Friday, May 25, 2012

Kenapa Harus Investasi Untuk Melindungi Jiwa dan Kesehatan?






Apakah untuk menjamin hidup Anda maka harus terlebih dahulu menjadi orang yang kaya raya? Mungkin jawaban kebanyakan orang adala “YA”. Menjadi kaya adalah keharusan dan keniscayaan bila hidupmu ingin terjamin masa depannya. Benarkah demikian? Bagi saya menjadi kaya itu mungkin saja adalah harapan banyak orang, tapi jauh lebih mustahil untuk mewujudkannya. Benar tidak? Lantas apakah bagi saya dan Anda yang mungkin hidupnya belum sebanding dengan misalkan Donald Trump, Bill Gates, atau Carlos si manusia terkaya di dunia itu kemudian menjadi tidak berhak hidup bahagia dengan mendapatkan perlindungan jiwa dan kesehatan yang layak? Saya pun menjawab dengan lantangnya: Kitapun bisa dan berhak mendapatkannya! Ada yang langsung bertanya bagaimana caranya? Sabar…sabar…Saya ajak Anda untuk ikuti terus tulisan ini.

Menurut Wikipedia kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Memang arti kata “miskin” itu sangatlah luas. Kita bisa miskin secara ekonomi, miskin pergaulan atau interaksi sosial, miskin kesempatan dalam dunia politik, miskin pengetahuan, dan masih banyak lagi. Pun miskin dari segi pemenuhan kebutuhan hidup, kesehatan, dan perlindungan jiwa.

Pertanyaan selanjutnya yang mengemuka adalah, apakah dan di manakah posisi kita saat ini? Sangat miskin, setengah miskin, sedikit miskin? Atau sangat kaya, setengah kaya, sedikit kaya? Saya harap Anda tidak jadi bingung. Begini. Ketika Anda merasa bahagia dan merasa segalanya sudah cukup, walaupun keadaan keuangan Anda tidak bagus saya rasa Anda tidak masuk kategori miskin. Bahkan ada orang yang sebenarnya banyak uang tapi selalu merasa kekurangan. Mereka menderita di tengah-tengah keberlimpahan yang dimiliki. Lalu ada juga yang merasa menderita karena tidak ada jaminan atas jiwa dan kesehatannya hari lepas hari.

Nah, salah satu alat dan sarana supaya Anda tidak lebih menderita lagi dalam perjalanan kedepannya, maka mengasuransikan jiwa dan kesehatan haruslah dipertimbangkan untuk masuk skala prioritas. Ingat benar, bahwasanya mengasuransikan jiwa dan kesehatan Anda adalah sebuah bentuk investasi jangka panjang. Itu tidak akan pernah kembali dengan sia-sia. Ingat saja pepatah kuno yang bersabda seperti ini, “Apa yang engkau tanam, itu pulalah yang akan engkau tuai.” Maukah Anda menanam (baca: menginvestasikan) uang Anda demi perlindungan jiwa dan kesehatan Anda selamat hayat masih dikandung badan? Jawabannya ada di tangan Anda.

Kenapa Harus Berinvestasi Untuk Perlindungan Jiwa dan Kesehatan?

Banyak di antara kita yang menganggap remeh arti dan manfaat asuransi jiwa dan kesehatan. Karena apa? Apakah karena mereka masih merasa yakin bahwa akan sehat-sehat saja seumur hidup mereka? Atau mungkin mereka merasa hidup atau tubuh ini adalah immortal. Tidak ada mati-matinya. Tidak ada habis-habisnya. Betulkah demikian? Salah besar. Karena sekaya apapun Anda, atau semiskin apapun Anda, yang namanya sakit serta kematian tidak pernah pandang bulu. Suatu ketika Anda pasti akan merasakan bagaimana tergeletak sakit tanpa daya, dan juga bila saatnya tiba, suka atau tidak, Anda harus siap ketika jiwa Anda dipanggil oleh DIA yang sudah memberi hidup dan kehidupan. Yang perlu dipersiapkan adalah bagaimana kita menghadapi semua yang tak terhindari itu. Sudahlah kita berinvestasi untuk itu?

Okelah mungkin Anda berpikir “ah, saya kan sudah dapat perlindungan kesehatan dari tempat saya bekerja”. Tapi, tunggu dulu, jangan lupa bahwa perlindungan kesehatan dari tempat Anda beraktivitas biasanya fasilitas itu hanya dapat dimanfaatkan selama kita masih aktif bekerja di perusahaan tersebut. Tapi bukankah masa depan pekerjaan kita selalu saja unpredictable. Tak bisa dijamin 100% bahwa kita masih akan tetap bekerja di situ.Untuk mengantisipasi hal ini, maka sebenarnya kita memerlukan perlindungan kesehatan tambahan bagi pribadi dan keluarga tentunya. Bahkan boleh dikata justru inilah yang akan menjadi pegangan utama kita selanjutnya sehubungan dengan perlindungan jiwa dan kesehatan.

Setelah sekarang mengetahui manfaatnya, lalu tunggu apa lagi? Jangan sampai menunda-nunda keputusan untuk berinvestasi demi perlindungan jiwa dan kesehatan Anda dan orang-orang terkasih, seisi rumah Anda. Bila Anda menunda keputusan keuangan yang harus diambil maka hal ini bisa merusak rencana kedepan yang sudah tertata serta tersusun rapih. Tetapi bila Anda melakukannya lebih cepat lagi, hal ini bisa memberikan perlindungan kesejahteraan, serta kesehatan secepat itu pula.

Saya punya pengalaman yang sungguh tidak enak dan kurang elok. Selama belasan tahun tinggal di Amerika, saya mengabaikan betapa pentingnya untuk menanam investasi perlindungan jiwa dan kesehatan. Kenapa? Karena saya terlalu yakin akan vitalitas dan kesehatan saya yang selama lima tahun pertama di Amerika, tidak pernah sakit dan selalu bugar. Apalagi dengan udara yang masih less polution di sana. Pokoknya semuanya serba meninabobokan saya. Alasan lainnya adalah bahwa dalam pikiran saya, mengasuransikan jiwa dan kesehatan hanyalah pemborosan dan buang-buang uang. Sama sekali belum dibutuhkan.

Tapi semuanya berbalik 360 derajat. Apa yang saya abaikan telah membawa saya kepada penyesalan yang berkepanjangan. Tanpa pernah terbayangkan oleh pikiran sempit saya, akhirnya toh saya jatuh sakit juga. Parah. Bahkan teramat parah. Saya menderita maag sangat akut, sampai usus saya juga sudah mengeluarkan banyak darah, uric acid, dan batuk yang tak henti-hentinya. Pokoknya dokter mengharuskan saya istirahat total, berobat rutin, dan tidak boleh makan sembarangan (hanya boleh makan menu tertentu). Yang paling saya sesali adalah saya harus mengeluarkan uang begitu banyak karena telah mengabaikan pentingnya berinvestasi untuk perlindungan jiwa dan kesehatan. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Terlambat. Orang Amerika bilang, “It is to late…” Pukulan itulah yang menyadarkan saya dari keterlenaan. Menyadarkan saya dari kebodohan dan ketakpedulian saya. Bahwa kesehatan yang kita miliki itu ternyata tidaklah abadi.

Buatlah Keputusan yang Tepat Sekarang Juga

Seorang pakar perencanaan keuangan asal Amerika bernama Ric Edelman mencatat secara jelas dalam bukunya yang berjudul The Truth about Money, bahwa sedikitnya ada empat masalah utama yang membuat orang gagal menciptakan kehidupan sejahtera sebagaimana yang mereka harapkan dan idam-idamkan, yaitu: Sikap suka menunda-nunda (procrastination), kebiasaan menghabiskan/ menghambur-hamburkan uang (spending habits), inflasi yang terus meningkat (inflation), dan pajak (taxes).

Untuk dua hal pertama yang disebutkan Edelman adalah lebih kepada masalah pribadi seseorang (internal) sedangkan yang dua terakhir adalah masalah eksternal yang tidak dapat kita atasi sendiri. Masalah internal tentu saja dapat diatasi dan bahkan harus diatasi secara pribadi. Sikap suka menunda-nunda perencanaan keuangan sangat jelas merupakan faktor utama tidak tercapainya kehidupan sejahtera di masa datang. Padahal hal tersebut dapat kita atasi sendiri. Tinggal bagaimana kita mengubah habit dan pandangan kita akan pentingnya berinvestasi, utamanya untuk jiwa dan kesehatan.

Mungkin Anda belum banyak mengetahui tentang program asuransi jiwa dan kesehatan? Silahkan intip dan pelajari di sini: www.bca.co.id. Bank BCA memiliki beberapa program unggulan, di antaranya adalah Anda dapat bertransaksi dengan mudah (kemudahan transaksi), kemudian mereka juga melakukan perencanaan finansial yang kesemuanya tentu untuk kepentingan dan kesuksesan dalam mengelola keuangan Anda sebagai nasabah. Ada juga program pendidikan bagi sang buah hati Anda, perlindungan jiwa dan kesehatan sebagai suatu bentuk investasi, serta program untuk mewujudkan hunian ideal. Dan so pasti semua itu akan sangat menguntungkan untuk masa kini dan masa depan Anda. Jika ingin mengetahui hal-hal berikut ini dapat Anda peroleh langsung di sana: Solusi perbankan, rencana masa depan, kemudahan transaksi, produk perbankan, layanan perbankan, kebebasan finansial

Karenanya, satu-satunya tindakan yang harus segera Anda ambil dan buat adalah  merealisasikan keputusan untuk melakukan perencanaan keuangan keluarga yang menyeluruh. Dan karena jiwa serta kesehatan kita sangat berharga, bahkan tak ternilai dengan uang, jangan tunda lagi, berapapun usia Anda saat ini pergunakanlah kesempatan yang tersisa. Tidak akan ada ruginya untuk menginvestasikan uang demi memberi perlindungan atas jiwa dan kesehatan Anda. Karena satu hal yang pasti, menunda keputusan seputar investasi keuangan keluarga yang berhubungan dengan jiwa dan kesehatan harus dibayar mahal di masa yang akan datang. Jangan sampai terjadi penyesalan di kemudian hari. Jadi maukah Anda menginvestasikan uang Anda?

Tuesday, May 22, 2012

Mengenal Tokoh-tokoh Termuda Dalam Sejarah Yang Menjadi Doktor dan Profesor


1322225156523322321
Bagi saya, menyimak sejarah berbagai hal di dunia ini adalah suatu sesuatu yang begitu mengasyikkan, sesuatu banget githu lho. Semua itu turut memberi sumbangsih untuk menambah wawasan dan menjadi sarana pembelajaran yang luar biasa bermanfaat. Memicu dan memacu semangat kita untuk menjadi lebih baik, dan lebih baik, dan lebih baik lagi. Berusaha berbuat dan menciptakan karya-karya terbaik yang kita punya, dan yang kita bisa.

Kali ini, mari kita simak dan lihat serta meneladani hal-hal positif dari para tokoh berikut ini. Mereka adalah professor-profesor dan doktor-doktor termuda, yang sudah mencatatkan diri mereka dalam sejarah dunia pendidikan. Baik itu pendidikan tingkat dunia maupun pada skala dunia pendidikan Indonesia. Adalah merupakan kebanggaan bagi mereka yang menghasilkan karya terbaik di usia yang masih belia. Contoh yang tentu saja begitu menginspirasi dan menguatkan, serta membanggakan kita.

Pemuda berikut ini meraih gelar Profesor di bidang Electrical Engineering di Amerika sebelum berusia 30 tahun. Karena marga-nya (nama belakang) yang sangat mirip nama orang Jepang, maka tak jarang para petinggi Jepang mengajaknya untuk “pulang ke Jepang” demi membangun Jepang. Padahal ia sama sekali bukan orang Jepang lho. Tapi ternyata Prof. Tansu, begitu sering ia disapa adalah pemegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila. Ia adalah warga negara Indonesia yang sangat brilian.

Sosok kita yang pertama memang adalah seorang pria bernama Nelson Tansu. Siapa sih sebernarnya pemuda ini? Mungkin banyak di antara kita yang sudah mengetahui sepak terjang beliau. Laki-laki muda yang lahir di Medan pada tanggal 20 Oktober tahun 1977 ini adalah merupakan lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Pernah menjadi finalis tim Indonesia di Olimpiade Fisika. Meraih gelar Sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP).
Gelar sarjana di Wisconsin itu diraih dengan ‘sangat gampang’. Hal itu dibuktikan dengan menyelesaikan studinya tersebut hanya dengan waktu yang sangat singkat yaitu 2 tahun 9 bulan. Ia juga lulus dengan predikat Summa Cum Laude. Sebuah prestasi kelulusan tertinggi. Ia meraih gelar Master pada bidang yang sama, dan meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Electrical Engineering pada usianya yang baru ke-26 tahun.

Thursday, May 10, 2012

Wow, Thanks God?


“Wow, Thanks God”?

Sering benar kita menggunakan ungkapan-ungkapan ekspresi dalam bahasa Inggris. Bahkan tidak jarang banyak anak-anak muda dengan pede (percaya diri) yang sangat tinggi saling berbalas-balasan dengan menggunakan Bahasa Inggris. Apakah semuanya itu salah? Tentu tidak. Tapi mari kita sedikit maju lebih jauh lagi untuk melihat berbagai keganjilan dan kekeliruan yang terjadi.

Ada teman saya, saking gembiranya dikasih naik gaji lumayan gede sama bossnya, teriak kayak orang kesurupan “Oh yeah…Thanks God!”. Jadi rupa-rupanya ia mau mengganti ungkapan ‘syukurlah’ dengan memakai Bahasa Inggris. English bo! English coy!. Nah, tapi coba Anda tebak di mana letak kesalahan ungkapan teman saya tadi? Apa…? Seratus! Anda ternyata lebih jeli dari teman saya itu. Jadi penggunaan “Thanks God” tersebut kurang tepat. Harusnya ekspresi rasa syukur tersbut harus berbunyi “Thank God” tanpa memakai huruf “S”. Sebab dengan menempatkan huruf S, ungkapan tersebut akan jadi berubah makna dan arti. Sama saja dengan ketika kita mau mengatakan “Thank You” dan bukannya “Thanks You”. Betul tidak? Ya iyalah pasti betul!

Saturday, April 21, 2012

Bahasa Itu Penting!



Bahasa perlu dilestarikan. Jangan kita memiliki anggapan bahwa melestarikan budaya itu, melestarikan bahasa itu hal remeh temeh yang tidak perlu diperhatikan. Tentu saja, bahasa kita adalah Bahasa Indonesia. Itu harus jaga dan dilestarikan. Bahkan, lihat saja perkembangan bahasa kita yang begitu cepat

Tapi adalah juga penting bagi kita untuk melestarikan bahasa daerah kita masing-masing. Negeri kita ini mungkin termasuk salah satu dari antara Negara-Negara yang paling kaya akan bahasa. Dari  Sabang sampai Merauke, ada ribuan bahasa yang kita punyai. Itu asset bernilai yang harus terus dijaga. Kita memang kaya akan bahasa, belum lagi aksen, logat yang kita miliki.

Di Amerika, mereka cuma punya satu bahasa “asli”, yaitu bahasa Inggris. Walaupun ada banyak foreign language yang sering digunakan seperti France, Spanish, Chinessee, Africanesse dan masih banyak lagi, tapi bahasa orang Amerika sendiri hanyalah Inggris. Yang membedakan mereka hanyalah aksen dari setiap Negara Bagian (propinsi).

Sunday, April 15, 2012

Belajar Bahasa Inggris Susah?


Kenapa Bahasa Inggris Susah Dipelajari?


Bahasa Inggris itu agak berbeda dengan yang namanya Spanish (Bahasa Spanyol) atau pun Italian (Bahasa Italy), kedua-duanya adalah bahasa asing yang terbanyak dipergunakan di seluruh wilayah Amerika Serikat, atau bahkan dibanding Bahasa Indonesia yang untuk sebagian besar kata-kata yang dimiliki adalah spelled phonetically. Gamblangnya, bahasa puitisnya adalah bahwa apa yang tertulis itu yang terucap dan terdengar he he he…Tapi English memiliki beribu-ribu kata yang mengharuskan penggunanya mesti take spelling mastery to learn. Ini for sure lho, jangan main-main.

Beberapa tahun lalu ada sebuah analisis yang dilakukan oleh komite untuk national tests di England. Lantas apa yang mereka temukan saudara-saudaraku sekalian? Mereka menemukan bahwa siswa-siswa pada usia 11 dan 14 tahun membuat lebih banyak kesalahan spelling dibandingkan dengan kesalahan yang dilakukan setahun sebelumnya. Nah lho, kok bisa sih? Sebagai contoh saja, salah satu kata yang bermasalah adalah ‘technique’, sebagian besar siswa yang mengikuti test tersebut (kurang lebih 600.000 siswa yang mengikuti test) memberikan alternatif jawaban yang salah. Mereka memberikan jawaban seperti ‘techneck’, ada juga yang menulisnya sebagai ‘tecnique’, bahkan yang nggak masuk akal sekalipun seperti ‘teacneak’.

Wednesday, April 4, 2012

Why Do I Like Chinese Food?


Saya Paling Suka Makan Chinese Food, Why?
Seperti sudah menjadi pengetahuan umum yang lazim bahwa hampir di setiap negara ada China Town-nya. Dan hampir di setiap lokasi pasti ada yang namanya Chinese Food. Saya pernah mengelilingi begitu banyak negara bagian (state) di Amerika dan alhasil semua tempat yang pernah saya kunjungi itu ada rumah makan Chinese Food-nya. Nah, lantas apakah yang membuat saya tertarik mencicipi makanan-makanan mereka? Apa karena rasanya? Belum tentu, wong saya kadang baru pertama kali mencicipi menu yang saya pesan. Jawabannya adalah yang pertama kali menarik minat dan perhatian saya adalah nama-nama menu yang tertulis dan tersaji di situ. Nama-nama yang lucu, aneh bin ajaib, dan unik itulah yang menarik pandangan mata saya.
Sebut saja di antaranya nama-nama sjian seperti Moo Goo Gai Pan atau CHICKEN CHOW FOON atau juga yang namanya Buddha’s delight. Nah, itu belum seberapa dibandingkan ketika nama-nama menunya sudah di-Inggriskan, wah tambah unik deh. Tambah lapar pula! Ada yang namanya Tung Ting Lake Shrimp, Pu Pu Platter, Happy Family, Dragon Meet Phoenix,
Lha, nama-nama di atas tersebut masih masuk wilayah ‘normal’ di telinga kita maupun bagi para native English speaker. Tapi bagi Anda yang sudah pernah menjelajah restauran-restauran langsung di mainland china…wuih, bakalan lebih parah lagi tuh. Di New York sendiri masih ada juga yang menggunakan daftar menu dengan nama-nama ‘tidak masuk akal’ seperti yang akan Anda baca di bawah iniJ :
·         Chicken without sexual life
·         Red burned lion head
·         Husband and wife's lung slice
·         Government abuse chicken
·         Bean curd made by a pock-marked woman 

Emerose Indonesia Overview


Brief Overview - PT Emerose Indonesia

VISION and MISSION

 PT. Emerose Indonesia is established to carry out the following vision and mission:

VISION

The corporate vision is to become a competitive, qualified  and competent Trading  and Retail Company by having well managed resources and networks both in domestic and International. Manage to become a leading local trading and retail distribution’ company by providing complementary growth services – including retail distribution and management consulting. Provide the highest quality management and services that consistently exceed clients’ expectations and our competitors’ capabilities.

MISSION

- To do general trading in various good quality of commodities.
- To conduct domestic and overseas businesses.
- To serve our clients satisfaction completely and competitively.
- To meet all expectations of the stakeholders and clients.
- To participates and contributes in developing of national economy.

INTRODUCTION

Foreign companies wishing to sell their products in Indonesia are required to appoint an Indonesian agent or distributor pursuant to Ministry of Trade (MOT) Regulation No. 36/1977. The registration of an Indonesian agent or distributor with the Directorate of Business Development and Company Registration at the MOT is mandatory under MOT Regulation II/M-DAG/PER/3/2006.

The services of an aggressive, active Indonesian agent or distributor can be an important means of expanding sales in Indonesia because they know the cultural minefields and systemic processes that foreigners need years to begin to master. Many Indonesian importers do not specialize in particular product lines, and represent multiple foreign manufacturers and product lines. Generally, however, large conglomerates establish discrete company units that tend to specialize around a product range. Medium and smaller importers tend to specialize in a narrow range of goods, but are not averse to adding a completely different product line if a profit can be foreseen.

Foreign principals often work out a management agreement that allows the foreign company in Indonesia to play a more active role in the marketing efforts of its Indonesian agent or distributor. In many cases, a separate agreement is signed between the expatriate personnel and their foreign employer to regulate this relationship. The tax liability of the foreign firm is limited to the income of the expatriates assigned to the representative office, while any other taxes are assessed to, and borne by, the agent.

Friday, March 30, 2012

Potency of Indonesian Market

POTENCY OF INDONESIA

A.   Economy

Indonesia is a country located in Southeastern Asia between the Indian Ocean and Pacific Ocean. It has a strategic location astride major sea lanes and is an archipelago of more than 17,000 islands. Indonesia has a mixed economic system in which the economy includes a variety of private freedom, combined with centralized economic planning and government regulation. Indonesia is a member of the Asian Pacific Economic Cooperation (APEC) and Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) as a leader and the headquarter office is in Jakarta.

Indonesia is the third fastest growing economy in Asia and the largest economy in Southeast Asia. Indonesia’s economy grew by 6.5% in 2011 and forecast to climb to 6.9 in 2012, marking the highest percentage in over a decade.  This GDP growth, however, is not unprecedented because in seven of the last eight years Indonesia’s GDP has grown by more than 5%.  In the last couple of years, corporations and investors have begun to compare Indonesia’s economic growth potential with the likes of India and China.  Strong growth and political stability are two of the main reasons why corporations and investors share this confidence. Indonesia's balance of payments for 2011 also registered a surplus of US$11.9 billion.

Another great sign for Indonesia’s economy is that foreign direct investment increased by 20% last year. And last year experienced higher economic growth than any of its neighbors in this region. In terms of fiscal and monetary conditions, Indonesia is much better than European countries as Indonesia fiscal burden lighter. In monetary policy for example, Indonesia needs to raise SBI (Interest rate) only once while China, Singapore and India need to raise central banks rates 7-9 times in the past 19 months.

Wednesday, February 29, 2012

Mantan Tukang Sapu Jadi Presiden

Bagi sebagian orang, tukang sapu adalah pekerjaan yang dipandang sebelah mata. Padahal menjadi tukang sapu di jalan raya, di rail kereta, di mall-mall besar sebenarnya punya tantangan tersendiri. Bagaimana membuat dan menjaga public place tersebut tetap bersih sepanjang hari, bagaimana pula supaya dapat bekerja dengan sabar. Kenapa harus sabar? Karena tempat-tempat umum tersebut akan dengan mudahnya kotor kembali walaupun baru selesai dibersihkan. Pekerjaan yang butuh kesabaran ini tentu tidak banyak orang yang suka, atau bakalan menolaknya kalau bisa memilih. Tapi pekerjaan inilah yang pernah dilakoni seorang Michael yang akhirnya terpilih sebagai seorang presiden.

Michael pernah menjadi tukang sapu di suatu stasiun kereta Victoria di London Inggris. Tempat yang begitu jauh dari tanah kelahiran dan sanak saudaranya. Ia yang pada saat itu sementara menimba ilmu politik di London mengalami kekurangan dana untuk menyambung hidup di negeri orang. Akhirnya, membuang rasa malu, ia mencoba melamar pada perusahaan British Air sebagai seorang petugas kebersihan. Tukang sapu stasiun. Ia diterima bekerja di situ, pekerjaan yang juga akhirnya membentuk dirinya menjadi sabar, ulet dan pantang menyerah.
13170489651737542348 

Monday, February 20, 2012

Bahasa Inggris, Salah atau Benar?

Kebiasaan Berbahasa Inggris.

Dalam berbahasa, entah bahasa apapun yang kita pakai, maka domisili, kebiasaan, kebudayaan setempat, dan lingkungan sekitar tentu sangat mempengaruhi gaya, pakem, dan kemampuan kita berbahasa. Bayangkan mereka yang tinggal puluhan tahun di pula Jawa misalnya, dan dalam kesehariannya hanya memakai bahasa Jawa, tentu akan sangat kaku ketika harus berbahasa Indonesia. Bagaimana pula dengan mereka yang kebiasaannya hanya menggunakan dialek “Manado pasar” dalam berkomunikasi? Tentu akan kesulitan ketika harus berhadapan dengan babe-babe dari Jakarta umpamanya.

Lalu apa yang terjadi kalau hal itu terus berlanjut? Miscommunication. Itu sudah pasti. Ambil contoh teman saya yang kebiasaannya menggunakan dialek Manado Pasar yang sungguh kental. Suatu waktu ia dibawa pamannya ke Jakarta, kota yang perama kali dilihatnya dan diinjaknya. Ia kagum bukan main. Ia bertekad untuk tinggal di kota megah ini katanya. Tapi mimpi tinggalah mimpi. Harapannya tak berlangsung lama, kenapa? Karena kendala berbahasa. Tak satupun tempat kerja yang mau mempekerjakan ia yang tak bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Dibilangin “Apa pun yang terjadi kamu tetap harus membuat pembukuan itu secara runut dan tuntas” ia nggak ngerti. Apalagi gaya bicara orang Jakarta yang menurutnya “So talalu banya ba logat do’ce!” Padahal memang demikianlah orang Jakarta ngomong. Ia merasa orang Jakarta yang bicaranya aneh, padahal bisa saja sebaliknya, karena dialah yang pendatang. Hanya sekian minggu di Jakarta, nggak betah, maka pulanglah sobat kita yang satu itu ke kampung halamannya.