengan Bio Etanol dari Cap Tikus ini hasilnya bisa maksimal dan produknya boleh diekspor ke mancanegara. Termasuk ke Amerika.

Kalau produk olahan Cap Tikus ini menjadi obat dan bio etanol sudah berhasil masuk pasar ekspor ke Amerika, tentu akan lebih bermanfaat dan menguntungkan dari segi pemasukan devisa daripada sekedar memasukkannya atau membawanya secara illegal buat dikonsumsi sendiri atau pun dijual secara illegal di sana. Memang sih, orang Amerika yang pernah mencicipi Cap Tikus berkomentar bahwa minuman ini sungguh tak kalah, bahkan boleh dikata lebih dahsyat dari semua jenis yang sering mereka minum yang terpampang di setiap Liquor Stores. Sebut saja Brandy, Jack Daniels, Whiskey, Vodka, Couture, dan lainnya. Bahkan ada istilah dari para pemabuk orang kulit hitam (black guy) sebagai ‘heavenly drinks’. Jadi Cap Tikus dan Pinaraci adalah ‘minuman sorgawi’ bagi mereka. Orang Spanish (Amerika Latin) menyebutnya sebagai ‘Loco Aqua’. Atau ‘Air Gila’.

Tidak harus berharap Cap Tikus suatu ketika akan masuk Liquor Stores seluruh Amerika. Tapi diekspor untuk keperluan-keperluan medis dan yang sejenisnya. Sudah barang tentu sejatinya itu akan lebih menguntungkan, hal mana akan ada faedah lebih daripada sekedar minuman buat mabuk-mabukkan yang sama sekali tidak menyehatkan, malah membunuh atau mematikan. Semoga.

***

“Segala peluang sebenarnya telah tersaji di depan mata kita. Pilihan memanfaatkan peluang-peluang itu sendirinya juga adalah kewenangan dan hak kita. Menyalahgunakan peluang atau kesempatan itu juga adalah tanggungjawab kita. Kitalah yang akan mencicipi hasil pilihan kita, entahkah itu manis atau pahit. Membawa berkah atau sebaliknya. Karena itu, bijaksanalah menentukan pilihan.”----Michael Sendow.

Michael Sendow.

1 comment:

Donny Montang said...

wow, info yang mantap bro