Showing posts with label Kompas. Show all posts
Showing posts with label Kompas. Show all posts

Monday, June 8, 2015

Nonton Kompas TV


Tahun lalu saya sudah pernah menulis tentang Kompas TV sebuah pilihan? Dapat dibaca di sini: Kompas TV Sebuah Pilihan? Dalam tulisan itu saya mengutip kata-kata dari Presiden Komisaris Kompas Gramedia Jakob Oetama tatkala memberikan sambutan atas lahirnya Kompas TV tersebut. Dia berkata, “Lautan biru yang terhampas luas, belantara yang tak berbatas, warisan budaya yang luhur, hingga gemulai tari, dengan iringan musik tradisional, turut merajut Nusantara.” Bagi saya itu adalah ungkapan Luar biasa. Waktu itu saya menulis bahwa bisa jadi, kelak ungkapan Pak Jakob itulah yang akan terpampang di sepanjang sepak terjang Kompas TV yang baru lahir itu. Kini terbukti sudah. Kompas TV ternyata memang menampilkan sesuatu yang berbeda dan lain daripada yang lain.

Mestinya memang stasiun-stasiun TV harus mulai berbenah diri. Berbenah dalam hal menampilkan acara-acara yang mendidik dan tidak hanya sekedar mengejar rating. Biasanya kalau hanya mengejar rating dan pundi-pundi rupiah, maka tampilan acara apapun pasti akan dengan mudahnya tertampilkan. Meskipun harus dengan “menghalalkan segala acara”. Konten-konten yang berbicara mengenai Alam, Budaya, Budaya Tradisional, Seni, Musik Tradisional dan lainnya yang kesemuanya bertujuan merajut Nusantara. Mempersatukan Nusantara, dan menampilkan citra baik Nusantara di mata dunia masih sangat kurang di pertontonkan, kerap kali karena anggapan acara-acara tersebut akan kurang laku dijual.

Kompas TV memang belum terlalu lama lahir. Masih muda belia. Namun ternyata sudah semakin banyak yang menyukainya. Hampir semua rekan-rekan saya menyukai berbagai tayangan yang disuguhkan Kompas TV. Di daerah saya juga, ternyata kawan-kawan di sana suka dengan acara-acara di Kompas TV yang bagus-bagus kata mereka. “Acara di Kompas TV kwa masih bagus-bagus, nyanda talalu banyak iklan, dan acaranya banyak lei yang mendidik”, demikianlah salah seorang kawan lama saya di Manado berujar. Mudah-mudahan saja idealisme Kompas TV tetap akan terjaga, supaya banyak pemirsa tetap memiliki pilihan berbeda dengan hadirnya Kompas TV.

Saya sangat menyukai sarapan Kompas TV ketika bangun pagi dengan suguhan ‘Kompas Pagi’ yang nongol di jam 5 subuh. Masih dilanjutkan dengan sajian menarik lainnya ‘Sapa Indonesia’ jam 7.00 pagi, sebelum saya berangkat beraktivitas.

Malam hari ada acara khusus (baru lahir juga) yaitu Kompasiana TV. Sekitar dua hari lalu saya mendapat tawaran untuk berdiskusi tentang wacana penghapusan PBB bersama beberapa kompasianer lainnya, dan acaranya live. Saat itu nara sumbernya adalah Mentri Agraria Pak Ferry M Baldan. Diskusi yang asyik dan memiliki kesan tersendiri.
https://www.youtube.com/watch?v=Nt8AKnLalx0


Monday, July 28, 2014

Menulis di Kompasiana, dan Menyembuhkan Luka

1301885472256593596
Ilustrasi/Admin (shutterstock)

Kompasiana itu ibarat gudang. Tempat penyimpanan. Di tempat itu (Kompasiana) tersimpan begitu banyak potensial. Mereka kadang diam membisu (silent reader katanya sih), tapi banyak yang sekali menulis, luar biasa, bahkan bulu kuduk bisa berdiri. Ada yang memang aktif menulis, tak terkira, bahkan ada yang sudah menulis ribuan artikel. Para penulis ini, entah yang masih muda maupun yang sudah agak ubanan adalah orang-orang pintar. Ia, menilik dari jenis-jenis tulisan, dapat dipastikan mereka Smart, Excellent, Brilliant, Piawai dalam hal tulis menulis. Tentu saja dengan gaya bertutur, gaya menulis, ciri khas masing-masing. Tulisan yang begitu banyak dan variatif adalah juga sarana pembelajaran. Berbagi ilmu. Istilah kerennya Knowledge Exchange. Untuk yang ingin menyambangi, membaca, pun menulis di blog keroyokan tersebut, silakan buka di sini: www.kompasiana.com

Ada yang pintar menjalin kata-kata lewat puisi, ada yang suka melucu, bercerita perjalanan hidupnya. Bahkan banyak dokter di Kompasiana ini, ahli hukum, pendidik sampai tukang becak dan penjual bakso pinggir jalan.

Fenomenal. Menurut catatan sejarah probability, Kompasiana ini kemungkinan dihuni not only quite possibly but most probably puluhan ribu kompasianer, aktif maupun pasif. Itu berarti ada puluhan ribu otak untuk dipakai berpikir demi kemajuan bersama. Puluhan ribu pikiran yang bisa dipakai untuk  memikirkan tentang sesuatu.

Kalaupun kita terkadang gagal menuangkan isi otak kita (baca: ide) kedalam bentuk tulisan, bersabarlah. Kegagalan adalah sukses yang tertunda. Asal nggak lama-lama ketundanya, iya kan? Makanya dikit demi dikit belajar untuk mulai menulis buah pikiran kita. Yang gampang-gampang dululah, tuliskanlah kicauanmu tentang apa saja di sekitarmu, tidak perlu berimajinasi terlalu susah dulu, tuliskanlah apa yang ada di depan matamu, apa yang kau lihat, yang kau cium, yang kau raba. Setelah engkau fasih menulis hal-hal yang ada di sekitar, barulah kembangkan imaginasimu. Ada yang menjadi badut, ada yang menjadi politikus, ada yang menjelma  menjadi ahli hukum, pengamat olah raga bahkan juru masak!


Wednesday, September 5, 2012

Menulis di Kompasiana

Menulis di Kompasiana

Kompasina bagi saya adalah gabungan Media Sosial dan Media Jurnalisme Warga. Apa yang Anda dapatkan di media sosial ada dalam ruang lingkup Kompasiana. Begitu juga peran Kompasiana sebagai media jurnalisme warga (citizen journalism) sangat terlihat jelas. Sejalan dengan perjalanan waktu, kini Kompasiana sudah dihuni sejuta lebih orang (baca: penulis), angka yang fantastis dan luar biasa.

Sejak menjadi anggota Kompasiana setahun yang lalu (2011) saya sudah menulis sekian banyak tulisan, membaca sekian banyak tulisan, dan mempelajari sekian banyak tulisan. Ada begitu banyak penulis kaliber maupun pemula yang ‘menjajakan’ dan ‘menjual’ tulisan-tulisan mereka di sana. Tak kurang dari menteri, mantan menteri, mantan anggota dewan, ketua DPR, pengusaha, politisi, dosen bahkan sampai karyawan biasa, tukang bakso, dan tukang jual kartu telpon sudah menjadi anggota Kompasiana ini (dikenal sebagai kompasianer). Hampir semua dari semua profesi datang berkerumun di bawah satu atap ini.

Bisa jadi sudah puluhan ribu (bahkan mungkin ratusan ribu) tulisan ditelurkan lewat media ini. Kompasiana sudah menjadi semacam ‘trade mark’ khusus di dunia media jurnalis warga di Indonesia. Ranking onlinenya terus menanjak dan melonjak naik. Tante ‘Alexa’ pun sudah mengakuinya. Kini, siapa yang tidak bakalan mengakui bahwa Kompasiana sudah punya trademark tersendiri, dan suka ataupun tidak, telah dapat memengaruhi banyak hal yang terjadi di Indonesia. Sebut saja dalam dunia politik, ekonomi, edukasi, dan sosial budaya. Ia telah pula semakin menjadi rujukan dan tempat berpaling berbagai mahasiswa, dosen, dan peneliti yang hendak mencari data atau bahan rujukan. Ia menjadi semakin valid di mata akademisi Indonesia.

Lantas apa yang kemudian menjadikan Kompasiana begitu diidolakan, dicari, dan disukai. Banyak sekali keunggulan serta keunikan, dan juga kebermanfaatan menjadi anggota Kompasiana. Apa itu? Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan kunjungi ‘rumah sehat’ bernama Kompasiana itu di sini: Kompasiana. Saya berani jamin Anda akan ketagihan.

Sudah saatnya kita membudayakan kebiasaan baik yang membawa manfaat, salah satunya adalah menulis dan membaca. Ruang super luas dalam berekspresi di rumah sehat Kompasiana dapat dijadikan tempat untuk itu. Kita mendapat banyak pengetahuan bermanfaat melalui tulisan-tulisan bernas dan sarat makna yang ada di situ, dan kita dapat menorehkan segala ekspresi pun pengetahuan yang kita miliki di sana. Memberi dan menerima. Atau istilah kerennya take and give.

Anda pun dapat menjadi seorang penulis. Bergabung saja dengan Kompasiana dan mulailah menulis sesuai selera dan keinginan Anda. Selamat menulis dan jadilah penulis yang bertanggungjawab. Ingat satu hal, pena (tuts komputer) atau tulisan dapat lebih tajam dari belati. Ia dapat membunuh seseorang. Ia dapat menghidupkan dan membangun seseorang. Ia pula dapat membuat sebuah peregerakan besar. Dan dengan tulisan pula Anda dapat membagikan cinta. Untuk itu saya ucapkan, selamat bercinta lewat menulis!
---Michael Sendow, baca di sini My Kompasiana