Showing posts with label Korupsi. Show all posts
Showing posts with label Korupsi. Show all posts

Friday, February 13, 2015

KPK dan POLRI; Sebuah Catatan

e

Banjir KPK dan POLRI

Tiga hari berturut-turut kantor saya tutup. Mulai hari Senin, saya sudah punya perasaan yang tidak enak. Iya, tidak enak oleh karena dari atas sana hujan tiada henti-hentinya dan semakin deras menyapa bumi. Saya khawatir ini bakalan banjir. Tak perlu disangsikan lagi, betapa dahsyatnya pukulan itu akhirnya datang di seputaran Danau Sunter. Kebetulan letak kantor saya ada di jajaran jalan Danau Sunter Selatan, tepat bersisian dengan Danau Sunter. Dan, Danau Sunter pun meluap. Banjir. Maka di sepanjang jalan Bulevard di depan MOI dan MKG (dua mall besar di JakartaTimur) itu pun ikut-ikutan tergenang air lumayan tinggi. Banjir.

Di saat yang sama, banjir berita KPK vs POLRI terus-terusan membebani layar TV saya yang tak begitu besar. Entah kenapa, saya lama kelamaan menjadi (maaf kata) muak dengan pemberitaan-pemberitaan tersebut. Rasa muak itu apakah kepada ke dua institusi tersebut? Atau kepada stasiun-stasiun TV yang memblowup berita tersebut secara lebay? Entahlah.

Apalagi, berita yang semakin memanas itu dibumbui dengan spekulasi kiri-kanan. Memang sih, bisa jadi ada begitu banyak politikus spekulan di negeri ini. Politikus yang gemar berspekulasi, mengira-ngira, dan pengagum teori konspirasi. Meskipun, bisa jadi spekulasi maupun perkiraan-perkiraan yang muncul suatu ketika akan ada benarnya juga. Namun alangkah lebih eloknya bisa semua pihak bisa menahan diri. Tidak membakar emosi di tengah suasana yang penuh api membara. Di luar memang basah oleh air hujan dan banjir, namun di dalam gedung pengadilan itu penuh ‘api kebencian’. Keangkuhan dan kearoganan masing-masing lembaga yang bertikai.

Menurut kabar, KPK pun sempat mendapat teror surat kaleng……

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto bahkan (katanya) menduga ada pihak ketiga di balik aksi teror yang dialami para penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan keluarganya itu. Pihak ketiga tersebut memanfaatkan polemik yang terjadi antara KPK dan Polri tentu saja dengan berbagai maksud tujuan tertentu. Siapa pihak ketiga itu? Entahlah. Bisa jadi para koruptor kelas kakap di balik layar?
Tempo hari saya pernah mendapat kiriman mawar putih (white rose) sebagai hadiah dari kerabat dekat saya. Mawar yang langka itu bernama keren  Rosa Spinossima. Menurut beberapa catatan, originalitas bunga ini adalah dari Skotlandia. Nah, ketika menerima bunga tersebut kala itu, saya tiba-tiba justru jadi teringat tulisan kawan saya Sonny Mumbunan yang pernah menulis cuplikan tentang sekelompok mahasiswa di Jerman. Yaitu sebuah cerita di awal tahun 1940-an. Singkat cerita, orang-orang muda itu dengan begitu pedulinya berjuang demi keadilan dan kebenaran. Didorong rasa kemanusiaan yang amat kuat mereka melawan fasisme Hitler dan Partai Nazi. Berjuang di bawah tanah, kelompok itu menamakan dirinya “Weisse Rose” alias mawar putih. 

Sonny menulis, “….Ada gadis luar biasa di situ. Seorang mahasiswi kedokteran yang manis. Sophie Scholl namanya. Semua anggota kelompok ini akhirnya ditangkap. Sebagian besar dipancung kepalanya….”

“Kita akan berjumpa dalam keabadian”  kata Sophie pada ibunya, sebelum kepalanya menggelinding di meja pancung.

Wednesday, May 28, 2014

Pejabat Publik Indonesia Adalah Raja korupsi?

Kejahatan Korupsi di Indonesia
14005842301201869899
Ilustrasi Korupsi: Binarmediaeducation.blogspot.com

“A man who has never gone to school may steal a freight car; but if he has a university education, he may steal the whole railroad.” ― Theodore Roosevelt
Menjadi orang yang baik itu tidak gampang. Menjadi orang yang jujur lebih tidak gampang lagi. Kita bisa saja mengucapkan berjuta kali di hadapan semua orang bahwa kita ini adalah seseorang yang baik dan jujur. Boleh saja beribu-ribu janji terlontar dari mulut kita, namun perbuatan kitalah yang kemudian akan menunjukkan siapa sesungguhnya kita ini. Seperti apa sebetulnya kita ini. Bukan karena kita berteriak lantang “saya bukan koruptor” maka saya lantas tidak akan korupsi bukan? Bukan juga ketika kita berjanji tidak akan korupsi lantas kemudian kita serta merta bebas dari korupsi. Kebaikan dan kejujuran seseorang mesti diuji terlebih dahulu. Anda ingin tahu seberapa kuat Anda dapat menolak untuk korupsi dan terbebas darinya? Maka cobalah masuk dalam sistem yang korup. Bergaulah dengan orang-orang yang korup. Bersahabatlah dengan atasan dan bawahan yang korup. Di sanalah ujian itu baru muncul. Sebab, mungkin saja kita tidak korupsi ya oleh karena memang kita hidup di tengah-tengah lingkungan yang tidak memungkinkan kita untuk korupsi dan memakan uang bukan milik sendiri dengan begitu rakusnya. Sederhananya, kita tidak korupsi karena tidak ada (belum ada) kesempatan untuk itu.

Bukankah sudah banyak contoh mereka yang tadinya berteriak-teriak dengan lantang menolak pejabat korup. Mereka dengan ganasnya menghina serta menistakan para koruptor dan tindakan korupsi yang sementara terjadi. Akan tetapi ketika mereka masuk ke dalam sistem. Tatkala mereka terpilih sebagai pejabat publik, eh justru mereka menjelma menjadi jauh lebih busuk dan lebih bobrok dari orang-orang yang mereka demo dan teriaki itu. Sangat kontras. Terlebih, kelak di kemudian hari, ini pastilah menjadi sebuah preseden buruk yang amat sangat memalukan bagi aktivis anti korupsi lainnya, bila ia kemudian menjadi jauh lebih “busuk” dari para koruptor yang sering dihujatnya. Amat memalukan. Dan amat memiriskan.

Terlepas dari semua kebimbangan dan keputusasaan kita terhadap kemurnian para aktivis anti koruptor tersebut, bangsa kita ternyata masih juga terus melahirkan pemimpin-pemimpin yang dapat dipercaya. Orang-orang yang anti korupsi seperti Ahok dan Jokowi, Mahfud MD, serta Abraham Samad membuktikan bahwa sistem dan lingkungan yang korup tidak sanggup menarik mereka masuk ke pusaran itu. Mereka masih punya hati nurani dan dapat berkata tidak, walau sebetulnya kesempatan itu sangatlah terbuka.

Jokowi dan Ahok umpamanya. Sebagai orang nomor satu dan dua di Jakarta ini, peluang untuk korupsi tentu begitu besar. Namun mereka masih setia kepada janji mereka. Mereka juga tetap menunjukkan ketegaran mereka sebagai pemimpin yang anti korupsi. Mereka masih menggunakan akal sehat dan hati yang bersih, bukan sebaliknya menggunakan dengkul dan (maaf) pantat yang mudah tergiur oleh godaan korupsi. Otak mereka masihlah sehat, bahwa uang negara, uang rakyat, tentu semuanya itu adalah demi kepentingan dan kesejahteraan rakyat semata, dan bukan untuk kenikmatan diri sendiri dan keluarga. Sama sekali tidak. Pemimpin yang jujur dan bersih harus sanggup menolak godaan korupsi.

Pemimpin-pemimpin seperti inilah yang mesti kita ancungi jempol dan dukung. Bangsa ini semakin terpuruk, jujur saja oleh karena salah satu alasan utamanya adalah masih begitu banyaknya pencuri dan maling yang duduk berkuasa dan menjadi pejabat publik. Berapa puluh atau bahkan ratus triliunan yang sudah dicuri mereka? Itu bukan jumlah yang sedikit. Lantas apakah kita akan tinggal diam melihat negara kita digerogoti dan dihabisi oleh orang-orang yang seharusnya melindungi dan menyejahterakan kita?

Tuesday, April 19, 2011

Bunglon Berbatik

Bunglon Berbatik



Saya baru saja menyaksikan sesuatu yang langka. Apa itu ? Bunglon berbatik !. Ini kisah nyata yang saya alami sendiri. Saya lagi menjemur kemeja batik saya di pekarangan belakang rumah, kegiatan rutin yang saya lakukan supaya batik saya tidak kusut. Ketika hendak mengangkat batik saya beberapa jam kemudian, saat itulah saya lihat ada seekor bunglon lagi nangkring diatas batik saya dan lucunya ternyata benar kata orang bahwa bunglon itu bisa berubah rubah warna tubuhnya. Pada waktu itu saya ketawa sendiri melihat ada bunglon berbatik. Bentuk warna tubuh bunglon itu tepat mengikuti warna batik saya yang agak kecoklatan berbunga.

Bunglon adalah sejenis reptil yang termasuk ke dalam suku (familia) Agamidae. Bunglon meliputi beberapa marga, seperti Bronchocela, Calotes, Gonocephalus, Pseudocalotes dan lain-lain. Bunglon bisa mengubah-ubah warna kulitnya, meskipun tidak sehebat perubahan warna chamaeleon (suku Chamaeleonidae). Nah si bunglon ini bisa berubah dari warna-warna cerah (hijau, kuning, atau abu-abu terang) menjadi warna yang lebih gelap, kecoklatan atau kehitaman. Bunglon ini memiliki nama ilmiah Bronchocela jubata (Duméril & Bibron, 1837). Nama lainnya dalam bahasa Inggris cukup menyesatkan: bloodsuckers, karena pada kenyataannya kadal ini tidak pernah menghisap darah.
Dan ini keunikan serta kehebatannya bahwa di saat Bunglon merasa terancam , Ia akan mengubah warna kulitnya menjadi serupa dengan warna lingkungan sekitarnya, sehingga keberadaannya tersamarkan. Fungsi penyamaran demikian disebut kamuflase. Hal ini berbeda dengan "mimikri", yakni penyamaran bentuk atau warna hewan yang menyerupai makhluk hidup lain.

Melihat pemandangan langka itu saya teringat dan membayangkan bahwa betapa banyaknya ‘bunglon berbatik’ lainnya di negeri kita ini… Mereka tersebar dimana saja, ratusan jumlahnya, atau bahkan ribuan atau ratusan ribu atau entah berapa banyak lagi..Mereka kelihatan sangat hebat, sangat gaya, sangat mentereng dengan kemeja batik yang mereka pakai. Para bunglon berbatik ini ada dihampir semua propinsi di Indonesia dan mungkin disetiap instansi dan organisasi apapun tak terkecuali organisasi politik dan sosial dinegeri ini. Bahkan mereka banyak berkeliaran di gedung-gedung Wakil Rakyat, dipusat-pusat pemerintahan negara dan daerah. Tidak sedikit yang bercokol di department-departement strategis di pusat maupun daerah. Atribut bunglon berbatik ini memang cocok ditujukan bagi mereka para abdi negara, wakil rakyat, pelayanan masyarakat dan lain-lainnya itu yang tabiatnya persis seperti bunglon. Apa itu..? Di saat Bunglon merasa terancam , Ia akan mengubah warna kulitnya menjadi serupa dengan warna lingkungan sekitarnya, sehingga keberadaannya tersamarkan. Fungsi penyamaran demikian disebut kamuflase !
Bukankah tidak sedikit para abdi negara, wakil rakyat serta yang memegang kekuasaan di pusat-pusat pemerintahan akan dengan seketika berubah menjadi penjilat, pecundang, munafik dan ‘berubah warna’ ketika keadaan mereka terancam, atau ketika karir, jabatan, kedudukan, posisi, keuangan dan pangkat mereka dalam posisi terancam ? Ada berapa banyak dari mereka yang bisa dan mampu serta mau mempertahankan kredibilitas serta integritas janji mereka ketika diperhadapkan pada posisi-posisi tersebut ? Ada berapa banyak yang masih mau peduli dengan suara rakyat, keberpihakkan terhadap kepentingan rakyat dan kepentingan umum ? Bukti nyata para bunglon berbatik ini sangat terlihat ketika lagi ramainya kasus si Gayus dan mafia pajak, juga ketika Sri Mulyani di-lengserkan secara halus oleh orang-orang yang haus kekuasaan, harta dan jabatan itu. Mereka yang takut keberadaannya terancam. Mereka yang lebih suka jadi penjilat dan “yess boss” demi menyenangkan atasan dan mengamankan posisi. Tapi jangan salah, para bunglon berbatik ini paling hebat kalau berkoar-koar dan berteriak-teriak didepan publik dan masyarakat seakan-akan kepentingan rakyatlah yang selalu mereka perjuangkan…Aaaagh dasar bunglon !
Ada tiga “P” yang tumbuh berkembang di dunia yang rakus akan kekuasaan ini yaitu Pejabat, Penjilat dan Penjahat. Ketika seorang pejabat menjadi penjilat maka otomatis ia akan menjadi penjahat. Kenapa ? Karena ia telah menjahati kepentingan orang banyak. Kepentingan masyarakat dan lebih memilih untuk memelihara kepentingan sendiri, mengenyangkan dan berusaha membuat buncit perut sendiri, Rakus, serakah untuk mengisi belanga sendiri tanpa peduli hak dan kepentingan orang banyak.

Menyimak sejarah politik Indonesia sama artinya dengan menyimak ulang konsep politik Machiavelli. Politik Indonesia pertama-tama bukan memikirkan bagaimana pejabat dan penguasa mengatur tata hidup bersama, melainkan bagaimana mereka mengatur tata pemerintahan sedemikian rupa sehingga ia tetap dicintai, dikagumi dan diandalkan rakyatnya. Politik Indonesia lebih memikirkan bagaimana kekuasaan dipertahankan selama mungkin daripada bagaimana Indonesia dibangun sebaik mungkin. Dengan cara apapun termasuk cara-cara kotor seperti berkamuflase ala bunglon. Sementara itu, institusi-institusi politik juga dikembangkan sedemikian rupa sehingga menghasilkan formasi politik yang mendukung para penguasa dan pejabat tinggi. Kekuasaan politik berpusat di tangan pemerintah/penguasa. Institusi perwakilan politik rakyat secara efektif bekerja untuk melegitimasi kebijakan pemerintah. Fungsinya sebagai wakil rakyat (atau saya tulis huruf besar WAKIL RAKYAT) tidak dilaksanakan secara memadai. Dengan demikian, kekuasaan penguasalah yang dilanggengkan oleh rekayasa politik yang banyak kita jumpai kalau kita peka. Para politisi di anggota dewan misalnya jelas terlihat bahwa kebanyakan adalah penganut Machiavellian juga. Sebab sangat terlihat mereka tampaknya berjuang keras melanjutkan aspirasi rakyat. Waktu yang lalu bahkan mereka berteriak, melompati meja dan saling dorong atas nama rakyat. Namun siapakah yang tertawa senang melihat aksi itu? Rakyat? Saya kira tidak. Rakyat justru malu melihat para wakilnya seperti para preman berdasi. Kita mesti bertanya lagi. Apakah itu sungguhan ataukah hanya kamuflase semata? Apakah terdorong oleh nurani kemanusiaan ataukah hanya untuk mempertahankan kedudukannya sebagai anggota dewan. Memperjuangkan aspirasi rakyat ataukah berdusta dan menarik simpati rakyat? Tinggal kita sendiri yang harus pintar-pintar menilai tindak tanduk mereka. Jangan biarkan para bunglon berbatik tersebut mengelabui kita. Tapi kita juga mesti jujur bahwa tidak semua mereka seperti itu. Pasti masih ada segelintir yang memiliki nurani bersih dan memegang teguh prinsip serta memiliki integritas yang mumpuni. Yang berpihak pada orang banyak bukan pada diri dan kantong sendiri.

Kalau saja para bunglon berbatik ini mau berubah dan menjadi lebih berbakti dan sungguh-sungguh untuk kepentingan bangsa, kepentingan masyarakat…maka kita boleh bernafas agak lega melihat masa depan bangsa ini....

Sunday, January 30, 2011

"INTERMEZZO"

INTERMEZZO
(Refleksi ketika aku berada di kotaku beberapa tahun lalu)

Aku adalah aku, sosok yang akan mengisi alur cerita saat ini, sekalipun aku punya nama tapi adalah lebih baik kalau aku dikenal sebagai sosok “AKU” saja, agar tidak terkesan sombong. (Dan tidak terkesan sumbing).

Nah, aku ini adalah seorang manusia yang berjenis kelamin pria, usia(…..) tahun, belum beristri dan yang paling keren adalah karena dibelakang namaku ada embel-embel yang bikin orang mengenalku sebagai seorang sarjana, tapi sayangnya aku ini masih nganggur bersama teman-temanku pengangguran lainnya sayangnya kata nganggur yang dipakai disini lebih condong kearah tidak mempunyai pekerjaan dari pada artian menjual anggur.

Kala itu, pada suatu malam yang cerah, tepatnya tanggal 17 April (sehari setelah ulang tahunku) Tahun 2000, pukul 22.43, aku duduk sendirian di serambi rumahku, maksudku rumah kedua orang tuaku, sambil memandang bintang-bintang kecil dilangit aku menghayalkan seandainya aku adalah orang kaya, terlintas lagu yang dinyanyikan temanku Oppie Andriesta, andai a a a a a aku jadi orang kaya….
Aku melamunkan seandainya aku punya uang banyak misalnya 1.3 Triliun sejumlah yang konon pernah dipinjam tapi lupa dikembaliin oleh bung eddie tansil (namanya huruf kecil aja), atau mendekati jumlah yang disimpan tetanggaku si Adrian itu!

Setelah uang yang lumayan banyak itu ada, rencananya aku akan membuat hal-hal besar seperti proyek2 yang nantinya harus diresmikan oleh at least Wapres.
Kemudian sebagian dari uang itu akan kupakai untuk membangun rumah pribadiku yang rencananya harus ada dimana-mana dengan jumlah total kamar 2033 kamar (sebagian buat disewakan buat anak2 pelajar dikotaku.).
Membeli 16 mobil pribadi berbagai merk yang keren-keren dan yahud punya, tentunya.
Memperkerjakan paling sedikit 30 orang TK untuk mengurus rumahku yang sederhana itu berikut mobil-mobilnya, dan tentunya mereka akan aku gaji dengan baik yaitu diatas upah minimum regional (Minimum Wage Standard).

Setelah itu aku akan mendirikan berbagai panti asuhan dan aku juga akan menyumbang kepanti asuhanku itu sehingga namaku semakin terkenal, padahal uangku akan kembali karena panti-panti itukan miliku juga.
Selanjutnya aku akan mencoba jadwal makanku yang baru, pagi sarapan diSingapura bersama PMnya juga dengan si Sultan Brunei (yg sudah ku telpon sehari sebelumnya), siangnya makan siang di Paris bersama mitra bisnisku yang baru…itu lho si Donald Trump, dan makan malam di Las Vegas dengan beberapa Menteri kolegaku yang baru juga. Di Las Vegas kusempatkan untuk nonton pertandingan tinju-nya Mike Tyson yang sudah di atur si Trump dan habis nonton si Trump pun cerita bahwa dia dapat banyak dari hasil tinju itu, dan aku diberinya sebagai oleh-oleh segepok dollar yang kalau dirupiahkan yaaah, sekitar 2 kali APBD daerah Nyiur Melambaiku.

Sekembalinya ketanah air dengan pesawat pribadiku, aku dikejutkan dengan berita bahwa sebentar lagi akan ada kerusuhan ….eeeh maksudku sebentar lagi pesta demokrasi PEMILU akan segera tiba waktunya, ternyata aku lumayan lama bercokol dinegeri orang (lupa ya?), aku jadi malu sendiri, karena sampai lupa kalau aku masih punya negeri sendiri.
My home country always gonna be the best for me. Indeed! Menurut Etymologynya Home Country adalah :The country in which a person was born and usually raised, regardless of the present country of residence and citizenship.

Mendengar berita itu akupun semakin mempersiapkan diri sebaik mungkin, siapa tahu aku nantinya bisa dipercayakan oleh rakyat (bukankah uangku banyak) untuk menyuarakan suara mereka karena biasanya mereka kurang begitu baik menyuarakan suara sendiri yang kadang terdengar fals ditelinga sendiri (saya siap menjadi wakil mereka!).
Sebelumnya aku mampir ke bank yang menyimpan banyak hartaku dan setelah dicek kembali sisa uangku tinggal 987M, wah uang segitu cukup buat apaan pikirku, kata ponakanku kalau dibeliin krupuk bisa dibuat lingkaran yang mengelilingi Indonesia!

Sambil berpikir-pikir tindakan-tindakan apa yang harus aku ambil, tiba-tiba pintu diketok yang ternyata si pak ErTe kita, ngobrol sana-sini, sampailah beliau pada pesan-pesan yang sebenarnya intinya mengatakan bahwa “…..PEMILU semakin dekat, Pakailah HAK PILIH anda sebaik-baiknya…”
Koran terbitan pagi, besoknya telah menantiku dimeja sarapan, aku melirik sekilas terdapat topik dengan cetakan besar “PEMILU SEMAKIN DEKAT, PAKAILAH HAK PILIH ANDA DENGAN SEBAIK-BAIKNYA”

Sekalipun aku orang kaya, aku tidak pernah melupakan untuk melihat perkembangan yang terjadi di daerah-daerah lewat berita Televisi, Koran, Internet,dll. Dimalam itu aku agak terlambat menyalakan TV sehingga hanya “…..PEMILU tinggal (……..) hari lagi, pergunakanlah hak pilih anda dengan baik…”Yang sempat kudengar.
Keesokann harinya aku menyempatkan diri jalan-jalan melihat-lihat daerahku ini agar jangan kulupa bahwa aku ini asli orang Manado sekalipun lebih suka bergaya Amerikana, dan alangkah terkejutnya aku ketika melewati Boulevard, yang selama ini dijadikan tempat santai para remaja maupun yang tua-tua menikmati indahnya senja hari dan eloknya pemandangan sekitar, serta panorama sunset, tapi kini yang kulihat dan terlihat hanyalah tembok-tembok tak beraturan dan gedung-gedung sebagai pemisah antara hakku untuk menikmati alam ini dengan alam itu sendiri, aku bahkan sempat berpikir mungkin juga lautan dan pemandangan itu juga sedih karena tak bisa melihatku lagi, dan ketika aku bertanya mengapa, aku mendapat jawaban yang sangat memuasakan serta simple bahwa : “Demi Kepentingan bersama”, oooh itu toh jawabannya…..For our own good..? Really….??
Sembari berjalan kembali ke mobil BMWku akupun berpikir seberapa banyak tempat yang bisa kubeli dengan sisa uangku agar nantinya dapat kunikmati sendiri keindahan alam itu dan yang lain kalau mau ikut menikmati harus bayar padaku dan aku akan menjadi semakin kaya saja.

Braaakk…Ciiitttt….Bruuuuk….Buuuuuum.! Ternyata mobilku si BMW itu menyenggol sampai menabrak tembok pagar sekaligus dengan pohon kelapa dan tempat sampah yang memiliki sampah lebih banyak diluarnya daripada didalam. Aku sadar tidak baik mengendarai mobil sambil ngelamun apalagi tidur, tapi terlambat. Segerahlah ku dial melalui HP buatan Nokia Finland terbaru (yang paling canggih, kala itu belum ada Black Berry) nomor rumahku untuk minta dikirimin mobil lainnya.
Tak lama berselang mobil Jaguar Biruku telah sampai, dan yang BMW itu kutinggalkan saja sedemikian rupa yang akhirnya dikerumuni orang sambil melongo, mungkin mereka heran ada BMW teronggok begitu saja ditempat sampah, pikir mereka biasanya yang ada bayi malang kok sekarang ada mobil malang, aku sih cuek aja sambil ngeloyor pulang.

Suatu saat aku tiba di suatu pelosok daerah yang agak terpencil, kupelankan laju kendaraanku, samar-samar kulihat ada kerumunan orang, rupanya orang-orang kampung sedang berkumpul dan lambat-lambat kudengar kata-kata yang disampaikan lewat pengeras suara “….Saudara-saudara Pemilu semakin dekat, pergunakanlah hak pilih anda dengan sebaik-baiknya…”.You have to make the right choice no matter what.
Dan begitulah, ternyata dari desa terpencil sampai kantor-kantor pemerintah di kota agak besar hingga yang paling besar, disetiap media cetak dan elektronik, kata-kata mujarab sebelum pemilu selalu ada. Even though not so many people understand that well.
Sesampainya dirumah aku berpikir, mengapa hak kita untuk memilih selalu diperhatikan dengan seksama dan dengan sebaik-baiknya, sebaliknya derajat hak kita yang sama yaitu untuk dipilih kurang disinggung-singgung, seandainya yang dibicarakan bukan hanya hak memilih tapi juga hak dipilih maka akan samalah hak kita, artinya yah kalau bisa mbok ya sekali-kali kita yang dipilih dan merekalah yang memilih….jang talalu golojo kine! Tapi saya sadar sesadar-sadarnya bahwa semua ini hanyalah seandainya saja, bahkan keesokan harinya terdengar berita bahwa bankku dimana aku simpan uangku itu telah kebobolan, akibat kasus Comercial Paper yang menghebohkan itu dan semua uangku itu ikut lenyap, tak tahu kemana rimbanya. Aku marah-marah, sempat maki-maki, herannya aku benar-benar lupa kalau semua itu hanya sekali lagi ‘seandainya’, ‘seumpamanya’ ‘misalnya’, ‘andaikata’ belaka……………….

Dan memang….selama ini aku hanya dan terus, serta masih berada pada tempat dan posisi yang tetap yaitu duduk termenung didepan rumah orang tuaku itu sampai tak menyadari diriku telah dipindahkan nyamuk yang mungkin marah tempat mereka aku ambil alih tanpa izin resmi…kupakai berjam-jam lagi….sekali lagi tanpa izin! ! Dari sudut kamar depan sayup-sayup ku dengar berita TV tentang Gayus, tentang RIM BB yang lagi dihajar si Bapak Mentri, juga berita tentang lelucon korupsi di negeri ini yang semakin menggila dan mengganas…In Indonesia corruption is a big problem, and corruption is not unique to Indonesia, therefore only Indonesians can overcome corruption in Indonesia..!

Beruntunglah saya, karena semuanya ini hanya lamunan belaka. Atau sayang sekali karena ternyata ini hanya lamunan dan khayalan , dan bahwa aku tidak benar-benar kaya raya ?..........Aaaagghh aku perhaps harus lebih memilih kenyataan yang sekarang. Then I have to have a guts to accept this reality.
Bukan main kalau ini benar terjadi…………..Andai..aaa..aaaa.aaaa.a.a.a.a.a!!!



Leahcim 3 Wodnes

USA-MDO, 2010/2011

Friday, May 23, 2008

Kita mesti memulainya.........


Ada pepatah yang mengatakan, "Semua permulaan itu sulit" (All beginnings are difficult). Benar sekali. Ketika anda seorang pria jatuh hati terhadap seorang wanita, apa yang paling meresahkan...? Pasti : bagaimana melancarkan "serangan pertama". Tetapi ada pula pepatah lain yang mengatakan : A good beginning is half-done. Artinya, sebuah awal yang baik berarti pekerjaan telah setengah rampung. Oleh karena itu alangkah sulitnya, tetapi juga alangkah menentukannya memulai sesuatu itu!

Di dalam perjuangan memberantas korupsi, bagaimana kita hendak memulainya juga adalah sesuatu yang paling menantang. Sedikit saja anda salah cuap atau salah tindak, tidak mustahil hasilnya akan bertolak belakang dari apa yang kita harapkan, bisa saja malah anti-pati dan salah-paham yang kita terima. Kita mesti memulai. Memulainya dengan segra dan dengan bijak. Korupsi telah mengurat-akar di nadi-nadi negeri kita, yang sama-sama kita cintai. Ia telah menjadi penyakit akut, perlu kemauan (tekad), kerja keras dan kebijaksanaan untuk memberantasnya.

Akankah....?