Wednesday, May 13, 2015

Belajar Dari Kartini

Di negara ini kita punya begitu banyak wanita yang bekerja sangat keras demi menghidupi keluarganya. Ada begitu banyak wanita yang bertindak sebagai single parent oleh karena ditinggal pergi suaminya. Ada juga wanita-wanita yang mesti kerja membanting tulang (kerja luarbiasa keras) karena keadaan keuangan yang tidak mencukupi. Kepada mereka jugalah catatan kecil ini saya tujukan. Bahwasanya seorang wanita bernama R.A Kartini sudah mengajarkan kita nilai-nilai hidup yang luar biasa. Ia sudah memberi contoh lewat perkataan pun tindakan. Bahwasanya juga, wanita-wanita Indonesia tidak mesti menjelma menjadi laki-laki untuk supaya dapat dihargai dan diterima, tetapi perjuangan, hak berkarya, serta kesempatan-kesempatan yang ada tidaklah boleh menjadi lebih rendah dari kaum laki-laki.

Sekarang bukan lagi era di mana wanita itu tempatnya hanyalah di dapur, di pasar, dan di tempat tidur. Wanita boleh berkarya dan berkarir sebaik dan setinggi mungkin. Ia tidak bisa ditempatkan lagi sebagai sosok yang lemah dan loyo. Kalau tempo hari wanita mungkin masih tidak punya hak suara dan hak pilih. Wanita tidak boleh berpidato di depan umum, dan lain sebagainya, maka sekarang tidak seperti itu lagi. Sekarang wanita bahkan bisa menjadi direktur, menteri, atau pun presiden. Tapi serempak, tentu juga tidak boleh dengan serta merta melupakan kewajibannya sebagai seorang wanita (sejati). Ia boleh menjadi apa saja, tapi tidak pernah boleh melupakan siapa dia sesungguhnya. — Itulah penggalan akhir tulisan saya di Hari Kartini tahun 2013 yang lalu (Perempuan Bukan Laki-laki)

Kali ini saya hendak menyampaikan lain hal, bahwa sesungguhnya ada ajakan yang termaktub jelas dalam tindakan dan hasil karya Kartini, yang tentu saja ditujukan bagi kita semua, generasi-generasi penerus. Ajakan itu adalah ajakan sederhana untuk membaca dan menulis. Untuk supaya di dalam diri kita menyeruak muncul semangat membaca dan menulis yang luar biasa membara. Sebab hanya dengan membaca dan menulislah, Kartini bisa menjadi seperti apa adanya dia saat itu. Membaca adalah jendela kita melihat dunia, dan menulis adalah alat kita ‘menguasai’ dunia.

Semangat yang sama itu rupa-rupanya juga dimiliki oleh kakaknya, yaitu Raden Mas Panji Sosrokartono. Kakak dari Raden Ajeng Kartini ini termasuk polyglot yang pertama di Indonesia. Seperti dikutip dari berbagai sumber, ternyata kakak Kartini ini menguasai 26 bahasa asing, dan juga 10 bahasa daerah Indonesia. Sosrokartono, yang kelahiran 10 April 1877 itu memang dikenal sebagai seorang pemuda cerdas. Sebagai anak bangsawan Sosrokartono mengenyam pendidikan setara orang-orang Belanda yang ada di Indonesia saat itu, pendidikan ‘kelas satu’ tentunya. Ia banyak membaca banyak buku dan literatur asing. Bahkan, kakak Kartini ini mengembara sampai ke banyak tempat di seluruh Eropa, menekuni bermacam-macam pekerjaan seperti penterjemah dan wartawan di media Eropa, hingga akhirnya ia pun menjadi wartawan media terkenal dari Amerika - The New York Herald Tribune. Ia pernah meliput Perang Dunia I.

Kembali ke Kartini, beranjak dewasa, maka semakin bertambah pula kematangannya dalam berpikir. Itu juga jelas sekali adalah oleh karena bahan bacaannya yang sangat luas, yang meliputi buku-buku dan surat kabar. Ia membaca banyak hal, budaya, agama, sastra, keperempuanan, dan sebagainya. Ayahnya memberikan buku-buku yang berbahasa Belanda, Jerman dan Perancis, sehingga tak mengherankan bila pengetahuan Kartini mengenai bangsa Eropa begitu luas dan dalam. Kartini menimba ilmu tidak hanya dari negeri Barat saja, ia memperkaya pengetahuan dari negeri timur juga, ia banyak belajar dari bangsa Koja dan Tionghoa. 

Kartini banyak membaca surat kabar di Semarang. Ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang isinya cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun lantas kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Ini hal yang patut kita teladani.

Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar (salah satu favorit saya juga) dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli. Ada juga De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi. Masih ada juga tulisan karya Augusta de Witt yang dibacanya. Berikut juga roman feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek, dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda (Wikipedia).

Nah, pada usia 16 tahun saja Kartini sudah menulis sebuah esai dengan memakai bahasa Belanda. Tulisannya adalah tentang “Upacara Perkawinan Pada Suku Koja.” Kemudian sekitar tiga tahun kemudian, tulisannya tentang seni Jepara, dalam bahasa Belanda juga diterbitkan di Bijdrage Voor Taal, land en Volkenkunde, sebuah jurnal ilmiah sangat bergengsi di Belanda. Kartini menulis dalam bahasa Belanda yang sempurna meski waktu itu kebanyakan orang Belanda menganggap bahasa Belanda tidak cocok diucapkan oleh lidah pribumi — Padahal, ternyata di Minahasa kampung asal saya, banyak sekali orang-orang tua yang sangat fasih bertutur memakai bahasa Belanda — .

Karena kefasihan Kartini berbahasa, dan pengetahuannya yang luas berkat banyak membaca, Kartini pun berhasil menulis banyak surat kepada sahabat-sahabatnya di banyak tempat. Kumpulan surat-suratnya itu (1879-1904) lantas diterbitkan menjadi sebuah buku lumayan tebal pada tahun 1911 yang diberi judul, “Door Duisternis tot Licht” (Habis gelap Terbitlah Terang).
 
Bagaimana bisa Kartini dapat menulis banyak surat dalam bahasa Belanda jikalau ia tak banyak membaca? Bagaimana mungkin kumpulan suratnya bisa diterbitkan menjadi sebuah buku, jikalau tulisan-tulisannya tidak layak dipublis? Dan, bagaimana bisa pemikiran-pemikiran yang cemerlang dapat dikonsumsi publik bila ia tak pernah menulis? Jadi, bagi Kartini membaca dan menulis adalah ‘alat’ dan ‘senjata’ dia dalam menampung pesan, juga dalam menyampaikan pesan atau buah-buah pikiran. Karena ada kemauan besar dalam dirinya untuk melakukan perubahan besar.

“Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata “Aku tiada dapat!” melenyapkan rasa berani. Kalimat “Aku mau!” membuat kita mudah mendaki puncak gunung” —- R. A. Kartini

Bukunya yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang membuat orang-orang Eropa kala itu kagum dan ‘kaget’. Conrad Theodor van Deventer, seorang pengacara kaya dan wakil kaum liberal di parlemen Belanda bahkan sempat menulis ulasan khusus tentang buku tersebut di jurnal ya ia pimpin, De Gids. “Surat-surat Kartini membuktikan seberapa jauh seorang pribumi, dengan ketrampilan bahasa Belanda dan pengetahuan Barat, mengembangkan sebuah peradaban dengan kehalusannya yang luar biasa…” (Van Deventer: 1913).

Kartini, disamping ia mengajarkan buah pikirannya tentang emansipasi dan perjuangan kaum perempuan, ia juga mengajarkan banyak hal lainnya. Secara nyata, kesaksian hidupnya dan apa yang dia sudah lakukan, mampu mengajarkan kita banyak permenungan. Salah satunya adalah dalam hal semangat kita untuk banyak membaca dan menulis. Siapapun kita dan sebagai apapun posisi kita, maka semangat membaca dan menulis tidak akan pernah lekang dimakan zaman. Mahasiswa – membaca dan menulis karya-karya ilmiah adalah sebuah kemestian. Pengusaha, pebisnis – membaca dan menulis adalah keharusan. Budayawan, satrawan apalagi – membaca dan menulis adalah ‘roh’ mereka. Jadi siapapun kita, ajakan untuk tetap semangat dalam membaca dan menulis rasa-rasanya tetaplah relevan. Apalagi saat ini dengan teknologi yang sebegitu majunya, maka membaca dan menulis dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. No barriers for reading and writing.

Kalau mungkin Kartini masih hidup di zaman kita ini, maka ia akan menjadi perempuan paling aktif yang menulis di Kompasiana. Sudah gratis, pemikiran-pemikiran kita dapat segera dibaca banyak orang pula. Di Kompasiana kini memang banyak sekali Kartini-Kartini modern hadir dan menulis tentang banyak hal, mereka menulis dengan intensitas tinggi, dan dengan tulisan-tulisan bernas yang sangat menggugah. Saya sangat mengapresiasi tulisan-tulisan mereka di Kompasiana ini. Kalau boleh saya sedikit lebay, maka saya akan bilang, bahwa tanpa mereka (penulis-penulis perempuan) maka di Kompasiana ini habis gelap akanlah tetap gelap. Tulisan-tulisan mereka bukan sekedar pemanis semata di Kompasiana, namun mereka adalah jantung dan denyut nadi yang memancarkan ‘terang’ di Kompasiana, seterang mentari pagi. –Mich-

“Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya” — R. A. Kartini

No comments: