Blog ini berisikan, cerita-cerita Michael, baik berupa catatan perjalanan, opini-opini maupun bentuk-bentuk tulisan lainnya. Juga dalam Blog ini tidak lupa disertakan tampilan-tampilan foto, dimana melalui foto tersebut tertuang maksud si tukang foto. Sebab kadang kala melalui foto, isi cerita lebih nyata untuk dimengerti dan dihayati.As long as you are still alive, you are capable of changing and growing. You can do anything you want to do, be anything you want to be. Cheers...
Sunday, August 28, 2011
Kenapa Banyak Artis Pilih Amerika?
Apa yang menyebabkan begitu banyak artis/penyanyi / grup musik (celebrity) Indonesia hijrah, sekolah atau belajar dunia acting di Amerika? Walau banyak yang sekedar jalan-jalan, tapi tidak sedikit yang memang berniat ke Amerika untuk belajar pun untuk menetap.
Menurut CelebrityNews begitu banyaknya artis yang sudah dan berniat untuk sekolah akting di Amerika beberapa diantaranya adalah Luna Maya, mantan presenter dahsyat, yang sementara belajar serius dan menekuni dunia kesutradaraan. Ia berniat untuk fokus sekolah mengenai sutradara di Amerika Serikat.
“Sekolah broadcast mungkin saja, why not? Kalau ada uangnya aku mau ngambil short course di New York atau LA karena mereka kan pusatnya. Paling enggak pergi selama enam bulan atau setahun untuk belajar teknis menjadi sutradara. Kalau feel sama rasa kan belajar dimana saja bisa. Tapi kalau teknis kan perlu dipelajari,” (Luna Maya: CelebrityNews).
Social Security Bagi Warga Indonesia? Why Not...
Pertanyaan simple ini pernah saya tanyakan atau usulkan kepada Dr.Ryaas Rasyid seorang pakar otonomisasi dan desentralisasi pada waktu ia berkunjung ke Amerika Serikat beberapa tahun lalu. Saya bilang kenapa tidak sebaiknya setiap penduduk Indonesia diusahakan untuk memiliki Social Security Number (Nomor Jaminan Sosial) atau di Amerika dikenal dengan SSN (SS#). Beliau bilang hal itu sudah pernah ia pikirkan tapi masalahnya teknologi di Indonesia belum sepenuhnya bisa mendukung.
Pertama mari kita buka-buka dulu, makanan macam apa sih SS itu? Social Security adalah suatu nomor unik yang diberikan bagi setiap warga negara sejak ia lahir, atau juga bagi para pendatang (immigrant) yang secara khusus mendapat ijin kerja (working permit) atau juga kepada mereka yang telah pindah kewarganegaraan. Nah, SSN ini unik dan setiap yang memiliki nomor ini akan mendapatkan kartu yang dinamakan Kartu Jaminan Sosial atau Social Security Card. Tidak ada pemilik SSN yang memiliki nomor yang sama. Bagi warga Amerika atau pun pendatang yang bekerja di Amerika, SSN ini adalah “nyawa” mereka. Tanpa ini segala sesuatu akan sulit dan terhambat. Ibarat mobil tanpa roda. Tidak bisa bergerak, kalaupun bisa jalannya pasti terseok-seok lalu mogok.
Pertama mari kita buka-buka dulu, makanan macam apa sih SS itu? Social Security adalah suatu nomor unik yang diberikan bagi setiap warga negara sejak ia lahir, atau juga bagi para pendatang (immigrant) yang secara khusus mendapat ijin kerja (working permit) atau juga kepada mereka yang telah pindah kewarganegaraan. Nah, SSN ini unik dan setiap yang memiliki nomor ini akan mendapatkan kartu yang dinamakan Kartu Jaminan Sosial atau Social Security Card. Tidak ada pemilik SSN yang memiliki nomor yang sama. Bagi warga Amerika atau pun pendatang yang bekerja di Amerika, SSN ini adalah “nyawa” mereka. Tanpa ini segala sesuatu akan sulit dan terhambat. Ibarat mobil tanpa roda. Tidak bisa bergerak, kalaupun bisa jalannya pasti terseok-seok lalu mogok.
Thursday, June 30, 2011
Menertawakan Diri Sendiri Itu Penting.
Menertawakan Diri Sendiri Itu Penting.
Kepala orang ini tiba-tiba ada di dalam tubuh seekor kalkun raksasa. Di hari yang lain ia secara tiba-tiba berada di dalam kamar operasi dan bertindak sebagai seorang dokter, duh! Betapa kagetnya pasien ketika melihat siapa dokter di hadapannya itu. Ia juga pernah makan ikan hias hidup-hidup saking laparnya dan tidak ada lunch bagi dirinya. Ikan itu diselip di antara roti tawar miliknya berikut selembar sayur kol. Itulah beberapa adegan lucu seorang Rowan Atkinson yang berperan sebagai Mr.Bean.
Kita sering dibuat tertawa oleh adegan-adegan film lucu. Salah satunya adalah film Mr.Bean ini. Adegan lucu Mr.Bean bahkan membuat kita terbahak tanpa mendengar ia berbicara sama sekali. Gerakannya, mimik mukanya, tatapannya dan gerak-geriknya saja sudah membuat kita geli dan tertawa.
Tertawa itu sehat. Tertawa itu obat awet muda, bahkan ada pendapat seperti itu. Tertawa itu membuat hati kita senang. Bahkan pun ketika kita sementara menertawai orang lain. Memang naluriah dasar manusia adalah menjadikan orang lain itu sebagai objek, termasuk dalam hal tertawa. Artinya, kita begitu senang ketika bisa menertawakan orang lain. Waktu kita kecil, melihat teman kita terjatuh kita tertawa secara spontan, merasa lucu. Setelah dewasa pun kita tertawa ketika melihat ada orang lain yang “jatuh”, walau kita bukan tertawa lucu lagi, melainkan tertawa senang. Senang lawan kita jatuh, kalah, tersingkir, terluka dan masih banyak lagi.
Kemudian marilah kita lihat acara-acara TV yang sering membuat kita tertawa sekuat-kuatnya, terpingkal-pingkal ketika melihat kejadian-kejadian spontan di acara-acara seperti “spontan”, “big laugh”, “America’s funniest home video” dan masih banyak lagi. Orang mengerjai orang lain membuat kita tertawa. Orang dikerjai orang lain membuat kita tertawa. Orang kena musibah kita tertawai. Memang ada juga video kelucuan sering dengan sengaja dibuat (dibuat-buat) untuk memancing tawa. Tapi bagaimana kalau kita ada di posisi orang-orang yang ditertawai itu?
Kepala orang ini tiba-tiba ada di dalam tubuh seekor kalkun raksasa. Di hari yang lain ia secara tiba-tiba berada di dalam kamar operasi dan bertindak sebagai seorang dokter, duh! Betapa kagetnya pasien ketika melihat siapa dokter di hadapannya itu. Ia juga pernah makan ikan hias hidup-hidup saking laparnya dan tidak ada lunch bagi dirinya. Ikan itu diselip di antara roti tawar miliknya berikut selembar sayur kol. Itulah beberapa adegan lucu seorang Rowan Atkinson yang berperan sebagai Mr.Bean.
Kita sering dibuat tertawa oleh adegan-adegan film lucu. Salah satunya adalah film Mr.Bean ini. Adegan lucu Mr.Bean bahkan membuat kita terbahak tanpa mendengar ia berbicara sama sekali. Gerakannya, mimik mukanya, tatapannya dan gerak-geriknya saja sudah membuat kita geli dan tertawa.
Tertawa itu sehat. Tertawa itu obat awet muda, bahkan ada pendapat seperti itu. Tertawa itu membuat hati kita senang. Bahkan pun ketika kita sementara menertawai orang lain. Memang naluriah dasar manusia adalah menjadikan orang lain itu sebagai objek, termasuk dalam hal tertawa. Artinya, kita begitu senang ketika bisa menertawakan orang lain. Waktu kita kecil, melihat teman kita terjatuh kita tertawa secara spontan, merasa lucu. Setelah dewasa pun kita tertawa ketika melihat ada orang lain yang “jatuh”, walau kita bukan tertawa lucu lagi, melainkan tertawa senang. Senang lawan kita jatuh, kalah, tersingkir, terluka dan masih banyak lagi.
Kemudian marilah kita lihat acara-acara TV yang sering membuat kita tertawa sekuat-kuatnya, terpingkal-pingkal ketika melihat kejadian-kejadian spontan di acara-acara seperti “spontan”, “big laugh”, “America’s funniest home video” dan masih banyak lagi. Orang mengerjai orang lain membuat kita tertawa. Orang dikerjai orang lain membuat kita tertawa. Orang kena musibah kita tertawai. Memang ada juga video kelucuan sering dengan sengaja dibuat (dibuat-buat) untuk memancing tawa. Tapi bagaimana kalau kita ada di posisi orang-orang yang ditertawai itu?
Sunday, June 12, 2011
Disable atau Diffable?
Mereka Berbeda Tapi Tetap Sama
Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, satu dari rata-rata enam penduduk di hampir tiap negara adalah penyandang cacat atau penyandang kelainan bawaan. Kita tidak menduga bahwa jumlah penyandang cacat itu begitu banyak, sebab ada kecenderungan bahwa mereka tidak tampil di depan umum. Ada keluarga yang menyembunyikan anaknya yang cacat untuk melindungi dia dari rasa malu. Akibatnya anak ini malah betul-betul menjadi malu dan hilang rasa percaya diri. Ada gedung sekolah yang bagus, namun tidak menyediakan lerengan (ramp) dan toilet untuk kursi roda. Seolah-olah menolak siswa berkursi roda, padahal siswa yang cacat justru sering terbukti lebih cerdas dan lebih ulet. Ada perusahaan yang apriori menolak pelamar yang cacat.
Pengalaman saya di Amerika telah membuka mata hati saya lebih lebar lagi. Memahami yang berbeda itu sebagai suatu keindahan. Perbedaan itu indah kalau diterima dengan hati yang terbuka. Saya melihat bahwa sungguh-sungguh orang-orang cacat itu dihargai. Di tempat antrian selalu saja ada jalur khusus untuk orang cacat. Di parkiran (parking lot) selalu ada tempat khusus untuk orang cacat, kalau Anda parkir mobil di tempat khusus orang cacat, siap-siaplah untuk bayar ticket denda yang tidak sedikit dari polisi. Di mall-mall ada jalur khusus untuk orang cacat. Di rumah sakit, di tempat ibadah, di perpustakaan, di apartemen-apartemen, di wc umum pun ada tempat duduk khusus/ruang khusus dan di mana-mana selalu ada tempat khusus untuk orang yang cacat. Mereka itu special.
Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, satu dari rata-rata enam penduduk di hampir tiap negara adalah penyandang cacat atau penyandang kelainan bawaan. Kita tidak menduga bahwa jumlah penyandang cacat itu begitu banyak, sebab ada kecenderungan bahwa mereka tidak tampil di depan umum. Ada keluarga yang menyembunyikan anaknya yang cacat untuk melindungi dia dari rasa malu. Akibatnya anak ini malah betul-betul menjadi malu dan hilang rasa percaya diri. Ada gedung sekolah yang bagus, namun tidak menyediakan lerengan (ramp) dan toilet untuk kursi roda. Seolah-olah menolak siswa berkursi roda, padahal siswa yang cacat justru sering terbukti lebih cerdas dan lebih ulet. Ada perusahaan yang apriori menolak pelamar yang cacat.
Pengalaman saya di Amerika telah membuka mata hati saya lebih lebar lagi. Memahami yang berbeda itu sebagai suatu keindahan. Perbedaan itu indah kalau diterima dengan hati yang terbuka. Saya melihat bahwa sungguh-sungguh orang-orang cacat itu dihargai. Di tempat antrian selalu saja ada jalur khusus untuk orang cacat. Di parkiran (parking lot) selalu ada tempat khusus untuk orang cacat, kalau Anda parkir mobil di tempat khusus orang cacat, siap-siaplah untuk bayar ticket denda yang tidak sedikit dari polisi. Di mall-mall ada jalur khusus untuk orang cacat. Di rumah sakit, di tempat ibadah, di perpustakaan, di apartemen-apartemen, di wc umum pun ada tempat duduk khusus/ruang khusus dan di mana-mana selalu ada tempat khusus untuk orang yang cacat. Mereka itu special.
Friday, June 10, 2011
Lebih Mengenal English Idiom
“Masuk Kandang Kambing Mengembik, Masuk Kandang Singa Mengaum”, ada lagi “Di Mana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung”. Itulah beberapa contoh pribahasa yang sering kita jumpai. Nah, kalau pribahasa diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris secara literal maka sangat pasti orang yang berbahasa Inggris tidak akan pernah memahaminya. Bagi mereka sangat aneh kalau harus masuk ke kandang kambing dan mengaum, lalu mengapa pula harus masuk ke kandang singa? Mati dong diterkam. Pribahasa yang makna/artinya kurang lebih sama dengan itu harus sesuai konteksnya. Kalau di Amerika dikenal dengan “If You In Rome, Do As Romans Do”. Dan itu sama dengan “Masuk Kandang Kambing Mengembik, Masuk Kandang Singa Mengaum”.
Memang mempelajari pribahasa atau frasa bahasa Inggris ( English Idiom or phrase) sangat menarik. Kadang lucu dan unik. Menggelitik. Tapi juga membuka wawasan kita. Mendapat pengetahuan baru dan seterusnya.
Saya akan coba menampilkan beberapa idiom yang sering dipakai atau digunakan secara umum. Kalau kita mendengar idiom A Blessing In Disguise tidak bolehlah menerjemahkannya sebagai Berkat Yang Tersamar. Karena arti sesungguhnya adalah sesuatu yang baik, indah, bagus yang nanti diketahui kemudian. Tidak langsung diketahui pada pandangan pertama.
Ada juga yang terdengar sungguh feminine, mari kita simak kalimat pribahasa ini
A Picture Paints a Thousand Words artinya: Presentasi melalui visualisasi adalah jauh lebih mengena dan deskriptif daripada sekedar berkata-kata. Lalu ada yang mirip dengan itu: A Picture is Worth a Thousand Words . Seperti yang bisa dilihat melalui video lucu dari Youtube ini,.
Memang mempelajari pribahasa atau frasa bahasa Inggris ( English Idiom or phrase) sangat menarik. Kadang lucu dan unik. Menggelitik. Tapi juga membuka wawasan kita. Mendapat pengetahuan baru dan seterusnya.
Saya akan coba menampilkan beberapa idiom yang sering dipakai atau digunakan secara umum. Kalau kita mendengar idiom A Blessing In Disguise tidak bolehlah menerjemahkannya sebagai Berkat Yang Tersamar. Karena arti sesungguhnya adalah sesuatu yang baik, indah, bagus yang nanti diketahui kemudian. Tidak langsung diketahui pada pandangan pertama.
Ada juga yang terdengar sungguh feminine, mari kita simak kalimat pribahasa ini
A Picture Paints a Thousand Words artinya: Presentasi melalui visualisasi adalah jauh lebih mengena dan deskriptif daripada sekedar berkata-kata. Lalu ada yang mirip dengan itu: A Picture is Worth a Thousand Words . Seperti yang bisa dilihat melalui video lucu dari Youtube ini,.
Saturday, June 4, 2011
Belajar Dari Sosok Oprah Winfrey
Siapa tidak kenal Oprah Winfrey…Acara The Oprah Winfrey Show ditayangkan oleh TV hampir di seluruh dunia. Majalah The Oprah Winfrey Magazine beredar sebanyak tiga juta eksemplar. Lalu ada Oprah Winfrey Book Club tempat Oprah membahas buku. Buku yang dibahas langsung laris. Bahkan buku yang sudah seabad seperti Anna Karenina karangan Leo Tolstoy tahun 1877 langsung menjadi best seller lagi.
Salah satu acara TV Oprah mengangkat tema pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap anak kecil. Oprah berkata, “I speak from personal experience because I was raped by a relative.” Artinya, “Saya berbicara dari pengalaman pribadi sebab saya pernah diperkosa seorang kerabat.”
Realitas TV Show dan Wanita Cantik.
Realitas TV Show dan Wanita Cantik.
Program-program acara televisi seperti TV Show dan atau Reality Show sepertinya sangat erat dengan sosok wanita. Dalam arti bahwa wanita sering dijadikan “objek” demi rating atau popularitas. Sadar atau tidak memang daya tarik suatu acara dengan ada tidaknya sosok wanita ternyata besar pengaruhnya. Ada daya tarik tersendiri. Ada magnet tersendiri. Lihat saja acara-acara seperti Bukan Empat Mata. Acara yang menempati ranking nomor wahid paling popular itu. Setiap kali tayang, pasti ada bintang tamu wanita cantiknya. Bahkan Tukul selalu didampingi dua wanita di setiap penampilannya. Kemudian lihat juga Opera Van Java (OVJ), hampir pasti di setiap tayangan pasti ada bintang tamu wanita cantik, bahkan yang tidak bisa acting pun hadir di situ. Saya pernah nonton seorang bintang tamunya bahkan tidak bisa membalas percakapan dengan si Sule. Ia hanya cekikikan, sedikit senyum lalu tertawa geli. Ada juga yang sangat grogi dan malu-malu. Ada yang asal sudah tampil, semuanya beres. Everything else-- it’s ok.
Tapi itulah realitanya. Di situlah daya tariknya. Tanpa wanita seakan semuanya terasa hambar. Bayangkan saja Kompasiana ini tanpa kehadiran wanita. Tanpa kehadiran wanita, belumlah lengkap. Ibarat kopi tanpa gula, atau nasi tanpa lauk.
Tapi kadang realita itu terlalu dieksploitasi sedemikian rupa demi rating dan money. Di Amerika terlihat jelas program-program TV yang terlalu mengkomersialisasikan wanita, tanpa memperhitungkan negative side dari tayangan-tayangan seperti itu.
Program-program acara televisi seperti TV Show dan atau Reality Show sepertinya sangat erat dengan sosok wanita. Dalam arti bahwa wanita sering dijadikan “objek” demi rating atau popularitas. Sadar atau tidak memang daya tarik suatu acara dengan ada tidaknya sosok wanita ternyata besar pengaruhnya. Ada daya tarik tersendiri. Ada magnet tersendiri. Lihat saja acara-acara seperti Bukan Empat Mata. Acara yang menempati ranking nomor wahid paling popular itu. Setiap kali tayang, pasti ada bintang tamu wanita cantiknya. Bahkan Tukul selalu didampingi dua wanita di setiap penampilannya. Kemudian lihat juga Opera Van Java (OVJ), hampir pasti di setiap tayangan pasti ada bintang tamu wanita cantik, bahkan yang tidak bisa acting pun hadir di situ. Saya pernah nonton seorang bintang tamunya bahkan tidak bisa membalas percakapan dengan si Sule. Ia hanya cekikikan, sedikit senyum lalu tertawa geli. Ada juga yang sangat grogi dan malu-malu. Ada yang asal sudah tampil, semuanya beres. Everything else-- it’s ok.
Tapi itulah realitanya. Di situlah daya tariknya. Tanpa wanita seakan semuanya terasa hambar. Bayangkan saja Kompasiana ini tanpa kehadiran wanita. Tanpa kehadiran wanita, belumlah lengkap. Ibarat kopi tanpa gula, atau nasi tanpa lauk.
Tapi kadang realita itu terlalu dieksploitasi sedemikian rupa demi rating dan money. Di Amerika terlihat jelas program-program TV yang terlalu mengkomersialisasikan wanita, tanpa memperhitungkan negative side dari tayangan-tayangan seperti itu.
Tuesday, May 31, 2011
Kendala Bahasa Inggris dan American Slang
Kalau suatu saat punya kesempatan jalan-jalan ke Amerika, atau berbicara dengan native speaker asal Amerika jangan sampai salah mengartikan apa yang mereka ucapkan. Kebanyakan orang Amerika kota sering menggunakan slang atau juga kata-kata plesetan yang bukan ungkapan resmi. Bahkan ada kata-kata yang sama sekali tidak akan ditemukan di kamus.
Banyak kisah unik ketika berbicara dengan mereka yang tinggal di daerah perkotaan yang padat atau pun juga mereka yang tinggal di desa yang sangat terpencil. Dialek juga kadang terasa membingungkan, orang selatan menyebut kata “park” dengan mereka yang dari utara Amerika sangat berbeda terdengarnya. Sengaunya kadang membingungkan para pendatang yang tidak terbiasa mendengarnya. Jangankan pendatang (turis), yang penduduk asli Amerika saja kadang bingung. Misalnya cara bicara orang dari provinsi (state) Rhode Island (RI) dan Texas untuk kata-kata tertentu sulit dimengerti oleh mereka yang tinggal misalnya di New York dan NJ.
Monday, May 30, 2011
Dokter Kita Mungkin Harus Belajar Dari Patch Adams
Dokter Kita Mungkin Harus Belajar Dari Patch Adams
Pengalaman tidak sedap sungguh ketika menghadapi dokter yang galak, tidak ramah dan kasar. Tapi mungkin kita hanya bisa melongo dan menunduk sedih. Tidak bisa apa-apa karena kita yang datang berobat dan merekalah yang mengobati kita. Padahal dokter harusnya bisa memahami kondisi pasien tidak hanya secara fisik tapi juga psikologis sang pasien. Harusnya dokter menciptakan hubungan yang akrab dengan pasien, agar tiap pasien merasa dirinya dihargai dan ia bergembira. Bukankah hati gembira adalah obat yang manjur?
Saya mengalami pengalaman yang tidak sedap itu ketika mengantar tante saya ke rumah sakit terkenal di kota saya. Rumah sakit dengan semboyan “Pelayanan Kami Adalah Yang Terbaik” serasa hanya sedap dipandang mata. Tapi kenyataannya dokter yang bekerja di situ kurang memahami apa arti semboyan itu. Bayangkan, waktu itu sudah agak sore dan tante saya sudah menempati ruang lantai dua sejak jam 1 siang tapi pelayanan kok hanya dari para suster, mana dokternya? Nah, akhirnya datanglah dokter setenga baya itu sembari mulai memeriksa tante saya. Setelah itu dokter bilang, “oke, malam ini ibu harus nginap di rumah sakit karena masih ada pemeriksaan lebih intensif besok pagi”.
Saya masih menemani tante saya sampai pukul 8 malam. Ketika saya berencana untuk keluar buat cari makan, tiba-tiba pintu ruang terbuka dan ada dokter muda, cantik tapi kelihatan agak galak masuk, dan sambil kaget dokter itu bilang dengan ketusnya, “lho, kok tante masih disini? Pulang saja. Tante itu tidak apa-apa, bikin penuh ruangan saja! ‘Kan bisa di pakai buat pasien lain.” Lho, balik saya yang jadi kaget. Apa RS ini tidak ada koordinasinya? Dokter yang satu bilang supaya tinggal, kok dokter muda ini dengan galak dan kasarnya ngusir tante saya pulang? Apa haknya? Saya bilang “Dok, tante saya bayar dan datang berobat bukan untuk dibentaki dan dikasarin. Ada dokter lain yang suruh tante saya nginap!”. Ia terlihat tergesa-gesa hanya menulis beberapa list dan ngeloyor pergi sambil nyeletuk “Sorry, saya tidak tahu!!”
Ini bukan kali pertama. Teman saya juga menceritakan pengalaman mengantar neneknya berobat. Pelayanan dokter katanya sangat mengecewakan. Karena neneknya bergerak lambat---maklumlah sudah tua renta tentu saja lambat---ia dibentak-bentakin dokter, “Cepat dikit oma, saya juga harus menangani pasien lain!”. Dokter kok galak amat sih. Pikir saya. Harusnya mereka memiliki kesabaran, keramahan dan santun. Bukankah katanya dokter adalah pekerjaan mulia seperti juga guru?
Saya tidak mau terjebak dalam sikap generalitatif. Memanglah tidak semua RS sama, demikian pula tidak semua dokter sama seperti contoh dua dokter tadi. Dan kejadian seperti ini bukan hanya di Indonesia. Di rumah sakit sekelas JFK (John F Kennedy Hospital) Di NJ Amerika pun punya beberapa kasus yang sama. Ketika saya mengantar teman kerja saya yang kesakitan luar biasa ---belakang saya baru tahu ia mengalami hiatus hemia atau sakit maag yang sangat akut---pelayanan mereka justru sangat lambat. Padahal saya bilang tangani saja sembari saya memberesi urusan administrasinya. “You are not going to let him suffer or die first, are you?” Malah dengan ketusnya salah seorang dokter bilang “So what?”
Saya jadi Robin William, aktor terkenal peraih beberapa piala Oscar yang bermain dalam film Patch Adams dan berperan sebagai Patch Adams. Ia adalah seorang mahasiswa kedokteran yang unik. Tapi film ini dibuat berdasarkan kisah nyata di Virginia. Sekitar tiga jam naik mobil ngebut kalau dari tempat saya Edison, NJ. Dalam kisahnya si Patch itu paling pandai di kelasnya dan termasuk peringkat atas. Ia juga sangat suka melucu. Tapi hobi melucu itu berakibat buruk baginya. Dekan sekolah kedokteran menganggap bahwa perbuatan melucu Patch telah melanggar peraturan rumah sakit. Akibatnya, Patch terancam dipecat, padahal wisuda tinggal beberapa bulan lagi.
Banyak contoh dalam film itu bagaimana Patch melucu, lihat saja bagaimana ia masuk ke bangsal anak-anak penderita kanker. Muka mereka pucat. Rambut mereka sudah rontok. Wajah mereka sayu. Mereka hanya terbaring lemas. Lalu Patch mendekati seorang anak, lalu ia tersenyum dan menyapa dengan mimik muka lucu. Anak ini tertawa. Anak-anak lain di bangsal itu mendengar lalu menoleh. Patch kemudian mulai melucu bagaikan badut di tengah bangsal. Semua anak bersorak. Mereka tertawa terpingkal-pingkal sampai melompat-lompat di ranjang.
Patch juga melucu dalam hal lain. Ia mendengar bahwa ada seorang oma yang sudah beberapa hari tidak mau makan. Patch meminta staf dapur menyiapkan sebuah bak besar berisi mi kuah. Bak itu lalu diletakkan di halaman rumah sakit. Disoraki oleh puluhan perawat, Patch menggotong oma itu. Lalu mereka berdua mencemplungkan diri ke dalam bak berisi mi kuah itu.
Apa sebenarnya falsafah yang melatarbelakangi Patch melucu? Ia berkeyakinan bahwa tugas seorang dokter bukan sekedar menyembuhkan, sebab tidak semua penyakit bisa disembuhkan. Tugas utama seorang dokter adalah membuat pasien merasa hidupnya bermutu. Patch berkata, “A doctor’s mission shoud be not just to prevent death, but also to improve the quality of life.” Artinya, Bahwa misi seorang dokter tidak hanya mencegah pasien supaya tidak meninggal, tapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup si pasien. Bikinlah pasien merasa dihargai dan bermartabat.
Falsafah Patch ini mendorong ia melakukan beberapa hal. Diantaranya ia menyapa pasien dengan menyebut nama, sebab pasien adalah seorang pribadi bukan kasus. Juga ia berusaha mengurangi rasa cemas pasien dengan bersikap ramah dan santai. Memang dokter selalu sibuk dan ia harus berpikir serius. Tetapi bukankah sebenarnya dokter bisa bersikap lebih ramah dan lebih santai terhadap pasiennya? Sunggulah besar pengaruh senyum dan keramahan dokter terhadap pasiennya. Saya alami dan yakini itu.
Tetapi apa yang diperjuangkan Patch ternyata dihadang oleh dekan sekolah kedokteran. Apakah Patch bisa lulus? Ataukah malah ia dipecat? Kalau Anda berkunjung ke Virginia dan menyaksikan sebuah rumah sakit yang kebanyakan pasiennya berekreasi di taman, bermain-main riang gembira, bercakap-cakap secara berkelompok di kebun maka Anda akan segera tahu apakah patch dipecat atau sebaliknya. Lebih gampangnya nontonlah film Patch Adams itu. Lucu dan menghibur sekaligus mengharukan. Banyak pesan moral untuk profesi dokter.
Kalau saja para dokter yang sangar, kasar dan tidak ramah itu menonton film Patch Adams mungkin mereka bisa merubah sikap dan cara pandang mereka terhadap pasien.Jangan merasa bahwa karena pasienlah yang datang berobat maka martabat mereka jadi lebih rendah daripada mereka yang mengobati para pasien itu. Kalau saja lebih banyak dokter yang bersikap seperti Patch Adams yang mengutamakan sikap ramah dan pendekatan personal alangkah indahnya rumah sakit-rumah sakit kita. Patch telah mendobrak sikap kaku profesi dokter sebagaimana Briptu Norman mendobrak sikap kaku dan sangar para polisi di mata masyarakat. Bukannya maksud Patch agar semua dokter harus jadi seperti badut. Dokter harus berpikir sungguh-sungguh dan serius. Tetapi apakah seorang dokter tidak bisa sedikit lebih ramah? Apakah dokter dilarang untuk tersenyum pada pasien?
Catatan: Film Patch Adams ini diangkat dari kisah nyata Hunter Doherty “Patch” Adams, M.D (lahir May 28 1945di Washington D.C.) Ia kemudian menjadi seorang American Physician yang terkenal, seorang aktivis sosial yang rajin, menjadi diplomat dan penulis buku serta penulis artikel di sejumlah surat kabar. Ia mendirikan Gesundheit! Institute tahun 1971. Setiap tahun ia mengorganisir sebuah grup sukarela dari berbagai penjuru dunia untuk berkeliling dunia ke berbagai negara, mereka mengenakan pakaian seperti badut dengan tujuan membawa hiburan dan humor kepada para anak yatim piatu, para pasien rumah sakit-rumah sakit dan orang lain yang menderita batin.
Michael Sendow
Pengalaman tidak sedap sungguh ketika menghadapi dokter yang galak, tidak ramah dan kasar. Tapi mungkin kita hanya bisa melongo dan menunduk sedih. Tidak bisa apa-apa karena kita yang datang berobat dan merekalah yang mengobati kita. Padahal dokter harusnya bisa memahami kondisi pasien tidak hanya secara fisik tapi juga psikologis sang pasien. Harusnya dokter menciptakan hubungan yang akrab dengan pasien, agar tiap pasien merasa dirinya dihargai dan ia bergembira. Bukankah hati gembira adalah obat yang manjur?
Saya mengalami pengalaman yang tidak sedap itu ketika mengantar tante saya ke rumah sakit terkenal di kota saya. Rumah sakit dengan semboyan “Pelayanan Kami Adalah Yang Terbaik” serasa hanya sedap dipandang mata. Tapi kenyataannya dokter yang bekerja di situ kurang memahami apa arti semboyan itu. Bayangkan, waktu itu sudah agak sore dan tante saya sudah menempati ruang lantai dua sejak jam 1 siang tapi pelayanan kok hanya dari para suster, mana dokternya? Nah, akhirnya datanglah dokter setenga baya itu sembari mulai memeriksa tante saya. Setelah itu dokter bilang, “oke, malam ini ibu harus nginap di rumah sakit karena masih ada pemeriksaan lebih intensif besok pagi”.
Saya masih menemani tante saya sampai pukul 8 malam. Ketika saya berencana untuk keluar buat cari makan, tiba-tiba pintu ruang terbuka dan ada dokter muda, cantik tapi kelihatan agak galak masuk, dan sambil kaget dokter itu bilang dengan ketusnya, “lho, kok tante masih disini? Pulang saja. Tante itu tidak apa-apa, bikin penuh ruangan saja! ‘Kan bisa di pakai buat pasien lain.” Lho, balik saya yang jadi kaget. Apa RS ini tidak ada koordinasinya? Dokter yang satu bilang supaya tinggal, kok dokter muda ini dengan galak dan kasarnya ngusir tante saya pulang? Apa haknya? Saya bilang “Dok, tante saya bayar dan datang berobat bukan untuk dibentaki dan dikasarin. Ada dokter lain yang suruh tante saya nginap!”. Ia terlihat tergesa-gesa hanya menulis beberapa list dan ngeloyor pergi sambil nyeletuk “Sorry, saya tidak tahu!!”
Ini bukan kali pertama. Teman saya juga menceritakan pengalaman mengantar neneknya berobat. Pelayanan dokter katanya sangat mengecewakan. Karena neneknya bergerak lambat---maklumlah sudah tua renta tentu saja lambat---ia dibentak-bentakin dokter, “Cepat dikit oma, saya juga harus menangani pasien lain!”. Dokter kok galak amat sih. Pikir saya. Harusnya mereka memiliki kesabaran, keramahan dan santun. Bukankah katanya dokter adalah pekerjaan mulia seperti juga guru?
Saya tidak mau terjebak dalam sikap generalitatif. Memanglah tidak semua RS sama, demikian pula tidak semua dokter sama seperti contoh dua dokter tadi. Dan kejadian seperti ini bukan hanya di Indonesia. Di rumah sakit sekelas JFK (John F Kennedy Hospital) Di NJ Amerika pun punya beberapa kasus yang sama. Ketika saya mengantar teman kerja saya yang kesakitan luar biasa ---belakang saya baru tahu ia mengalami hiatus hemia atau sakit maag yang sangat akut---pelayanan mereka justru sangat lambat. Padahal saya bilang tangani saja sembari saya memberesi urusan administrasinya. “You are not going to let him suffer or die first, are you?” Malah dengan ketusnya salah seorang dokter bilang “So what?”
Saya jadi Robin William, aktor terkenal peraih beberapa piala Oscar yang bermain dalam film Patch Adams dan berperan sebagai Patch Adams. Ia adalah seorang mahasiswa kedokteran yang unik. Tapi film ini dibuat berdasarkan kisah nyata di Virginia. Sekitar tiga jam naik mobil ngebut kalau dari tempat saya Edison, NJ. Dalam kisahnya si Patch itu paling pandai di kelasnya dan termasuk peringkat atas. Ia juga sangat suka melucu. Tapi hobi melucu itu berakibat buruk baginya. Dekan sekolah kedokteran menganggap bahwa perbuatan melucu Patch telah melanggar peraturan rumah sakit. Akibatnya, Patch terancam dipecat, padahal wisuda tinggal beberapa bulan lagi.
Banyak contoh dalam film itu bagaimana Patch melucu, lihat saja bagaimana ia masuk ke bangsal anak-anak penderita kanker. Muka mereka pucat. Rambut mereka sudah rontok. Wajah mereka sayu. Mereka hanya terbaring lemas. Lalu Patch mendekati seorang anak, lalu ia tersenyum dan menyapa dengan mimik muka lucu. Anak ini tertawa. Anak-anak lain di bangsal itu mendengar lalu menoleh. Patch kemudian mulai melucu bagaikan badut di tengah bangsal. Semua anak bersorak. Mereka tertawa terpingkal-pingkal sampai melompat-lompat di ranjang.
Patch juga melucu dalam hal lain. Ia mendengar bahwa ada seorang oma yang sudah beberapa hari tidak mau makan. Patch meminta staf dapur menyiapkan sebuah bak besar berisi mi kuah. Bak itu lalu diletakkan di halaman rumah sakit. Disoraki oleh puluhan perawat, Patch menggotong oma itu. Lalu mereka berdua mencemplungkan diri ke dalam bak berisi mi kuah itu.
Apa sebenarnya falsafah yang melatarbelakangi Patch melucu? Ia berkeyakinan bahwa tugas seorang dokter bukan sekedar menyembuhkan, sebab tidak semua penyakit bisa disembuhkan. Tugas utama seorang dokter adalah membuat pasien merasa hidupnya bermutu. Patch berkata, “A doctor’s mission shoud be not just to prevent death, but also to improve the quality of life.” Artinya, Bahwa misi seorang dokter tidak hanya mencegah pasien supaya tidak meninggal, tapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup si pasien. Bikinlah pasien merasa dihargai dan bermartabat.
Falsafah Patch ini mendorong ia melakukan beberapa hal. Diantaranya ia menyapa pasien dengan menyebut nama, sebab pasien adalah seorang pribadi bukan kasus. Juga ia berusaha mengurangi rasa cemas pasien dengan bersikap ramah dan santai. Memang dokter selalu sibuk dan ia harus berpikir serius. Tetapi bukankah sebenarnya dokter bisa bersikap lebih ramah dan lebih santai terhadap pasiennya? Sunggulah besar pengaruh senyum dan keramahan dokter terhadap pasiennya. Saya alami dan yakini itu.
Tetapi apa yang diperjuangkan Patch ternyata dihadang oleh dekan sekolah kedokteran. Apakah Patch bisa lulus? Ataukah malah ia dipecat? Kalau Anda berkunjung ke Virginia dan menyaksikan sebuah rumah sakit yang kebanyakan pasiennya berekreasi di taman, bermain-main riang gembira, bercakap-cakap secara berkelompok di kebun maka Anda akan segera tahu apakah patch dipecat atau sebaliknya. Lebih gampangnya nontonlah film Patch Adams itu. Lucu dan menghibur sekaligus mengharukan. Banyak pesan moral untuk profesi dokter.
Kalau saja para dokter yang sangar, kasar dan tidak ramah itu menonton film Patch Adams mungkin mereka bisa merubah sikap dan cara pandang mereka terhadap pasien.Jangan merasa bahwa karena pasienlah yang datang berobat maka martabat mereka jadi lebih rendah daripada mereka yang mengobati para pasien itu. Kalau saja lebih banyak dokter yang bersikap seperti Patch Adams yang mengutamakan sikap ramah dan pendekatan personal alangkah indahnya rumah sakit-rumah sakit kita. Patch telah mendobrak sikap kaku profesi dokter sebagaimana Briptu Norman mendobrak sikap kaku dan sangar para polisi di mata masyarakat. Bukannya maksud Patch agar semua dokter harus jadi seperti badut. Dokter harus berpikir sungguh-sungguh dan serius. Tetapi apakah seorang dokter tidak bisa sedikit lebih ramah? Apakah dokter dilarang untuk tersenyum pada pasien?
Catatan: Film Patch Adams ini diangkat dari kisah nyata Hunter Doherty “Patch” Adams, M.D (lahir May 28 1945di Washington D.C.) Ia kemudian menjadi seorang American Physician yang terkenal, seorang aktivis sosial yang rajin, menjadi diplomat dan penulis buku serta penulis artikel di sejumlah surat kabar. Ia mendirikan Gesundheit! Institute tahun 1971. Setiap tahun ia mengorganisir sebuah grup sukarela dari berbagai penjuru dunia untuk berkeliling dunia ke berbagai negara, mereka mengenakan pakaian seperti badut dengan tujuan membawa hiburan dan humor kepada para anak yatim piatu, para pasien rumah sakit-rumah sakit dan orang lain yang menderita batin.
Michael Sendow
I’m Sorry, Excuse Me? Thank You!
I’m Sorry, Excuse Me? Thank You!
Mungkin ada tiga ucapan paling laris di Amerika. Apa itu? Mereka adalah “I’m sorry”, “Excuse me”, dan “Thank You”. Ucapan-ucapan ini jugalah yang paling banyak saya jumpai, entahkah di tempat kerja, lingkungan apartemen, pergaulan dan di mana saja. Sebenarnya makna yang tersirat dalam ucapan kata-kata itu dalam. Memang dalam keseharian sepertinya ucapan-ucapan itu hanyalah formalitas belaka.
Saya bukain pintu untuk seseorang pastilah akan menerima ucapan “thank you”. Memberi tempat duduk kepada seseorang di bis umum diucapin “thank you”. Hampir apapun yang Anda lakukan untuk seseorang dengan mudahnya mereka akan mengucapkan terima kasih. Ucapin selamat pagi dibalas “Thank you, good morning to you too”. Membeli sesuatu, membayar sesuatu pun diucapin “thank you”, terkecuali merampok jangan harap Anda akan menerima ucapan terima kasih. Bukankah akan ada perasaan terhargai dan dihargai bila seseorang mengatakan “terima kasih” terhadap apapun yang kita lakukan. Sekecil apapun itu?
Lalu ucapan “I’m sorry”. Sering sekali kata yang kemudian disingkat “sorry” ini diucapin di mana-mana. Mau duduk di sebelah seseorang dalam bis umum mereka ngomong “I’m sorry, can I sit next to you?” Bikin kesalahan besar bilang “I’m sorry”, buat kesalahan kecil berucap “I’m sorry”, bahkan tidak bikin kesalahan apapun tetap mengatakan “I’m sorry”. Pernah saya nabrak seorang ibu di depan pintu perpustakaan saking tergesa-gesanya ngejar waktu. Sebelum saya sempat minta maaf, ibu itu malah sudah duluan bilang “I’m sorry sir”. Padahal salah yang salah. Mau antri makanan bilang “I’m sorry”, mau nanya jalan ke polisi pun bilang dulu “I’m sorry officer”. Bahkan mau pulang duluan dari tempat kerja ngomong dulu “I’m sorry but I have to leave now”. Mengungkapkan rasa bela sungkawa banyak yang berujar “I fell so sorry about your lost” (di sini arti sorry bukan maaf tapi rasa prihatin. Turut merasakan duka cita). Merasa agak mengganggu seseorang? Katakan saja “I’m sorry to bother you” Nah, bukankah kita akan merasa “nyaman” ketika mengucapkan “maafkan saya”, lalu yang mendengarnya juga pasti akan respek dengan kata-kata kita.
Ungkapan “Excuse me” termasuk di deretan yang paling sering diucapkan. Anda akan banyak mendengar kata-kata ini di misalnya stasiun, mall, pusat kota. “Excuse me”nya orang yang lalu lalang mendahului Anda akan terdengar jelas di kiri-kanan. “Excuse me” atau permisi ini juga sering di pakai di ruang-ruang rapat misalnya “Excuse me, can I see your report Mike?” Pokoknya seabrek-abreklah penggunaan “excuse me” ini dalam lingkup formal maupun pergaulan sehari-hari. Bertanya marah pun seorang tante berujar dengan “Excuse me…what did you say?” dengan nada yang di tinggi-tinggikan. Teman saya memotong pembicaraan bos besar (mucho grande) dengan “Excuse me sir, I don’t wanna hear nothin’ coz what just happened isn’t my fault!”
Nah, secara berkelakar saya bilang ke teman saya karena terlalu banyak ucapin permisi maka Amerika dan dunia menjadi kian permisif. Tidak ada lagi yang mau mengakui kesalahan walau sudah terbukti bersalah. Apa pun---asal “senang sama senang” dan tidak merugikan siapa-siapa----silahkan saja. Apa pun asal “mau sama mau” dan “tidak saling memaksa”---nggak apa-apalah. Maka terjadilah budaya permisif itu dimana-mana. Janin di bunuh biasa. Kumpul kebo lumrah. Manusia di “cloning”, perang kimia dan nukir oke-oke saja. Virus HIV-AIDS “disebar-luaskan” nggak perlu dipertanyakan. Sangat permisif. Apa-apa boleh. Tapi ini cuma kelakar saya, entah benar atau pun tidak, itu cerita lain.
Michael Sendow
Mungkin ada tiga ucapan paling laris di Amerika. Apa itu? Mereka adalah “I’m sorry”, “Excuse me”, dan “Thank You”. Ucapan-ucapan ini jugalah yang paling banyak saya jumpai, entahkah di tempat kerja, lingkungan apartemen, pergaulan dan di mana saja. Sebenarnya makna yang tersirat dalam ucapan kata-kata itu dalam. Memang dalam keseharian sepertinya ucapan-ucapan itu hanyalah formalitas belaka.
Saya bukain pintu untuk seseorang pastilah akan menerima ucapan “thank you”. Memberi tempat duduk kepada seseorang di bis umum diucapin “thank you”. Hampir apapun yang Anda lakukan untuk seseorang dengan mudahnya mereka akan mengucapkan terima kasih. Ucapin selamat pagi dibalas “Thank you, good morning to you too”. Membeli sesuatu, membayar sesuatu pun diucapin “thank you”, terkecuali merampok jangan harap Anda akan menerima ucapan terima kasih. Bukankah akan ada perasaan terhargai dan dihargai bila seseorang mengatakan “terima kasih” terhadap apapun yang kita lakukan. Sekecil apapun itu?
Lalu ucapan “I’m sorry”. Sering sekali kata yang kemudian disingkat “sorry” ini diucapin di mana-mana. Mau duduk di sebelah seseorang dalam bis umum mereka ngomong “I’m sorry, can I sit next to you?” Bikin kesalahan besar bilang “I’m sorry”, buat kesalahan kecil berucap “I’m sorry”, bahkan tidak bikin kesalahan apapun tetap mengatakan “I’m sorry”. Pernah saya nabrak seorang ibu di depan pintu perpustakaan saking tergesa-gesanya ngejar waktu. Sebelum saya sempat minta maaf, ibu itu malah sudah duluan bilang “I’m sorry sir”. Padahal salah yang salah. Mau antri makanan bilang “I’m sorry”, mau nanya jalan ke polisi pun bilang dulu “I’m sorry officer”. Bahkan mau pulang duluan dari tempat kerja ngomong dulu “I’m sorry but I have to leave now”. Mengungkapkan rasa bela sungkawa banyak yang berujar “I fell so sorry about your lost” (di sini arti sorry bukan maaf tapi rasa prihatin. Turut merasakan duka cita). Merasa agak mengganggu seseorang? Katakan saja “I’m sorry to bother you” Nah, bukankah kita akan merasa “nyaman” ketika mengucapkan “maafkan saya”, lalu yang mendengarnya juga pasti akan respek dengan kata-kata kita.
Ungkapan “Excuse me” termasuk di deretan yang paling sering diucapkan. Anda akan banyak mendengar kata-kata ini di misalnya stasiun, mall, pusat kota. “Excuse me”nya orang yang lalu lalang mendahului Anda akan terdengar jelas di kiri-kanan. “Excuse me” atau permisi ini juga sering di pakai di ruang-ruang rapat misalnya “Excuse me, can I see your report Mike?” Pokoknya seabrek-abreklah penggunaan “excuse me” ini dalam lingkup formal maupun pergaulan sehari-hari. Bertanya marah pun seorang tante berujar dengan “Excuse me…what did you say?” dengan nada yang di tinggi-tinggikan. Teman saya memotong pembicaraan bos besar (mucho grande) dengan “Excuse me sir, I don’t wanna hear nothin’ coz what just happened isn’t my fault!”
Nah, secara berkelakar saya bilang ke teman saya karena terlalu banyak ucapin permisi maka Amerika dan dunia menjadi kian permisif. Tidak ada lagi yang mau mengakui kesalahan walau sudah terbukti bersalah. Apa pun---asal “senang sama senang” dan tidak merugikan siapa-siapa----silahkan saja. Apa pun asal “mau sama mau” dan “tidak saling memaksa”---nggak apa-apalah. Maka terjadilah budaya permisif itu dimana-mana. Janin di bunuh biasa. Kumpul kebo lumrah. Manusia di “cloning”, perang kimia dan nukir oke-oke saja. Virus HIV-AIDS “disebar-luaskan” nggak perlu dipertanyakan. Sangat permisif. Apa-apa boleh. Tapi ini cuma kelakar saya, entah benar atau pun tidak, itu cerita lain.
Lho, tapi bukankah makna kata “excuse me” ini juga paling doyan dipakai dan digunakan anggota dewan kita di Senayan sana? Tindakan permisif apa sih yang selalu dan selalu mereka lakukan yang justru tidak menyejahterakan rakyat? I’m sorry, I can’t tell you right now. Mungkin kali lain. Sekarang saya hanya pengen bilang saya lapar banget, mau cari makan dulu so you guys, please excuse me and I’m sorry can’t tell you more. Tapi thank you yah sudah membacanya sampai disini.
Michael Sendow
Subscribe to:
Posts (Atom)






