Tuesday, November 12, 2013

Tips Menjadi Penulis Handal

Menurut pendapat saya, hanya ada dua jalan untuk menjadi seorang penulis yang baik. Banyak membaca dan banyak menulis. Itu saja, dan tidak ada kemungkinan lain yang dapat menjadikan kita penulis yang lebih baik lagi dari hari ke hari, selain dua cara di atas itu. Tanpa dua hal itu, atau salah satu dari dua cara tersebut maka mustahil kita akan menjadi penulis yang bertambah baik dari masa ke masa. Bukankah kebolehan dan kehebatan menulis tidak serta merta turun dari langit, pun tidak secara ajaib menghinggapi diri kita sekejab mata. Butuh waktu dan perjuangan untuk menjadi seorang penulis yang baik. Ada kesaksian seorang pelulis hebat asal Amerika, yang sudah menulis ratusan kali barulah ia mendapatkan ‘ritme kepenulisan’ yang baik dan diterima sidang pembaca.

Mari kita tinjau lebih lanjut kenapa opsi pertama, yaitu banyak membaca, dapat menjadikan kita seorang penulis handal. Banyak di antara kita, termasuk para penulis hebat semisal Sidney Sheldon dan Michael Crichton serta penulis kaliber dunia lainnya ternyata adalah orang-orang yang gemar membaca sejak kecil. Saya sendiri sudah membaca novel dan buku-buku pengetahuan umum lainnya ketika masih kelas 4 SD, walaupun kegemaran membaca sempat memudar sekian waktu lamanya. Tanpa kita sadari sepenuhnya, sesungguhnya ‘perjalanan imaginasi’ kita ketika membaca buku apapun secara terus menerus itu ternyata telah melatih dan membentuk kita untuk menjadi seorang penulis hebat, setidaknya untuk bisa menulis sebagus apa yang terus menerus kita baca tersebut. Penelitian membuktikan bahwa sesuatu yang kita baca ‘secara nikmat’ akan membekas lama dalam pikiran dan sanubari kita paling dalam.

Membaca sesungguhnya adalah sesuatu yang menyenangkan. Ia akan membentuk imaginasi Anda secara lebih luas dan tajam. Ia pula akan menghantar Anda memasuki dimensi-dimensi lain yang mungkin saja tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Membaca adalah sarana Anda untuk membuka jendela dan pintu yang masih tertutup. Dan, membaca juga adalah alat paling mujarab mengembangkan kemapuan berpikir dan berfantasi Anda. Membaca sesuatu yang menyenangkan, menghibur, menantang, membuat adrenalin dalam darah bekerja lebih cepat, tentu akan dengan sendirinya menciptakan serta membentuk pola pikir Anda untuk bisa juga melahirkan sebuah maha karya seperti yang sementara Anda baca dan jiwai itu.


Membaca akan menambah wawasan tentang hal-hal baru, menciptakan pemahaman tentang pengetahuan-pengetahuan baru, mengumpulkan kata-kata baru, bahkan pun menciptakan ‘dunia-dunia’ yang baru.
Nah, apa yang kita pelajari sebagai seorang pembaca, amat sangat bisa kita terapkan juga pada posisi kita sebagai seorang penulis. Waktulah yang akan membuktikan bahwa seiring dengan berjalannya waktu, semua apa yang kita baca, akan secara otomatis memengaruhi apa yang kita tulis. Tulisan kita adalah kompilasi dari apa yang kita baca dalam kurun waktu tertentu, bisa pula selama bertahun-tahun lamanya, sadar atau tidak. Baik dari gaya kita menulis, pengetahuan yang kita tuangkan, ide yang ingin kita sampaikan, maupun cara kita menuangkannya. Semuanya tidak pernah lepas dari apa-apa yang sudah pernah kita baca. [Termasuk tulisan ini juga, secara jujur harus saya akui, tidaklah lepas dari kebesaran isi tulisan begitu banyak orang hebat yang bukunya atau tulisannya sudah pernah saya baca. Entah seperti apa influence tulisan mereka, tapi saya amat yakin itu semua cukup memengaruhi saya.] Our writing becomes in some ways a compilation of all the things we’ve learned as readers, blended together in our own unique recipe.
Ada begitu banyak yang dapat kita urai lebih lanjut dari bagaimana menjadikan kebiasaan membaca itu menjadi senjata ampuh untuk memumpunikan kemampuan menulis kita. Mungkin yang ini harus dibahas dalam sesi lain, mengingat kopi di meja saya sudah kandas. Dua gelas isi penuh mau tidak mau sudah rata hingga ampas-ampasnya. So, perhaps we have to stop it now. Tapi tunggu dulu, bukankah masih ada opsi ke dua yakni menulislah banyak-banyak supaya kemampuan kita menjadi lebih baik?

Oke, kita lanjutkan sedikit lagi deh, ya sedikit saja, sebelum pembaca sekalian menjadi bosan tiada taranya. Begini, memang benar bahwa kalau kita menulis berulangkali pasti kemampuan kita akan meningkat. Ini sangat jelas. Ibaratnya, ‘kelinci pandai mencuri wortel karena terbiasa’. Tapi belum pernah ada kucing mencuri wortel di kebun. Bayangkan saja seseorang yang tiap hari pekerjaannya adalah manjat pohon kelapa, pasti lama-kelamaan ia akan menjadi sangat mahir memanjat pohon kelapa. Pisau yang tiap hari diasah pastilah akan menjadi tajam tak terkirakan. Lantas bagaimana dengan pisau yang tidak pernah diasah? So pasti tumpul dan tak dapat memotong dengan maksimal. Anda bisa karena terbiasa. Tidak bisa ya karena tidak terbiasa. Just as simple as that, my friend.

Contoh sederhana, ketika kita biasanya menulis dengan menggunakan tanda baca yang masih banyak kelirunya (seperti umpamanya pada tulisan ini, maklumlah masih dalam proses belajar), juga dengan pemakaian istilah yang masih salah kaprah, namun toh seiring dengan berjalannya waktu semuanya itu pastilah akan mulai terkikis habis. Sepanjang kita ‘merelakan’ diri kita ‘dibimbing’ dan ‘dididik’ oleh kesalahan yang kita buat sendiri, maka dengan sendirinya pada penulisan-penulisan ke sekian, kita akan mampu menjadi lebih baik lagi. Ini adalah sebuah proses yang tidak langsung jadi, tetapi bukan sesuatu yang mustahil. The more you learn how to write, the better writer you will be.
 
Demikianlah sekelumit pendapat saya. Kebiasaan akan menjadikan kita hebat. Tanpa membiasakan diri untuk terus membaca dan tetap menulis, maka jangan pernah berharap untuk menjadi penulis yang berkualitas mumpuni. Menjadi penulis biasa-biasa saja memang gampang, tapi menjadi penulis luar biasa itu tidak semudah yang terpikirkan. Ada proses yang mesti kita jalani untuk itu. Sda pengorbanan waktu dan perasaan di sana. Ada rintangan dan hambatan di sana. Ada godaan dan cobaan di sana. Dan proses tersebut sesungguhnya sudah kita mulai, serta dapatkan di ‘rumah’ ini. Di sini, kita akan terus membaca dan membaca. Bukan sampai di situ saja. Kita pun akan terus menulis dan menulis. Apapun alasan serta ajakan yang memancing kita untuk berhenti. Kita bertekad untuk menjadi penulis yang lebih baik dari hari ke hari, maka tidak ada kata mundur ketika kita sudah memutuskan maju.

Jadi dua opsi sekaligus sudah kita kerjakan, banyak membaca dan menulis banyak-banyak. Percayalah, niscaya kita akan menjadi penulis-penulis yang dihormati dan dikagumi, setidaknya oleh diri kita sendiri, dan keluarga terdekat kita di dalam ‘rumah’ bernama Kompasiana ini. Selamat menulis dan selamat membaca. Atau, selamat membaca dan selamat menulis. Remember, you are what you read, but also you are what you write. —Michael Sendow—

Tulisan terkait:

No comments: