Jokowi dalam acara Ngobrol Bareng Netizen. Pic: Koleksi Pribadi |
Kampanye hitam, dan segala bentuk tuduhan serta pelecehan
sampai detik ini masih saja dialamatkan kepada sosok Jokowi. Hanya oleh karena perbedaan
keyakinan dan perbedaan pandangan politik dalam pilpres. Memang kita sementara
berada dalam masa kampanye, maka tidak heran semua bentuk fitnahan dan
propaganda hitam terus saja dilancarkan. Ini sama sekali tidakboleh dibenarkan
di dalam alam peradaban dan alam keterdidikan yang sudah semoderen ini. Kita
tidak lagi hidup di jaman batu. Moral dan etika mestinya lebih dikedepankan. Apakah terdidik dan beradap ketika kita
memfitnah dan menjatuhkan seseorang dengan cara-cara menghalalkan segala cara
seperti itu? Tentu tidak.
Kali ini, saya ingin sekali untuk sekedar menuliskan beberapa
fakta (bukan fiksi) tentang Jokowi, dan semua prestasi serta keberhasilannya
selama masa kepemimpinannya di Solo dan di Jakarta. Beberapa diantaranya adalah
ini.
Sebagai pemimpin yang berhasil, maka ada segudang prestasi
yang sudah sudah Jokowi dapatkan. Sebut saja diantaranya Bintang Jasa Utama
oleh Presiden SBY. Ia juga menjadi juara 3 walikota terbaik di dunia. Masuk
dalam The Leading Global Thinkers 2013 dan mendapatkan awardnya dari
Majalah Foreign Policy. Ia kemudian
juga menjadi walikota terbaik pada bulan Februari 2013 dari The City Mayors Foundation yang
bermarkas di London. Pada tahun 2010 ia menerima penghargaan Bung
Hatta Anticorruption Award. Kemudian setahun kemudian di tahun 2011
Jokowi menerima Charta Politica Award. Masih
di tahun yang sama, 2011 tersebut, Jokowi menerima penghargaan sebagai Walikota
teladan dari Kementerian Dalam Negeri. Yang teranyar adalah ia kemudian masuk
dalam list nomor 37 di Majalah bergengsi Fortune sebagai salah satu dari 50
The World’s Greatest Leaders. Nah, apakah semuanya itu masih kurang?
Kurang apa Jokowi dalam dunia kepemerintahan?
Mari kita menyelam lebih dalam lagi kalau begitu. Banyak
penghargaan nasional lainnya yang sudah diterimanya. Dan, ini mau tidak mau
adalah FAKTA tak terbantahkan tentang kepiawaian seorang Jokowi dalam dunia
kepemimpinan dan dunia pemerintahan. Jangan kemudian kita membolak-balikkan.
Fakta menjadi fiksi, dan imaginasi kita katakan sebagai fakta. Itu sungguh
keliru. Kalau kita masih mau menggunakan akal sehat dan nurani yang paling
dalam, maka katakan fakta sebagai fakta dan jangan dimanipulasi untuk
kepentingan sendiri.
Pada tahun 2009 Jokowi menerima piala dan piagam Citra Bhakti Abdi Negara dari Presiden
RI, dalam hal kinerja kota dalam penyediaan sarana Pelayanan Publik, Kebijakan
Deregulasi, Penegakan Disiplin dan Pengembangan Manajemen Pelayanan. Di tahun
yang sama, Jokowi juga menerima Piala
Citra Bidang Pelayanan Prima Tingkat Nasional oleh MENPAN saat itu. Masih
di tahun yang sama, ia juga berhasil mendapatkan penghargaan dari Departemen
Keuangan berupa hibah sebesar 19.2 Miliar untuk pelaksanaan pengelolaan keuangan yang baik.
Tetap masih kurang? Okelah, mari kita lanjutkan membaca
dengan menggunakan mata dan hati. Mata hati. Ia memimpin Solo untuk mendapatkan
penghargaan Kota Solo sebagai inkubator bisnis
dan teknologi (2010) dari AIBI. Mendapatkan juga Grand Award Layanan Publik Bidang Pendidikan dan mendapatkan 5 kali Anugerah Wahana Tata Nugraha dari
tahun 2006-2011. Penghargaan kota
pengembang UMKM terbaik versi Universitas Sebelas Maret di tahun 2012. Penghargaan Langit Biru dari Kementerian
Lingkungan Hidup untuk kategori kota dengan kualitas udara terbersih. Dan
juga menerima penghargaan dari Presiden RI dalam bidang Pelopor Inovasi Pelayanan Prima. Serta sederetan prestasi lainnya
yang tidak mungkin saya tulis satu demi satu.
Di Jakarta juga, Jokowi dan Ahok sudah berbuat banyak,
meskipun kritikan terus saja berdatangan, mengharapkan Jokowi dan Ahok menjelma
menjadi superman bagi mereka. Memanglah Jokowi bukan manusia sempurna. Makanya
saya setuju dengan pendapat Anies Baswedan. Kita tidak sedang mencari seorang
pemimpin yang sempurna. Ada begitu banyak orang yang membandingkan Jokowi
dengan kesempurnaan, lantas mereka kecewa, kemudian mereka akhirnya memilih
lawan. Jokowi jangan dibandingkan dengan kesempurnaan, karena yang maju dalam
pilpres bukan Jokowi dan kesempurnaan. Bandingkanlah Jokowi dengan lawannya.
Bila Anda membandingkan Jokowi dengan kesempurnaan maka Anda akan kecewa.
Sebab, di bawah kolong langit ini nobody is perfect.
Di Jakarta Jokowi bersama-sama dengan Ahok sudah melakukan
perubahan sistem kepemimpinan, sistem birokrasi, dan sistem pelayanan terpadu secaya
besar-besaran. Dampaknya sudah mulai dapat kita rasakan. Lelang jabatan,
pelayanan terpadu yang cepat dan memihak masyarakat banyak, serta layanan prima
sudah memberi dampak positif sangat besar. Membuat izin usaha yang biasanya
perlu berbulan-bulan, dibuat secepat mungkin. Membuat KTP yang biasanya
berhari-hari bisa berminggu-minggu, kini sehari bisa selesai. Di Singapura itu
membuat ijin usaha hanya perlu setengah hari, kenapa kita tidak meniru mereka?
Karena mental penguasa negeri ini belum direvolusi. Selagi masih bisa
dipersulit kenapa harus dipermudah? Itulah salah satu yang mau dibenahi Jokowi
lewat revolusi mentalnya.
Beberapa contoh sederhana keberhasilan Jokowi di DKI ini
juga sebetulnya dapat kita saksikan lewat berita sehari-hari. Katanya Jokowi
itu antek asing? Tapi mungkin ia adalah salah satu dari sedikit pejabat negara
yang justru berani menolak bantuan Bank Dunia yang bersyarat macam-macam. Ia
mengatakan kalau kita sanggup membiayai sendiri kenapa harus manut-manut ke
Bank Dunia kalau setelah itu mereka yang ngatur-ngatur
kita?
Jokowi melakukan efisiensi pada setiap acara pelantikan
pejabat daerah secara sederhana dan merakyat. Itu sudah dibuktikan beberapa
kali, diantaranya pada pelantikan HR Krisdianto dan Husein Murad sebagai
Walikota dan Wakil Walikota Jakarta Timur (tidak jauh di sekitar lokasi saya
tinggal) pada Kamis 20 Desember 2012 yang diselenggarakan di lingkungan kumuh
dan dihadapan ratusan warga Gang Swadaya, Kampung Pulo, Cakung Jakarta Timur.
Satu-satunya Gubernur yang menaikkan UMR sampai di atas 30%.
Kenaikan yang sangat fantastis, meskipun ia harus berhadap-hadapan dengan para
pengusaha besar dan kapitalis perusahaan yang sempat mengancam akan keluar dari
Jakarta. Ia tetap tegas pada pendiriannya. Hak-hak kaum kecil yang mesti lebih
ia perhatikan. Ini katanya amat sangat wajar karena sudah bertahun-tahun tidak
ada kenaikan yang signifikan.
Menyelesaikan Relokasi PKL Tanah Abang tanpa persoalan yang
bertele-tele. Membangun jembatan penghubung antara blok F dan blok G Pasar
Tanah Abang untuk menghidupkan Blok G yang sepi karena minimnya akses masuk. Ia
juga berhasil membuat waduk Pluit dan waduk Ria-Rio nampak hidup, bersih, serta
indah. Tempat yang tadinya kumuh dan tidak manusia berhasil ‘disulap’ menjadi
tempat rekreasi yang manusiawi dan nyaman bagi keluarga dan wisatawan untuk
berkunjung.
Jokowi juga telah membuka pintu untuk adanya pembangunan 8
blok Rusun di Daan Mogot ground breaking 20/6 dengan dana CSR, pembangunan
Rusun Muara Baru dengan dana CSR sebanyak 960 unit yang terdiri dari 8 tower
dan diharapkan akan selesai Bulan Desember nanti.
Masih ada begitu banyak lainnya, yang mungkin tak akan
habis-habis dituliskan di sini. Untuk itulah, mari kita merevolusi dulu mental
dan cara berpikir kita. Umpamanya kita memiliki calon Presiden yang kita kagumi
karena keberhasilan-keberhasilannya. Tuliskan berbagai kelebihannya itu, jangan
hanya berkampanye gelap terhadap capres lawan. Percayalah, you are what you say. You are
what you write. Bila Anda menuliskan fitnah dan hanya pembunuhan
karakter orang lain saja yang diumbar sana sini, maka Anda jualah yang akan
menuainya. Bukankah ada pribahasa yang berkata, apa yang Anda tabur, itulah
juga yang akan Anda tuai? Jadi taburlah yang baik-baik dan positif. Selamat
memilih Indonesia. #Salam2jari.
#Salam2jempol. #SalamRevolusiMental. ---Michael Sendow---
3 comments:
I don’t know what Indonesia has done to deserve this karma of having a loser of a presidential candidate who just refuses to accept his defeat gracefully, move on with his life and let the country get on with going back to business as usual.
Instead, in the more than two weeks since we all went dutifully to the polling station to make our choice, in a peaceful, democratic and transparent election, we still have to put up with listening to his rhetoric and speeches about how, according to his version of the results, he should have won, about how the General Elections Commission, or KPU, is unfair and undemocratic, about how the whole election process is illegitimate because it is based on a massive and systematic fraud. All because the stars are not in his favor. All because he lost.
Because the result — since the day the quick counts were aired, to the official count made by the KPU under intense scrutiny by the whole of country who made sure that no irregularity went unnoticed — consistently puts him in the losing team.
This, despite his team’s months of relentless efforts in engaging in huge, effective and systematic smear campaigns in every media platform that actually garnered him more votes than he would otherwise deserve. Despite the huge and successful public relations efforts to make him into some sort of savior of the land and the many activities, both obvious and covert, to influence voters to choose him. Not to mention the amount of time, money, professional campaign strategists, energy and high blood pressure expended in order to fulfill his one lifelong ambition: to be the president of this country.
But the fact is, there can only be one winner. And it just so happens, it’s not him. And no amount of bad mouthing of his opponent, no amount of telling the entire world that he’s won the election, no amount of shouting and getting upset, can change that fact. A fact that many losing presidential candidates around the world have had to accept in the end, however bitter, without breaking down into pathetic temper tantrums. This, after all, is the world of politics, not some kindergarten playground.
Instead of quietly and gracefully conceding — which would have been the most honorable thing to do, especially for a man of valor and a patriot as he always claims himself to be — he has stolen much of the media limelight that should have been devoted to congratulating the newly elected president, to focus on his pain, frustrations and immense sense of betrayal.
Is he not the embodiment of heroism and bravery? Is he not the champion of democracy? Is he not the knight in shining armor who is destined to raise the Indonesian people from their stupidity, slave-mentality and oppression by arrogant foreigners?
Is it not obvious that he is the true and legitimate winner of the election, and not some skinny, furniture maker out of nowhere who’s never ridden a horse, wielded a gun or defended the country in battle? A nobody who actually had the audacity to cross path with one born with a silver spoon in his mouth and whose lineage can be traced back centuries.
Surely there must be some mistake. A cruel joke. Or some massive and systematic conspiracy concocted by the supporters of the Dark Force to rob him of his rightful throne and his birthright. The stars cannot be wrong. So the whole election must be wrong. And it is his duty to right that wrong, whatever it takes, lest the heavens be offended if the injustice is not redressed.
Never mind that the whole country is hostage to his rage. Never mind that he treats respected institutions with contempt like some bilious and cantankerous despot, and this when he’s not even the president yet. (God forbid what he would be like if he did become president).
In this, I lay the blame squarely on the KPU for having allowed a delusional megalomaniac to enter the presidential race to begin with.
By Desi Anwar,-
Desi Anwar is a senior anchor at Metro TV. She can be reached at desianwar.com or dailyavocado.net.
Great article!
Mantap! Senang ngebacanya...:)
Post a Comment