Wednesday, December 12, 2012

Thomas Edison dan Kota Edison, di Amerika Serikat

Thomas Edison dan Kota Edison
Saya tinggal di Kota Edison, New Jersey Amerika Serikat cukup lama. Edison ini adalah sebuah kota kecil dengan penduduk tidak melebihi 100.000 orang. Kota ini masuk di lingkup kecamatan yang memiliki nama unik, Kecamatan Middlesex. Percaya atau tidak, ternyata di New Jersey sendiri, entah mengapa, terdapat beberapa kecamatan yang berbau ‘sex’ dari segi penamaan. Sebut saja, selain Middlesex ada juga Kecamatan Essex, dan Kecamatan Sussex. Selain di NJ, Sussex County ada juga di Negara bagian Delaware.
Tapi kali ini, saya tidak akan membahas mengenai semua nama yang ‘ngesex’ tersebut. Justru saat ini saya ingin mengupas sedikit tentang kota di mana saya tinggal bertahun-tahun itu. Apalagi kalau bukan Edison. Kita semua mungkin sudah tahu betul tentang Thomas Alfa Edison, seorang penemu besar. Nah, ternyata asal muasal pemberian nama Kota Edison ada sangkut pautnya dengan si Edison sang penemu itu. Mari kita maju lebih jauh untuk mengenal Kota Edison, dan Thomas Edison.
Kota Edison pertama kali dideklarasikan pada 17 Maret 1987, oleh keputusan DPRD setempat. Kota kecil ini terbentuk dari bergabungnya sebagian kota Piscataway dan sebagiannya lagi dari Kota Woodbridge, yang keduanya berbatasan langsung dengan Kota Edison. Kita mungkin menyebut hal itu sebagai pemekaran. Lantas kenapa diberi nama Edison? Oleh karena Thomas A. Edison memiliki laboratorium utama, pertama, dan terbesar untuk segala macam penelitiannya di Menlo Park, Edison ini. Untuk penghormatan kepada beliaulah maka namanya diabadikan sebagai nama kota itu.
Kota Edison, walaupun kecil tapi pernah masuk dan terpilih sebagai salah satu dari 10 kota terbaik untuk ditinggali. Edison juga masuk sebagai salah satu dari “America’s 10 Best Places to Grow Up” oleh U.S. News & World Report. Penilaian tersebut didasari pada seberapa kurang tingkat kejahatan di setiap kota yang dinilai, sebaik dan sekuat apa sekolah-sekolah dan pendidikan yang ada, taman-taman hijau terbuka, dan banyaknya tempat-tempat rekreasi. Kalau untuk itu semua, saya juga pasti akan mengamini bahwa Edison memiliki kriteria-kriteria tersebut, dengan ‘nilai’ yang sangat bagus.
Di kota inilah juga tinggal berbagai macam orang dari belahan dunia bernama Asia. Kota ini jelas-jelas didiami begitu banyak orang Asia termasuk Indonesia. Di sinilah main centers of Asian American cultural diversity. Menurut sensus penduduk tahun lalu, tidak kurang dari 28-30% penduduk Kota Edison adalah orang-orang India atau yang sudah menjadi Indian-American. Ini tentu saja menjadikan Edison sebagai kota yang memiliki presentase penduduk dari ras Indian-American tertinggi di seluruh Amerika. Total seluruh penduduk Asian-American di Kota Edison menurut hasil sensus yang lalu adalah sebesar 43,2%. Walikota Edison tahun 2006-2009 bahkan berasal dari Asia juga yaitu Jun Choi, asal Korea.

Monday, November 12, 2012

Latvia Meningkatkan Kerjasama Dengan Indonesia


Beberapa bulan lalu Menlu Latvia beserta delegasinya mengadakan kunjungan ke Indonesia untuk lebih mempererat hubungan diplomatik antara keduanya. Menlu Latvia Edgars Rinkevics mengadakan kunjungan resmi dan bertemu dengan Menlu Indonesia Marty Natalegawa dan Mentri Ekonomi Kreatif Marie Elka Pangestu. Pada saat kunjungan tersebut, datang bersama Menlu Latvia rombongan pengusaha dan wakil dari Kadin Latvia. Bahkan antara Kadin Latvia dan Kadin Indonesia sudah menandatangani Memorandum of Understanding (MOU).

Beberapa hari yang lalu, selama tiga hari yaitu dari tanggal 4-8 November 2012 kantor Konsulat Kehormatan Latvia di Jakarta mengadakan kunjungan resmi ke Sulawesi Utara. Kunjungan tersebut adalah bagian dari tindak lanjut penyusunan skema kerjasama bilateral ekonomi untuk periode berikutnya. Sebelumnya Latvia juga telah mengadakan implementasi kerja sama nyata dengan Kabupaten Sleman di Jogjakarta.

Latvia sendiri adalah sebuah negara pecahan Uni Sovyet yang berpenduduk hanya sekitar 2,2 juta orang. Negara ini adalah negara Uni Eropa yang paling terkena dampak krisis keuangan global beberapa tahun yang lalu. Namun juga ternyata Latvia adalah satu-satunya negara Uni Eropa yang paling cepat pulih dari krisis. Bahkan jauh melebihi Inggris, Belanda, Cyprus, Jerman, dan lainnya. GDP Latvia adalah yang paling tinggi dibanding negara-negara Uni Eropa lainnya, dan mata uang Latvia yaitu Lats adalah yang paling tinggi di dunia sampai saat ini. Lebih tinggi dari Euro, Dollar, maupun Poundsterling.

Wednesday, September 5, 2012

Menulis di Kompasiana

Menulis di Kompasiana

Kompasina bagi saya adalah gabungan Media Sosial dan Media Jurnalisme Warga. Apa yang Anda dapatkan di media sosial ada dalam ruang lingkup Kompasiana. Begitu juga peran Kompasiana sebagai media jurnalisme warga (citizen journalism) sangat terlihat jelas. Sejalan dengan perjalanan waktu, kini Kompasiana sudah dihuni sejuta lebih orang (baca: penulis), angka yang fantastis dan luar biasa.

Sejak menjadi anggota Kompasiana setahun yang lalu (2011) saya sudah menulis sekian banyak tulisan, membaca sekian banyak tulisan, dan mempelajari sekian banyak tulisan. Ada begitu banyak penulis kaliber maupun pemula yang ‘menjajakan’ dan ‘menjual’ tulisan-tulisan mereka di sana. Tak kurang dari menteri, mantan menteri, mantan anggota dewan, ketua DPR, pengusaha, politisi, dosen bahkan sampai karyawan biasa, tukang bakso, dan tukang jual kartu telpon sudah menjadi anggota Kompasiana ini (dikenal sebagai kompasianer). Hampir semua dari semua profesi datang berkerumun di bawah satu atap ini.

Bisa jadi sudah puluhan ribu (bahkan mungkin ratusan ribu) tulisan ditelurkan lewat media ini. Kompasiana sudah menjadi semacam ‘trade mark’ khusus di dunia media jurnalis warga di Indonesia. Ranking onlinenya terus menanjak dan melonjak naik. Tante ‘Alexa’ pun sudah mengakuinya. Kini, siapa yang tidak bakalan mengakui bahwa Kompasiana sudah punya trademark tersendiri, dan suka ataupun tidak, telah dapat memengaruhi banyak hal yang terjadi di Indonesia. Sebut saja dalam dunia politik, ekonomi, edukasi, dan sosial budaya. Ia telah pula semakin menjadi rujukan dan tempat berpaling berbagai mahasiswa, dosen, dan peneliti yang hendak mencari data atau bahan rujukan. Ia menjadi semakin valid di mata akademisi Indonesia.

Lantas apa yang kemudian menjadikan Kompasiana begitu diidolakan, dicari, dan disukai. Banyak sekali keunggulan serta keunikan, dan juga kebermanfaatan menjadi anggota Kompasiana. Apa itu? Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan kunjungi ‘rumah sehat’ bernama Kompasiana itu di sini: Kompasiana. Saya berani jamin Anda akan ketagihan.

Sudah saatnya kita membudayakan kebiasaan baik yang membawa manfaat, salah satunya adalah menulis dan membaca. Ruang super luas dalam berekspresi di rumah sehat Kompasiana dapat dijadikan tempat untuk itu. Kita mendapat banyak pengetahuan bermanfaat melalui tulisan-tulisan bernas dan sarat makna yang ada di situ, dan kita dapat menorehkan segala ekspresi pun pengetahuan yang kita miliki di sana. Memberi dan menerima. Atau istilah kerennya take and give.

Anda pun dapat menjadi seorang penulis. Bergabung saja dengan Kompasiana dan mulailah menulis sesuai selera dan keinginan Anda. Selamat menulis dan jadilah penulis yang bertanggungjawab. Ingat satu hal, pena (tuts komputer) atau tulisan dapat lebih tajam dari belati. Ia dapat membunuh seseorang. Ia dapat menghidupkan dan membangun seseorang. Ia pula dapat membuat sebuah peregerakan besar. Dan dengan tulisan pula Anda dapat membagikan cinta. Untuk itu saya ucapkan, selamat bercinta lewat menulis!
---Michael Sendow, baca di sini My Kompasiana

Sunday, July 15, 2012

Kenapa Harus Jokowi-Ahok?


Kenapa Harus Jokowi-Ahok?

Indonesia butuh pembaharu. Jakarta butuh pembaharu. Lantas kenapa mesti Jokowi? Sekarang mari kita buka mata kita lebar-lebar dan berandai-andai, kalau kita sudah tahu bahwa pemimpin yang terdahulu tidak bisa apa-apa, dan tak mampu berbuat banyak bahkan ketika dana yang tersedia begitu banyaknya, mengapa kita memilih mempertahankan status quo?

Kita sudah terbiasa untuk ragu-ragu memberikan kesempatan kepada mereka yang baru. Tapi coba renungkan, bagaimana kita tahu keunggulan Jokowi tanpa pernah memberinya kesempatan? Track record dan sepak terjangnya sebelum pemilihan ini sudah menunjukkan siapa Jokowi sesungguhnya. Ia mampu mengangkat Solo dengan segala kesederhanaan dan kebersahajaannya. PAD Solo meningkat, PKL dipindahkan tanpa melalui tindak kekerasan dan paksaan, orang-orang pinggiran dan pasar didekati dan dicari tahu apa-apa yang kiranya perlu dibenahi lagi. Pokoknya seorang Jokowi menunjukkan paradigma baru, dan membuka mata banyak orang seperti apa pemimpin itu seharusnya. How the true leadership should be!

Kenyataan setelah putaran I pemilukada DKI menunjukkan betapa sosok seseorang ditambah kekuatan masyarakat (people’s power) sangat ajaib cara kerjanya. Hasil quick count menunjukkan ‘kehebatan’ sosok Jokowi. Pergerakan masyarakat memilih juga terasa benar. Rakyat ternyata semakin cerdas. Mungkin saja ada begitu banyak money politics yang tetap merajalela sana-sini, tapi kecerdasan masyarakat tidak dapat dibeli, dan apalagi ditipu. Mereka sudah melihat siapa Jokowi itu. Uang tidak bisa membeli harapan dan kepercayaan mereka terhadap Jokowi. Mereka (masyarakat pemilih) merindukan pemimpin yang mampu membawa pembaharuan. Yang mempunyai program nyata, dan visi misi yang jelas. Yang mampu meminimalisasi kemacetan, meniadakan banjir besar, menata kota, dan meningkatkan perekonomian daerah. Apakah Jokowi mampu? Itu harapan masyarakat luas. Untuk menguji harapan-harapan tersebut, beri Jokowi kesempatan.

Jokowi-Ahok adalah representasi orang-orang muda yang berhasil, namun di tengah-tengah keberhasilan mereka tetap rendah hati, bersahaja, dan memahami orang-orang kecil. Bukti keberhasilan Jokowi memimpin Solo dan Ahok memimpin Bangka Belitung adalah juga bukti nyata ‘kehebatan’ mereka. Lalu kenapa kita masih ragu memberi mereka kesempatan menunjukkan kehebatan mereka di Jakarta ini? Saran saya, jangan ragu-ragu, beri mereka kesempatan dan nikmati hasilnya.

Black campaign, perusakan citra, dan tindakan negatif lainnya jelas akan terus memborbardir pasangan Jokowi-Ahok. Apapun itu, percayalah bahwa rakyat Indonesia khususnya rakyat Jakarta bukan orang-orang bodoh yang mudah dipengaruhi, dan diadu domba. Kecerdasan masyarakat pemilih sudah dibuktikan pada putaran pertama. Sangat diharapkan kecerdasan itu akan terus dipertahankan dan dipakai pada pemilihan putaran kedua. Jangan lupa peran media apapun (termasuk media sosial dan BBM) sangatlah besar. Semakin banyak kita menginfokan Jokowi-Ahok dan program-program mereka, akan semakin tersampaikan keunggulan-keunggulan pasangan ini.

Mari kita wujudkan Indonesia Baru lewat Jakarta Baru. Jakarta adalah ibukota Indonesia, dan dari sanalah perubahan dan pembaharuan itu harus bermula.


Michael Sendow

Thursday, July 12, 2012

Capailah dan Raihlah Tujuan Utama Pendidikan


Capailah dan Raihlah Tujuan Utama Pendidikan


“Jika Anda menunjukkan antusiasme pada semua yang ditanyakan anak Anda tentang ‘apa’ dan ‘bagaimana’. Dan apabila Anda menjawab dan menjelaskan dengan kesabaran dan penuh kebijaksanaan semua pertanyaan mereka, sudah barang tentu akan menumbuhkan kepercayaan diri dan rasa suka belajar pada anak-anak Anda. Mereka akan bergiat untuk belajar dan terus belajar lagi” --- Michael Sendow.


Dari sejak jamannya nenek moyang kita tempo dulu sebenarnya proses belajar mengajar sudah berlangsung. Mereka belajar dari leluhur mereka cara berburu, bagaimana membuat perapian dan tungku pemanas air, dan banyak hal sederhana lainnya. Kemudian secara turun temurun proses tersebut diajarkan kembali ke anak-cucu mereka. Berlangsung secara terus menerus. Sekarang, di jaman kita ini belajar mengajar tidak lagi atau bukan hanya semata soal yang remeh temeh, tapi sudah begitu kompleks dan menjangkau sampai ke hal-hal yang luar-biasa tinggi. Teknologi dan komputerisasi telah secara signifikan “memaksa” setiap orang untuk belajar lebih giat lagi kalau tidak mau ketinggalan kereta. Sampai sejauh mana masyarakat mencapai dan menggapai hasil maksimal dari proses pembelajaran tersebut adalah cerita lain. Yang pasti, proses belajar-mengajar akan terus ada selama hayat kita masih dikandung badan. Istilah kerennya adalah long term education program, atau juga lifetime learning. Belajar itu mesti dilakukan seumur hidup kita. Tidak bisa tidak. Tidak ada tawar menawar. Itu adalah keniscayaan dan kemestian apabila kita ingin maju dan berhasil.

Saat ini masyarakat memang harus semakin diberi pencerahan apa arti sesungguhnya mendidik dan mengajar tersebut. Apa makna dan tujuan terdalam dari belajar maupun mengajar itu. Bahwa pendidikan dan pembelajaran itu lebih dari sekedar untuk mendapatkan rangking akademik atau supaya meraih juara dalam kelas. Pendidikan itu bahkan sudah dimulai jauh sebelum siswa itu bersekolah. Beberapa ahli mengatakan sejak bayi masih dalam kandungan pun proses ‘pendidikan’ sudah dimulai oleh sang ibu.

Lalu apa inti dari mendidik dan mengajar itu? Apa tujuan utama pendidikan? Saya mendifinisikannya sebagai “memanusiakan manusia”. Itu adalah tujuan utama pendidikan. Sebab di dalam kalimat pendek itu tertanam nilai-nilai luhur pendidikan yang amat dalam. Ketika kita mengimani dan mengamini bahwa tujuan kita mengajar dan mendidik seseorang adalah untuk supaya ia menjadi lebih manusiawi, lebih cerdas, lebih toleran, lebih berwawasan maka di situlah makna terdalam memanusiakan manusia lain kita capai. Siswa yang pintar belum tentu berperilaku luhur. Siswa yang hebat belum tentu toleran. Siswa yang terkenal belum tentu memiliki empathi terhadap orang lain. Jadi sederhananya begini, mengajarkan anak supaya pintar adalah baik, tetapi itu belum sampai pada titik memanusiakan manusia lain. Ingat benar, otak dan hati harus seimbang. Iman dan ilmu harus bersamaan. Berdoa dan bekerja harus seiring. Sharing dan caring harus serempak. Menjadikan mereka manusia yang mampu memanusiakan manusia lain. Sekaligus mempersiapkan mereka menjadi guru kehidupan untuk mengajarkan hal yang sama pada generasi sesudah mereka.

Saya melihat dan mengamati. Ada banyak kurikulum di sekolah yang mubazir dalam penerapan dan penggunaan. Artinya, apa yang diajarkan tidak terlalu relevan terhadap siswa terdidik ketika lulus dan hendak bekerja nantinya. Ada yang tidak sesuai, ada pula yang masih sangat kurang, atau bahkan belum dikurikulumkan. Nah, oleh karena harapan setiap guru, orang tua murid, pemerhati dunia pendidikan adalah supaya pendidikan disekolah boleh membawa perubahan bagi para siswa dari segi pengetahuan(knowledge), keterampilan (skill), sikap mental (attitude), dan spiritualitas (spirituality) menuju kearah kebaikan dan kemajuan, maka cara-cara yang benar harus ditempuh dan dijalankan. Salah satu cara adalah dengan penambahan, pengurangan, dan penyesuaian kurikulum.

Setelah semuanya dijalankan, apakah sudah selesai sampai di situ? Tunggu dulu. Semuanya belum selesai. Itu baru awal. Pembelajaran yang sesungguhnya baru dimulai. Ketika bangku sekolah sudah selesai, pembelajaran nyata di luar sekolah pun sudah menanti. Itu ujian dan tantangan berikutnya. Pembelajaran nyata yang justru mungkin saja akan jauh lebih berpengaruh dari apa yang ia dapati di bangku sekolah. Tugas orang tua, keluarga, dan lingkunganlah yang selanjutnya mengambil peran sebagai pendidik. Apa yang hendak dididik? Ya itu tadi, memberikan kepada sang anak atau sang siswa pelajaran paling mulia sebagai seorang yang berpendidikan. Mereka yang mungkin saja adalah tamatan sekolah hebat dan mahal. Atau juga mereka yang lulus dengan predikat terbaik. Pelajaran mulia itu adalah mengajarkan mereka untuk mampu memanusiakan manusia lain dengan segala kelebihan serta kepintaran yang mereka punyai. Dengan semua berkat yang sudah mereka terima.

Bagaimana mereka mampu berbagi kecerdasan dan kepintaran dengan jutaan anak putus sekolah di luar sana. Bagaimana ketrampilan yang mereka miliki bisa mengangkat derajat saudara-saudara mereka yang tidak berkesempatan mengenyam bangku pendidikan formal oleh karena kemiskinan dan keserbakekurangan yang ada. Atau juga bagaimana mereka berbagi berkat, dan kelebihan yang mereka punyai kepada orang lain yang membutuhkan tapi tak sanggup memiliki dan menikmatinya. Potensi-potensi kepekaan, kebisaan, serta kemampuan berbagi inilah yang akan terus diwariskan dan diajarkan. Sehingga suatu ketika nanti, generasi penerus kita adalah orang-orang yang bukan hanya sukses secara ilmu pengetahuan, tapi dalam segala hal. Tujuan mulia dari pendidikan pun akan semakin menampak dan nyata dirasakan.

Apa-apa yang harus menjadi tujuan tetap kita tempatkan sebagai tujuan, bukan sebagai alat. Begitu pula sebaliknya. Kalau kita menjadikan alat sebagai tujuan atau tujuan dijadikan alat, maka kita tidak akan pernah mendapatkan ataupun sampai pada tujuan utama yang hendak kita capai. Dengan mengetahui tujuan utama pendidikan mendorong kita lebih peka serta membuka diri untuk lebih maju lagi. Lulus sekolah, menjadi lulusan terbaik, dan atau mendapatkan beasiswa bukanlah tujuan utama. Semuanya itu hanyalah alat dan sarana semata. Bukan akhir dari segalanya. Bukan sesuatu yang mutlak. Jangan pernah memutlakkan yang nisbi dan menisbikan yang mutlak.

Seandainya pendidikan kita memang mengajarkan apa yang benar. Sistem pendidikan kita benar-benar sesuai apa yang paling dibutuhkan negeri ini. Dan kalau saja Pengajaran dan pembelajaran itu setidak-tidaknya dapat menjangkau sampai ke seluruh sudut negeri ini, saya percaya kita akan mampu menciptakan generasi emas, Golden Generation.  Sebuah generasi di mana setiap insan terdidik mampu mengaplikasikan semangat berbagi dengan landasan memanusiakan manusia lain. Semangat dan landasan yang pada situasi tertentu akan menegur serta membatasi mereka ketika kelak menjadi pemimpin-pemimpin negeri ini. Menjaga mereka untuk tidak menjadi pemimpin yang lalim, bebal, korup, dan tidak manusiawi. Membatasi mereka supaya tidak menjelma menjadi pemimpin arogan yang serakah dan selalu mementingkan diri sendiri. Bukankah sudah banyak contoh pemimpin yang bergelar akademik sangat tinggi, pintarnya minta ampun, tapi bobrok dalam memimpin. Kurang sanggup menjaga amanah. Meremehkan dan melecehkan rakyat yang mereka pimpin, serta tak sedikit yang melacurkan tugas serta jabatan yang diemban hanya karena harta dan tahta.

Akhirnya, saya ingin mengajak pembaca mengintip sejenak UU RI Nomor 20 Tahun 2003 yang mengatakan demikian, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa.” Apakah slogan itu sudah mewujud atau hanya sebatas pemanis bibir semata? Andalah penilainya. Selamat belajar dan teruslah belajar!

Michael Sendow

Saturday, June 23, 2012

Cintai Budayamu, Hargai Budaya Orang Lain



 
Sejak kita dilahirkan sampai rambut kita beruban, kita sudah diperhadapkan dengan budaya. Kita bersinggungan dan bahkan hidup dalam lingkungan budaya tertentu. Budaya apa pun yang melingkupi setiap gerak langkah kita, haruslah kita hargai dan posisikan sebagai mana mestinya.
Sebagai buah dari enkulturasi, maka kita menjadi orang yang berbudaya. Hal itu tentu saja baik, namun serempak ada bahayanya bahwa kita hanya mengenal budaya kita sendiri dan buta terhadap budaya lain.

Menurut seorang filsuf terkenal bernama Aristoteles, demokrasi timbul dari ide yang mengatakan bahwa semua manusia yang dalam hal tertentu memiliki persamaan, sesungguhnya pada hakikatnya memang sama. Karena semua manusia sama-sama bebas maka semua manusia secara mutlak memiliki kesamaan hak. Nah, saya lalu berpikir apa kesamaan hak yang paling hakiki? Jawabannya adalah bahwa mereka berhak memilih. Apapun pilihan mereka itu adalah hak mereka yang harus kita hormati. Oleh sebab itu pula, apapun budaya yang melingkupi seseorang yang sudah dipilihnya, patut dan semestinya kita hormati. Sebagaimana mereka menghormati budaya kita. Atau adap istiadat yang kita anut. Kalau kita hendak memaksakan budaya kita supaya diikuti orang lain, itu berarti serempak kita sementara menolak keberagaman dan diversity kita sebagai suatu bangsa yang besar. Padahal di negeri sebesar Nusantara ini, multicultural dan diversity adalah sebuah keniscayaan.

Keragaman budaya atau “cultural diversity” di Indonesia adalah suatu kenyataan. Dan kenyataan ini tidak mesti dan tidak boleh kita tolak. Tapi memang pada satu sisi kenyataan itu bisa menjadi potensi yang teramat bagus. Potensi yang tidak berkesudahan kalau kita mampu mengelolanya, tapi di sisi lain dapat memunculkan konflik. Kenapa? Ya, kalau kita tidak mampu mengatur dan saling menghargai keberagaman budaya yang ada, dapat saja memicu suatu konflik. Kita harus memiliki apa yang saya istilahkan sebagai “multicultural management” dan “multicultural understanding.”

Thursday, June 21, 2012

Jangan Remehkan Mereka Yang Memiliki Kulit Hitam


Si Kulit Hitam Alias "Black People"


Setelah begitu lama bercokol dan bergaul dengan masyarakat Amerika di Jersey dan New York, saya melihat bahwa di Amerika yang modern dan begitu maju ternyata masih saja ada dan terlihat jelas pun yang tersamar tindakan diskriminatif terhadap orang kulit hitam dan kulit berwarna. Walaupun sudah sering dikampanyekan tentang anti rasisme dan diskriminasi tapi tetap saja tak bisa dipungkiri hal itu masih banyak terjadi. Warga kulit hitam dan kulit berwarna sepertinya masih ditempatkan sebagai warga negara kelas dua dan kelas tiga. Pernah untuk antri makan di sebuah rumah makan, beberapa teman saya dilayani belakangan padahal sudah antri duluan, hanya diolehkarenakan mereka memiliki kulit berwarna sawo matang. Ada juga kawan saya yang lain, asal Kenya (warga kulit hitam) mendapat perlakuan dan penghinaan yang tak pantas oleh beberapa orang kulit putih yang menganggap diri mereka lebih superior.      

Lantas kita mungkin bertanya-tanya, apakah dengan demikian maka warga kulit putih adalah lebih unggul, lebih hebat, dan lebih mulia? Tentu tidak. Sebab di mata Allah sang pencipta, kita ini semuanya sama dan setara. Nasib dan warna kulit kita boleh berbeda tapi Ia tidak memperhitungkan itu sebagai syarat kita menjadi lebih mulia di hadapanNya.  Jangan pernah berpikir bahwa Allah akan tertarik hanya dengan melihat warna kulit kita. Sama sekali tidak. Di mataNya, yang kulit putih, kulit hitam, maupun kulit berwarna tetaplah sama. Yang satu tidak lebih mulia dari yang lain. Yang satu tidak lebih rendah dari yang lain.

Ada sebuah kisah unik yang terjadi pada tanggal 20 Oktober 1968. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 7.00 malam, nampak beberapa ribu penonton masih memadati Mexico City Olympic Stadium. Pada saat itu juga suasananya sudah mulai gelap dan dingin. Para pelari marathon yang tak kuat lagi dan sudah kehabisan tenaga dibawa lari ke pos-pos pertolongan pertama. Mereka dirawat dan diobati. Nah, lebih dari satu jam sebelumnya, seorang bernama Marco Wolde dari Etiopia melintasi garis finish, menjadi pemenang dari lomba lari sejauh 26 mil 385 yard tersebut. Ia menjadi juara satu, meraih medali emas untuk negaranya. Tapi bukan sosok dia yang akan saya soroti kali ini. Tapi seseorang yang menjadi juara paling belakang alias juara satu dari belakang.

Monday, June 11, 2012

Perbudakan Harus Ditiadakan




Perbudakan merupakan bagian integral dari kehidupan ekonomi masyarakat Yunani purba dan selama berabad-abad perbudakan telah diterima sebagai hal yang benar dan tidak ada yang salah dengan hal itu. Memang bagi masyarakat mereka hal itu sudah semesti seperti itu dan harus seperti itu suka atau tidak suka. Pernah ada yang coba-coba menentang masalah perbudakan itu, sebut saja seperti apa yang digaung-gaungkan oleh seorang Filsuf bernama Plato di dalam The Laws, tetapi justru hal itu segera ditantang oleh filsuf lainnya bernama Aristoteles, saya lebih senang menyebutnya sebagai Kakek Aris. Ia menegaskan bahwa perbudakan yang baik dan benar adalah perbudakan berdasarkan kodrat, maka sesungguhnya Aristoteles telah meletakan dasar yang lebih kokoh lagi bagi perbudakan yang memang telah lama berlangsung dan yang selama itu dianggap (sudah) benar. Mereka yang menentang perbudakan dianggap menentang kodrat. Heemmmm, apa memang harus demikian?

Menurut kakek Aris bahwa dalam suatu rumah tangga sebenarnya terdapat tiga hubungan. Ketiga hubungan itu adalah, hubungan antara suami dan istri, hubungan antara ayah dan anak, serta hubungan antara tuan dan budak. Hubungan antara tuan dan budak disebut sebagai pertuanan (mastership), hubungan antara suami dan sitri disebut perkawinan (matrimonial) dan hubungan antara ayah dan anak disebut perbapakan (paternal).

Nah, dalam manajemen rumah tangga, satu-satunya hubungan yang memiliki nilai ekonomis bagi kesejahteraan rumah tangga ialah hubungan pertuanan (mastership). Oleh karenanya menurut si Kakek Aris bahwa memiliki budak adalah merupakan suatu keharusan bagi setiap keluarga yang mengaku sebagai warga negara. Dan mereka yang disebut warga negara haruslah dibebaskan dari segala jenis pekerjaan kasar atau pekerjaan apapun yang bertujuan untuk memperoleh nafkah, karena hanya dengan demikian mereka dapat memusatkan perhatian pada urusan negara. Budaklah yang harus bekerja demi nafkah hidup keluarga tuannya dan dari situ pulalah ia memperoleh nafkah.

Sunday, June 3, 2012

Jadilah Orang Baik Terhadap Semua Perbedaan


Jadilah Orang Baik Walaupun Berbeda

Menjadi orang yang baik adalah impian semua umat manusia di dunia ini. Entahkah ia miskin atau kaya, raja atau rakyat jelata, semuanya tentu ingin menjadi orang baik yang baik-baik saja hidupnya. Tapi apa sih kriteria menjadi orang baik itu? Apakah karena dianya dekat dengan Sang Pencipta? Atau karena sikapnya yang santun? Karena ia orang yang bijaksana, dan selalu berpikir bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara? Ataukah orang baik itu adalah mereka yang tekun dan rajin beribadah? Mungkin saja semuanya itu betul, tapi bagi saya semuanya itu masih kurang kalau belum ditambah dengan sikap menghargai dan mau menerima perbedaan.

Bagi umat muslim, prinsip-prinsip yang sudah dijunjung oleh Nabi Muhammad seperti aturan paten yang memang tidak bisa di rubah. Bahwa pada dasarnya manusia hidup di dunia ini hanyalah untuk berbuat baik. Lihatlah dan dengarlah ceramah-ceramah agama yang selalu dan selalu saja “menyuruh” orang untuk selalu dekat dengan Tuhan. Memikirkan akhirat adalah hal yang utama dan selalu diajar-ajarkan. Terus terang saja walau saya bukan muslim tapi saya kagum dengan sosok-sosok seperti Aa. Gym, Alm. Zainuddin MZ, Gus Dur, Cak Nur, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang mengajarkan banyak kebaikan tanpa pernah menyepelekan tentang betapa pentingnya menghargai perbedaan.

Bagi umat kristiani tentu saja keteladanan Yesus Kristus harus terus dipelajari, dan bukan hanya itu saja, tapi juga supaya diusahakan sebisanya untuk mengejahwantahkan dalam perbuatan setiap hari. Segala kebaikan yang Ia ajarkan. Segala teladan yang Ia sudah tunjukkan. Termasuk bagaimana mengasihi sesama manusia, dan bukan hanya sesama manusia yang seagama saja. Mengasihi sesama manusia, titik! Bukan sesama orang Kristen saja.

Friday, June 1, 2012

Kaya Hati Miskin Harta?

Judul di atas itu hanyalah sebuah istilah belaka. Tapi istilah itu sesungguhnya akan terlihat makna dan kebenarannya pada beberapa gambaran pengalaman dan kenyataan masing-masing kita. Di manapun kita tinggal, kita akan terus bersinggungan dengan dua kata ini: Miskin - Kaya. Dan keabsahan dari apa yang saya tulis itu akan dibuktikan seiring berjalannya waktu. Bahwa mind-set kita pun tidak terlepas dari pergulatan antara miskin dan kaya. Mau tetap miskin atau ingin menjadi orang superkaya? Tanpa sadar juga kita mulai mengotak-ngotakkan dan mengelompokkan antara si miskin dan si kaya.

Di negara super maju seperti Amerika yang sangat kaya ternyata masih banyak bentuk kemiskinan lainnya. Yang paling mencolok adalah kebersamaan kekeluargaan. Miskinnya kebersamaan keluarga. Miskinnya kekeluargaan dalam kebersamaan dan kebersamaan dalam kekeluargaan. Apa maksudnya? Begini, di negara yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip liberasi atau kebebasan itu ternyata ada hukum tak tertulis tapi tersurat yang intinya bahwa anak berusia di atas 18 tahun sudah harus berdiri sendiri. Harus mandiri.

Anak yang sudah menikah “tabu” untuk tetap tinggal di bawah “asuhan” orang tua atau tinggal seatap di rumah mertua, hal mana mengandung dua kecenderungan anggapan. Pertama, hal itu dianggap baik karena menunjukkan tingkat kemandirian seseorang. Kedua, terlihat penonjolan kenegatifan cara berpikir, bahwa tingkat kekerabatan dan kerukunan keluarga yang kurang peduli dan kurang erat lagi. Dan tentu saja akan menampak di situ unsur individualitas yang tinggi. Pokoknya kalau sudah keluar rumah ”who cares” apa yang mau terjadi. Memang untuk urusan sekolah pun sejak masih kecil anak-anak sudah dilatih. Di banyak sekolah dasar di Amerika, budaya mandiri itu sudah diajarkan. Dilarang saling pinjam pensil, penghapus, penggaris, atau apa pun. Tiap murid harus mandiri. Barang siapa meminjam sesuatu dari kawan dihukum oleh guru. Tapi untuk sekolah dasar di banyak desa di Indonesia masih sangat kental budaya pinjamnya. Murid-murid merasa saling pinjam justru menunjukkan kekerabatan.