Tuesday, April 5, 2011

Free Like A Bird Strong As An Eagle

Free Like a bird Strong Like an Eagle
(Michael Sendow)



Most of us have heard the statement “free as a bird”. Birds are associated with freedom because of their ability to fly. They are not yoked or earthbound. They can escape out of a trap or fly away at will. Although all birds can fly, it’s the eagle’s superior flying power, among its other qualities, that has given it its name as the king of birds. It is not by accident that the eagle is the national emblem of The United States. The eagle is on the currency and in many of the states and federal buildings. America is a country that prides itself in freedom and democracy ( but not for DemoCrazy). Similarly, The Eagle (Garuda) is the symbol of Indonesia’s independence in 1945 and being use as a symbol of The Republic of Indonesia until now in many places, building, schools for very much the same reason.

Eagles are strong of heart and represent admirable qualities such as power, majesty and faithfulness—qualities that governments want to identify with. However, the quality that seems to stand out in the eagle is its sense of freedom. Nothing is more beautiful that to see an eagle soar against the sunset. It is said that the wingspan of an eagle measures eight to nine feet, and that with just one powerful downbeat of its wings, this hundred-pound bird can be airborne to 12,000 feet in just minutes! In fact, pilots have spotted them flying as high as 25,000 feet and going as much as 150 miles an hour.


Freedom was not intended by the founding father of The United States. God has put within each human being the desire to be free. You will kill the baby eagle if you try to help it get out of the egg, because it’s through the struggle that it develops its strength and will to live. In the same way, after nine months, a pregnant woman experiences the pain of contraction as the baby within her struggle to be free. So, even from birth, a human being desires to be free.

Freedom is one of the greatest gifts that God has given us. When we are treated unfairly because of our race, gender, age or religion that freedom is being taken away from us, He gives us freedom. God frees oppressed people who are held captive and imprisoned by a political system. But he also frees people from spiritual imprisonment—because that is at the heart of the matter.

Sounds like that still happening until these present days, doesn’t it? We no longer had the yoke of slavery around our necks, but in a sense, they still had it around our hearts. Like so many of us who are experiencing the ongoing affects of September 11, nation against nation war, race against another race all over the world, killing people everywhere, slaughtering, murdering and not only that but also demolition and destruction that taking place in so many area of life around the world, we are living in fear of being attacked and enslaved again or even being killed. As a result, we are being robbed of our true potential, and living less than human beings made in the image of our God.

What is the yoke that you are wearing around your neck that is choking out your true potential and causing you to live less than human? Is it low-self-esteem? Is it a physically or verbally abusive relationship? Are you wearing the yoke of guilt or shame because of a past mistake? Is it a yoke of habitual sin that you can seem to shake? Or are you bound by the fear of tragedy? Or by the fear of now-a-day situations which are unfair, no real justice, corrupt with all the nonsense inside and within government?


We must act like an eagle and have its power. This power to mount up with wings as eagles—to achieve our true potential—is the power that only God can give. Receive His power and fresh start in life. You can fly like an Eagle or a Garuda! You can be free as a bird!

Wednesday, March 9, 2011

CITA DEMOKRASI DAN NOMOKRASI

CITA DEMOKRASI DAN NOMOKRASI
Negara Indonesia menganut paham kedaulatan rakyat atau democratie (democracy). Pemilik kekuasaan tertinggi dalam negara adalah rakyat.Kekuasaan yang sesungguhnya adalah berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Kekuasaan bahkan diidealkan diselenggarakan bersama-sama dengan rakyat. Dalam sistem konstitusional Undang-Undang Dasar, pelaksanaannya kedaulatan rakyat itu disalurkan dan diselenggarakan menurut prosedur konstitusional yang ditetapkan dalam hukum dan konstitusi (constitutional democracy). Karena itu, prinsip kedaulatan rakyat (democratie) dan kedaulatan hukum (nomocratie) hendaklah diselenggarakan secara
beriringan sebagai dua sisi dari mata uang yang sama. Untuk itu, Undang- Undang Dasar negara kita menganut pengertian bahwa Negara Republik Indonesia itu adalah Negara Hukum yang demokrasi (democratische rechtstaat) dan sekaligus adalah Negara Demokrasi yang berdasarkan atau hukum (constitutional democracy) yang tidak terpisahkan satu sama lain.

Kedaulatan rakyat (democratie) Indonesia itu diselenggarakan secara langsung dan melalui sistem perwakilan. Secara langsung, kedaulatan rakyat itu diwujudkan dalam tiga cabang kekuasaan yang tercermin dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat yang terdiri dari Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah; presiden dan wakil presiden ; dan kekuasaan Kehakiman yang terdiri atas Mahkamah Konstitusidan Mahkamah Agung. Dalam menetukan kebijakan pokok pemerintahan dan mengatur ketentuanketentuan hukum berupa Undang-Undang dasar dan Undang-Undang (fungsi 3 Legislatif), serta dalam menjalankan fungsi pengawasan (fungsi kontrol) terhadap jalannya pemerintahan, pelembagaan kedaulatan rakyat itu disalurkan melalui sistem perwakilan. Yaitu melalui Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah. Di daerah-daerah propinsi dan kabupaten/kota, pelembagaan kedaulatan rakyat itu juga disalurkan melalui sistem perwakilan, yaitu melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Penyaluran kedaulatan rakyat secara langsung (direct democracy) dilakukan melalui pemilihan umum untuk memlih anggota lembaga perwakilan dan memilih Presiden dan Wakil presiden. Disamping itu, kedaulatan rakyat dapat pula disalurkan setipa waktu melalui pelaksanaan hak dan kebebasan berpendapat, hak atas kebebasan pers, hak atas kebebasan informasi, kebebasan pers, hak atas kebebasan berorganisasi dan berserikat serta hak hak asasi lainnya yang dijamin dalam Undang-Undang Dasar. Namun, prinsip kedaulatan rakyat yang bersifat langsung itu hendaklah dilakukan melalui saluran-saluran yang sah sesuai dengan prosedur demokrasi (procedural democracy). Sudah seharusnya lembaga perwakilan rakyat dan lembaga perwakilan daerah diberdayakan fungsinya dan pelembagaannya, sehingga dapat memperkuat sistem demokrasi yang berdasar atas hukum (demokrasi Konstitusional) dan prinsip negara hukum yang demokratis tersebut di atas. Bersamaan dengan itu, negara Indonesia juga disebut sebagai Negara Hukum (Rechtstaat), bukan Negara Kekuasaan (Machtstaat). Di dalamnya terkandung pengertian adanya pengakuan terhadap prinsip supremasi hukum dan konstitusi, dianutnya prinsip pemisahan dan pembatasan kekuasaan menurut sistem konstitusional yang diatur dalam Undang-Undang Dasar, adanya jaminan-jaminan hak asasi manusia dalam Undang-Undang dasar, adanya prinsip peradilan yang bebas dan tidak memihak yang menjamin persamaan setiap warga negara dalam hukum, serta menjamin keadilan bagi setiap orang termasuk terhadap penyalahgunaan wewenang oleh pihak yang berkuasa.

Dalam paham Negara Hukum yang demikian itu, pada hakikatnya hukum itu sendirilah yang menjadi penentu segalanya sesuai dengan prinsip nomokrasi (nomcrasy) dan doktrin ‘the Rule of Law, and not of Man’. Dalam kerangka ‘the rule of Law’ itu, diyakini adanya pengakuan bahwa hukum itu mempunyai edudukan tertinggi (supremacy of law), adanya persamaan dalam hukum dan pemerintah (equality before the law), dan berlakunya asas legalitas dalam segala bentuknya dalam kenyataan praktek (due process of law). Namun demikian, harus pula ada jaminan bahwa hukum itu sendiri dibangun dan ditegakkan menurut prinsip-prinsip demokrasi. Karena prinsip supremasi hukum dan kedaulatan hukum itu sendiri pada pokoknya berasal dari kedaulatan rakyat. Oleh sebab itu, prinsip negara hukum hendaklah dibangun dan dikembangkan menurut prinsip-prinsip demokrasi atau kedaulatan rakyat (democratische rechtsstaat).

Hukum tidak boleh dibuat, ditetapkan, ditafsirkan dan ditegakkan dengan tangan besi berdasarkan kekuasaan belaka (Machtstaat). Prinsip Negara Hukum tidak boleh ditegakkan dengan mengabaikan prinsip-prinsip demokrasi yang diatur dalam Undang-Undang Dasar. Puncak kekuasaan hukum itu diletakkan pada konstitusi yang pada hakikatnya merupakan dokumen kesepakatan tentang sistem kenegaraan tertinggi. Bahkan, dalam sistem presidensil yang dikembangkan, konstitusi itulah yang pada hakikatnya merupakan Kepala Negara Republik Indonesia yang bersifat simbolik (symbolic head of state), dengan keberadaan Mahkamah Konstitusisebagai penyangga atau ‘the guardian of the Indonesian constitution’. Ketentuan mengenai cita-cita negara hukum ini secara tegas dirumuskan dalam pasal 1 ayat (3) UUD 1945, yang menyatakan: ‘Negara Indonesia adalah Negara Hukum’, sebelum ini, rumusan naskah asli UUD 1945 tidak mencantumkan ketentuan mengenai negara hukum ini, kecuali hanya dalam penjelasan UUD 1945 yang menggunakan istilah ‘rechtsstaat’. Rumusan eksplisit bahwa Indonesia adalah negara hukum baru terdapat dalam Konstitusi Republik Indonesia Serikat tahun 1949 dan Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950. Untuk mengatasi kekuarangan itulah maka dalam perubahan ketiga UUD 1945, ide negara hukum (rechtstaat atau the rule of law) itu diadopsikan secara tegas ke dalam rumusan pasal UUD, yaitu pasal 1 ayat (3) tersebut diatas. Sementara itu, ketentuan mengenai prinsip kedaulatan rakyat terdapat dalam pembukaan dan juga pada pasal 1 ayat (2). Cita-cita kedaulatan tergambar dalam pembukaan UUD 1945, terutama dalam rumusan alinea IV tentang dasar negara yang kemudian dikenal dengan sebutan Pancasila. Dalam alinea ini, cita-cita kerakyatan dirumuskan secara jelas sebagai “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”. Sedangkan dalam rumusan pasal 1 ayat (2), semangat kerakyatan itu ditegaskan dalam ketentuan yang menegaskan bahwa “kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”.

Sumber: SEMINAR PEMBANGUNAN HUKUM NASIONAL VIII TEMA PENEGAKAN HUKUM DALAM ERA PEMBANGUNAN
BERKELANJUTAN

Tuesday, March 1, 2011

Is Death Penalty Still Relevant? Who Has The Right to Take Human Life ?

Is Death Penalty Still Relevant? Who Has The Right to Take Human Life ?

Capital punishment is a barbaric remnant of an uncivilized society. It is immoral in principle, and unfair and discriminatory in practice" (American Civil Liberties Union National Office). An irrational cycle of murder that can only satisfy personal vendettas of a victim's family is the basis for the barbaric principle of the death penalty. There is no doubt that these people are guilty, so the verdict of guilt is not an issue in the debate on capital punishment it is the sentencing of these criminals that incites fury into advocates and opponents of the death penalty. Because it is constitutionally illegal, biased against lower class citizens and minorities, and economically draining, capital punishment does not have a place in the current United States penal system.

The first World Day Against the Death Penalty took place in 2003. This event was launched by the World Coalition Against the Death Penalty, which gathers international non-governmental organizations (NGOs), bar associations, unions and local governments from all over the world.

Stating “The majority of the world’s countries have chosen to abolish the death penalty . We should follow this path”, Mongolian President Tsakhia Elbegdorj has refused to sign any further orders to execute the country’s inmates. He is in full constitutional right to impose a moratorium on the measure but it will be up to the parliament in Ulaan Bator to pass a complete ban on capital punishment or rather to continue offering the punishment for their most serious crimes. This will bring us to 96 countries that have abolished the death penalty, excluding of course the four most populous nations on earth: Indonesia, the United States, India and China.

Advocates of the death penalty argue that execution is much more humane than life imprisonment because life imprisonment is cruel and causes undue suffering. They argue that execution the quickest and most efficient way to deal with criminals. However, proponents also claim that murderers and rapists do not deserve for guards to take care of them for the remainder of their lives in prison, where they are able to watch television, read and eat three meals a day. In addition, on average it takes about 9 years before the prison executes the death row inmate, so the process is neither quick nor efficient. The unreasonable statement that death by electrocution and lethal injection is the "humane" way to dispose of criminals only emphasizes the irrationality of advocates of the death penalty.

I have always been against the death penalty not on the grounds that it is barbaric or useless but on the more practical grounds that it is decided and applied by humans, flawed, error-prone and imperfect humans. And finally, this is not a discussion of ethics. I believe in democracy above all else and, indeed, four separate international polls in the last five years have confirmed that approximately 55% of those consulted were for the death penalty, so there’s that.

The Bill of Rights reserves the right of no cruel and unusual punishment. Opponents of the death penalty argue that with the current system of appeals, criminals are kept on death row for many years. They argue that it is a form of torture to keep prolonging their eminent death. The death penalty in itself is in contradiction with the eighth Amendment of the constitution. The two most popular modes of execution are lethal injection and electrocution. These forms are actually forms of torture because they are instruments to deprive someone of their right. So, how about you? Will you agree with death penalty or not…? I am not! (Michael E Sendow)

Sunday, February 27, 2011

Extinction of Animals


Extinction of Animals
When an entire species, or type, of animal dies out, that species is extinct. Once a species becomes extinct, it is gone forever.
Causes of Extinction
The most common cause of extinction is a sudden, serious change in a species’ habitat. A habitat is the surroundings in which an animal lives. Animals can rarely survive such sudden change. Their food supply may be wiped out. They may also lose shelter or other things that they need to survive. Many things can change a species’ habitat. Floods, fires, droughts, volcanoes, and other natural events may be causes. People also change the environment in ways that drastically affect animals. People clear forests and drain wetlands. They build dams that disrupt the flow of rivers. They build cities on land that animals need to survive. They also create harmful pollution.
Some changes that cause extinction affect only a small area. Others are large enough to affect the entire world. A fire or other local event may cause the extinction of animals that live only in that region. A sudden change in the global climate might wipe out an animal species that lives in many parts of the world.
People can cause extinctions more directly as well. Some species have been hunted to extinction. The passenger pigeon is one example. Humans killed millions of the birds over many years. The last one died in the early 1900s.
Mass Extinctions
Sometimes many different species become extinct in a short time. This is called a mass extinction. Several major mass extinctions have occurred in the past. Each time many animal species were wiped out. Some survived, however, and over millions of years new species developed.
The worst mass extinction happened about 248 million years ago. This extinction included mainly animals without backbones that lived in water. Another mass extinction occurred about 65 million years ago. It wiped out many of the planet’s land animals, including the dinosaurs.
Dinosaur Extinction
Dinosaurs first appeared on Earth about 215 million years ago. They were the most important land animals for more than 150 million years. By 65 million years ago, however, the dinosaurs had died out.
Many scientists believe that a large asteroid, or rock from space, caused this mass extinction. When the asteroid hit Earth, the impact caused drastic changes. Thick dust and other materials blocked the sun. Temperatures dropped, and plants could not grow. The dinosaurs could not survive the cold temperatures and lack of food. But early species of birds and mammals did survive.
Large Mammal Extinction
About 10,000 years ago another mysterious animal extinction occurred. This extinction was especially dramatic in North America, where many large mammals disappeared. Among them were woolly mammoths and saber-toothed cats.
Scientists do not know what caused this extinction. Some believe that growing numbers of human beings hunted and killed too many of the animals or their prey. Another theory is that the climate changed and affected the availability of food.
Endangered Species Today
In the past 200 years the world has lost many animal species. Hundreds of others are on the verge of extinction. Animals at risk of dying out are called endangered species.
Governments today are working to protect the world’s endangered species. Laws protect some animals’ habitats from being polluted or destroyed. Other laws make it illegal to hunt endangered animals. Some species respond well to these protective measures and increase in number. Others are not as successful.

sms
Weblån

Thursday, February 17, 2011

Generasi Muda Sebagai Tiang Masyarakat

GENERASI MUDA MINAHASA SEBAGAI TIANG MASYARAKAT
Michael E Sendow

“……Kiapa so ngana ! Ini urusan kita, kita mo bamabo kek, mo ke diskotik,
minum obat-obatan ato mo beking apa kek, itu kita peurusan bukang ngana !” (ungkapan-ungkapan dalam dialek Manado)
Itulah kira-kira kalimat hardikan beberapa teman saya saya bertahun-tahun yang lalu, ketika ia saya tegur untuk tidak melakukan hal-hal demikian. Mereka tinggal di salah satu kampung di Minahasa. Adalah merupakan hal yang sungguh ironis apabila kita merefleksikan kehidupan generasi muda di kota-kota besar. Dan ternyata sebagaimana itu terjadi di kota-kota besar, itu juga sudah mewabah/ menjamur di pedesaan!

…”Ngana rupa cewek jo ! Sombong !, napa bagate sadiki, ini cap tikus asli – bakar manyala !....”” …Kalu nyanda minum berarti nyanda batamang torang !” Ajakan-ajakan seperti itu sudah sangat familiar kalau kita masuki pelosok-pelosok kampung di Minahasa !
Sikap-sikap arrogant dan keras-kepala, kadang dibalut dengan kemunafikan sudah tradisi di kalangan anak muda. Memang tidak semua, tapi ada begitu banyaknya (sangat banyak) anak-anak muda yang masih terikat dengan hal-hal yang demikian.
Lihat saja, sudah berapa banyak perkelahian antar kampung yang terjadi dioleh karenakan anak-anak muda tersebut sudah minum, mabuk dan baku-panas ?
Belum lagi sikap-sikap sok jagoan, pemerasan (bapajak), ada pengunjung dari kampung lain datang, maka sapaan pertama justru tidak ada nuansa persahabatan sama sekali; “…Hey Boss, dari mana ngana ?! Bukang orang sini kang ?! Kaseh kamari dulu doi, atik mo beli rokok deng mo bagate….!”

Sikap-sikap yang seperti ini walaupun kelihatan dan bahkan ada yang bilang biasa untuk kalangan anak muda, tapi sesungguhnya ini justru akan menjadi preseden buruk bagi citra dan kelangsungan hidup harmoni diantara generasi muda Minahasa (bukang Cuma for satu kampung), juga dimata para pendatang .
Memang latar belakang pendidikan banyak menentukan tindak-tanduk dan sikap banyak diantara mereka. Pendidikan juga tidak hanya pendidikan formal, pendidikan informal termasuk lingkungan sekitar turut memberi andil bagi perkembangan selanjutnya dari generasi muda tersebut.
Ada yang bilang bahwa generasi muda Minahasa ada di persimpangan jalan, itu memang betul. Secara jujur memang untuk Minahasa, generasi mudanya ‘harus’ identik dengan ‘generasi muda gereja’. Ini bukan mau menafsikan generasi muda dari agama lain, ini cuma mau menggambarkan apa realitasnya di masyarakat.
Sebab memang banyak pemuda-pemuda dari kalangan gereja berada di persimpangan jalan. “Quo Vadis..?”. Mau jadi anak Tuhan atau ?
Benar bahwa banyak organisasi kepemudaan : Ada Karang Taruna, KNPI, Pemuda Pancasila, GMNI, GMKI, dll. Belum lagi organisasi-organisasi pemuda di bawah payung GMIM, tapi apakah organisasi-organisasi itu berhasil mangangkat keberadaan sesungguhnya dari anak-anak muda ini. Atau hanya jadi tempat pelarian belaka ?!.

Kalau saja generasi muda Minahasa bisa menunjukkan ‘taji’ nya, bukan Cuma jago kandang, bukan Cuma jago bapajak, bukan Cuma jago judi, bukan Cuma jago mabo, bukan Cuma jago bademo (yang tak jelas), maka tentu akan ada ‘sesuatu’ yang bisa diberikan bagi Minahasa-nya, bagi masyarakat sekitar, bahkanpun bagi Bangsa ini secara keseluruahan.

GENERASI MUDA BISA DIANDALKAN
Walaupun memang batasan usia mereka yang disebut generasi muda dan generasi tua masih ada kerancuan, tapi saya coba menarik suatu garis---bahwa generasi muda itu sampai usia 40---
Ada sebenarnya banyak contoh bahwa generasi muda Minahasa sungguh handal; ambil contoh, mereka yang sekarang lagi studi di luar dan dalam negeri dalam rangka menyelesaikan program S2, S3. saya sungguh salut dengan mereka, bahwa ternyata kita punya pemikir-pemikir, pelajar-pelajar yang pintar, bukan Cuma itu tapi punya niat, punya kesungguhan untuk menuntut ilmu, punya kemauan !. Bukan mau mendiskreditkan bagi mereka yang tidak/belum melanjutkan studinya. Ini hanya ungkapan bangga dan salut saya, bahwa orang Minahasa ternyata bisa ! Lulusan-lulusan mereka juga tidak sembarangan, lulus diatas rata-rata. This is really matter, because education is number one ! Begitu kata teman baik saya yang saya kenal sangat antusias dengan pendidikan, Ia lulus dengan summa cum laude.
Banyak juga yang sementara kuliah dan sungguh di atas rata-rata dibandingkan rekan-rekan dari propinsi lain. Ini sesungguhnya adalah suatu ‘nilai’ yang harus dicermati dan ditindaklanjuti. Di bidang bisnis dan dunia perpolitikan memang sudah banyak yang berhasil walau tidak sesuai porsi yang seharusnya. Mungkin karena faktor kesempatan.
Pendidikan memang sangat penting dalam pemahaman memberikan nilai-nilai utuh tentang banyak hal termausk agama, membentuk generasi muda yang berwawasan dan berintelektual yang tidak lupa akan budayanya dan memegang teguh imannya.
Pendidikan terbukti memegang peranan penting bagi sikap dan kelangsungan daya pikir dari satu generasi ke generasi berikutnya, ada banyak catatan-catatan sejarah mengenai betapa pentingnya pendidikan umum maupun keagamaan bagi suatu generasi. Nicolaas Graafland dalam tulisan-tulisan berbentuk monografi seperti yang bisa kita lihat dalam Mededeelingen vanwege het Nederlandsche Zendelinggenootschap (sering disingkat menjadi MNZG). Diantaranya ada yang penting dalam memahami kerohanian dan keberagamaan Minahasa zaman dulu adalah tulisannya yang berjudul “De geestesarbeid der Alifoeren in de Minahassa gederunde de heidensche periode”. Dalam tulisannya Graafland antara lain menelusuri arti paling hakiki dan makna terpenting tentang bentuk-bentuk kerohanian tua dibeberapa wilayah Minahasa (khususnya di wilayah berbahasa Tombulu), dari masa sebelum Kekristenan masuk . Disamping mendalami doa-doa tua, Graafland berusaha menggali mitos tentang asal-usul manusia dan sejumlah legenda pada masa itu.
Graafland adalah pendiri sekolah guru dibeberapa tempat di Minahasa, pertama kali di Sonder pada tahun 1851 tapi sekitar 3 tahun kemudian dipindahkan ke Tanawangko. Graafland jugalah yang akhirnya memulai penerbitan surat kabar pertama Ditanah Minahasa dengan memakai bahasa asli, “Tjahaja Siang”.

SEBAGAI TIANG MASYARAKAT
Sebagai tiang masyarakat generasi muda harus punya vitalitas orang muda yang percaya diri dan percaya Tuhan. Bukan jamannya lagi dimana generasi muda justru jadi parasit, ketergantungan terhadap generasi yang lebih tua. Tidak bisa mengambil dan membuat keputusan sendiri. Malu menyatakan pendapat, malu untuk tampil kedepan.
Bukankah Minahasa adalah ‘pintu’ bagi orang luar untuk belajar tentang keterbukaan dan keluwesan dalam pergaulan. Generasi Muda Minahasa harus bangun untuk menjadi tiang-tiang itu. Selain menuntut ilmu, harus dibarengi dengan iman-takwa serta kerendahan hati. Jadi pintar bagus, tapi bukan jadi sombong. Rendah hati bukan berarti rendah diri. Sudah saatnya generasi muda membangun opini positif dimata masyarakat sekitar bahkan seantero negeri bahwa ditengah-tengah keterpurukan negeri ini dalam segala bidang. Generasi Muda masih bisa menjadi tiang-tiang itu. Tiang-tiang yang siap mo tongka kalu torang pe negeri bagoyang, tiang-tiang yang siap mo tahan kalu torang pe Minahasa bagoyang !
Tidak banyak pelajaran lagi yang harus diberikan untuk jadi tiang-tiang itu, bagaimana harus jadi tiang-tiang itu ! Pendidikan di bangku sekolah, universitas sudah cukup, diorganisasi keagamaan sudah banyak ditempa dan dibentuk. Tulisan ini hanya sekedar mengingatkan sekaligus membangkitkan ‘rasa’ itu. ‘Rasa’ yang mungkin sudah tertidur atau sudah mulai melemah. Rasa dan semangat untuk hidup, berbuat dan ada bagi masyarakat dan negeri ini !
- Pendidikan formal (Secara utuh)
- Pendidikan informal (Secara lengkap)
- Keyakinan diri (Melingkupi semua aspek)
- Iman dan Ketakwaan (Berbasiskan semua segi)
- Vitalitas (Secara berkesinambungan)

Cukuplah itu sebagai titik tolak untuk maju kedepan. Sebagai bentuk nyata dari “Kekuatan” dalam diri orang muda Minahasa yang sesungguhnya sudah ada di diri masing-masing tinggal diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Pasti kita bisa ! Melangkah pasti menuju masa depan dan meraih sukses !
“ Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. “ (Amsal 3:5).
^~Mich~^

Tuesday, February 15, 2011

Mahasiswa dan Perjuangannya..

Mahasiswa dan Perjuangannya.
*Michael E Sendow


“…Roda zaman menggilas kita, terseret tertatih-tatih….
Sungguh hidup sangat diburu, berpacu dengan waktu…..
Tak ada yang dapat menolong, selain yang disana,
Tak ada yang dapat membantu selain yang disana….
Dialah Tuhan…….
Dialah Tuhan…….”
Penggalan lagu/ Reff. Yang dicipta & dinyanyikan Ebiet G Ade.

“Roda Zaman” yang sarat dengan tantangan dan pergumulan selalu silih berganti menyapa kita. Apalagi kita yang berstatus mahasiswa. Ada hal-hal dihidup ini yang perlu kita perjuangkan sebagai Mahasiswa, ada tujuan akhir yang harus digapai, ada cita-cita mulia yang harus diraih. Jangan biarkan kemahasiswaan itu terbujur kaku di cepatnya perputaran roda zaman tersebut, kalau tidak mau tergilas olehnya.

Berbicara mengenai Nilai-nilai etis mahasiswa sangatlah argumentative, sebab bukankah Mahasiswa ada dan berada selalu pada ‘wilayah’, ‘keadaan’ dan ‘situasi’ yang berbeda-beda walau kadang terlihat sama padahal berbeda adanya.
Tapi paling tidak ada nilai-nilai standard yang bisa dipetik hikmahnya untuk kemudian dipakai sebagai “penghela” maupun “pentola” bagi terciptanya mahasiswa yang mumpuni, yang bukan mahasiswa ‘AsMa’ (asal mahasiswa doang) yang penting menyandang status mahasiswa tidak peduli kualitas & karakter kemahasiswaannya. Mahasiswa yang memiliki keunggulan intelektual juga dibekali dengan budi pekerti yang luhur.
Sebelum kita menyorot lebih lanjut nilai-nilai etis dasar sebagai mahasiswa, ada baiknya kita menyoroti latar belakang yang kadang membentuk sosok mahasiswa itu dikemudian hari.
Kesempatan sering memegang peran penting juga dalam hal ini; ambil missal, kesempatan mahasiswa A lebih baik dari mahasiswa B, sehingga ia bisa masuk di Perguruan tinggi terbaik di negeri ini, katakanlah UI dan yang satu hanya tembus di UNPIR (Universitas Pinggiran). Ini pada akhirnya bisa membentuk karakternya, yang satu mulai merasa rendah diri dan minder. Padahal sering kali bukan karena si A lebih pintar dari si B maka ia bisa tembus di UI, melainkan karena faktor kesempatan.
Kemauan juga adalah penunjang terbentuknya karakter yang baik sebagai mahasiswa. Kadang kala, ia sebenarnya tidak berkemauan untuk kuliah, tapi ‘hanya’ oleh karena desakan orang tua ia akhirnya menjadi mahasiswa. Tidak jarang ‘hanya’ oleh karena gengsi akhirnya ia menyandang gelar mahasiswa. Apa jadinya ? IP anjlok, banyak bolosnya, fakultas jadi ajang gaul semata-mata.
Kemampuan adalah hal ketiga yang menentukan. Kadang mahasiswa itu berangkat dari keluarga yang kurang mampu, ia merasa kalah dalam berpenampilan di fakultasnya (katakanlah Fekon), ia kemudian menjadi malas-malasan (padahal kepintaran tidak datang karena penampilan), ia gengsi membaca di perpustakaan padahal tidak sanggup membeli ‘text book’ selayaknya teman-temannya yang lain.


Nilai-nilai Etis sebagai Mahasiswa.

Baiklah sekarang kita melihat secara gamblang nilai-nilai etis sebagai mahasiswa.
- Belajar untuk mencapai tujuan akhir.
Proses belajar mengajar adalah salah satu indicator bahwa Fakultas itu hidup, ruang kuliah itu jalan. Mahasiswa harus terlibat didalamnya, dan ini menunujukkan nilai etis yang pertama yaitu Belajar. Kita datang ke kampus tujuan utamanya-kan BELAJAR bukan nongkrong di unit cafeteria berjam-jam, makan sepuas hati, minum seenak udel dan bahkan ngorok ?!?
- Memahami dunia kampus .Bahwa dunia kampus, perkuliahan, proses belajar-mengajar adalah sarana/alat. Jadi jadikanlah alat sebagai alat dan tujuan sebagai tujuan, kalau kita menjadikan alat sebagai tujuan, maka kita tidak akan pernah mendapat tujuan kita yang sebenarnya. (Masing-masing punya cara tersendiri memahami paragraph ini bukan ?).
- Bagaimana diperlakuakan & memperlakukan. Mengerti dengan benar bahwa sebagai mahasiswa, kita tidak akan mendapat perlakuan diskriminatif dari dosen dan oleh siapapun, oleh karenanya kita tidak akan bertindak diskriminatif dalam hal apapun. (walau kadang ada dosen yang mempraktekkan pendiskriminasian) (dalam organisasi kemahasiswaan juga).
- Berinteraksi di dunia kampus.
Terlibat dalam kegiatan-kegiatan kampus sebagai sarana pengembangan diri dan mental, serta memupuk rasa kebersamaan sebagai suatu civitas akademika. Bukannya menyendiri. cuman duduk-duduk sendirian disudut ruang sambil main Tetris, Game, dan tidak bergaul sama sekali.

Didunia kampus inilah perjuanganmu wahai mahasiswa diuji, akankah engkau tergilas oleh zaman atau engkau nantinya yang akan jadi pemimpin zaman.
Ingat benar, bahwa usahamu akan sia-sia kalau nilai-nilai etis yang ideal saja belum bisa kamu terapkan. Sebab masih banyak nilai-nilai lain akan ditemui dan harus dijalankan nantinya.
Satu catatan kecil yang kiranya dapat menjadi pegangan kita juga adalah supaya kita tidak masuk dalam ‘penjara’, yaitu ‘penjara ekonomi’, memanfaatkan pengaruh doi (uang) demi mancapai tujuan.
Karena betapa hebatnya pengaruh kuasa ekonomi itu atas seluruh aspek kehidupan manusia.
Karl Marx mengatakan bahwa siapa yang menguasai ekonomi, ialah yang menguasai manusia. Seluruh tindak-tanduk manusia dikendalikan oleh motif-motif ekonomi yang ujung-ujungnya adalah doi (uang). Tidak ada satu peristiwa sejarahpun di dalam dunia ini, yang tidak dapat dijelaskan dengan kategori-kategori kepentingan ekonomi. Perang, revolusi, pemberontakan, bahkan penjajahan selalu mempunyai motif-motif ekonomi.
Bagaimana dilingkungan kampus ? adakah yang sudah terjadi, sedang terjadi dan bakalan terjadi menunjukkan adanya indikasi tersebut diatas, bahwa aspek apapun yang dilakukan ‘terlalu’ diatur oleh ‘kuasa’ doi ?
Ada yang masih dalam ‘limit of tolerance’, tapi kalau so bayar-bayar dosen supaya lulus, ini sudah diluar wilayah etis sebagai mahasiswa.

Perjuanganmu mahasiswa butuh pengorbanan, tapi berkorbanlah demi sesuatu yang engkau yakini tidak melanggar nilai-nilai etismu sebagai mahasiswa, contoh kecil apa gunanya engkau berkorban duit untuk beli nilai, setelah lulus engkau tidak memiliki ilmu yang kau beli itu, karena bukan proses belajar yang engkau jalani, berinteraksi, tugas, diskusi-diskusi di kelas tapi malahan dengan kemampuan finansialmu kamu bayar nilai “A” mu !?

Akhirnya, berjuanglah dengan sungguh-sungguh dan raihlah segala impianmu yang sudah kau toreh di hatimu dan dalam benak serta anganmu.
Ingatlah selalu bahwa untuk mencapai tujuan akhir selalu ada jalan yang harus dilalui, ada proses yang harus dijalani.
Jalan panjang memang harus dilalui, tetapi jadikanlah alat sebagai alat dan tujuan sebagai tujuan.

“……Kita mesti berjuang, memerangi diri, bercermin dan banyaklah bercermin…
Tuhan ada disini di dalam jiwa ini…….” (Ebiet G Ade)

Monday, February 14, 2011

"Suara Biasa itu"...Happy Valentine's Day Everyone!

“Suara Biasa itu….”

Pagi itu, kala dering jam tepat menunjukkan pukul enam pagi.
Ketika dalam gegasku, buru buru, siap siap, tergesa gesa……
Menuju tempat dimana aku mencari nafkah…..
Telpon genggam itu berdering….
Nyaring.....
Menghentak dan seketika gegaskupun terhenti !

Suara dari seberang sana,
Suara yang begitu kukenal,
Suara yang kadang memunculkan senyum dibibir ini,
Menghadirkan tawa lepas dalam segala rasa suntukku,
Memberikan harap ditengah-tengah pergumulanku.....
Suara yang sama itu jualah yang kadang membuka jalan,
Bagi deraian air mata...
Kadang suara itu riang bersemangat....
Tapi tak jarang diam membisu....
Kadang dewasa...
Walau sering hadir dalam bentuk kekanak-kanakan,
Manja dan manis didengar….polos dan lembut.

Tapi pagi itu,
Ada yang berobah........
Suara itu lain, sangat lain....
Tidak seperti biasanya...sangat berbeda.
Bukan biasa-biasa,
Tak dapat ditangkap ‘jelas’ dan ‘nyata’ di telinga ini.
Melebihi akal pikiranku......
Melampaui pengetahuanku.

Suara itu penuh tuntunan yang tak biasa,
Ia mengguncang ruang-ruang di hati ini,
Seperti laut yang dalam.......
Seperti angkasa yang luas.......
Seperti aliran air sungai, mengalir tak terkira.....
Suara itu menekanku dengan amat sangat.
Dengan amat tegas.
Dengan tak terbantahkan.

Aku hanya bisa menaruh harap,
Seberaoa besar rasa itu,
Seberapa dalam kasih itu,
Biarlah ia dinyatakan dengan bebas,
Dengan ucapan syukur...
Tanpa paksaan...
Tanpa sembunyi-sembunyi....
Tanpa melukai sesama....
Walau ada rasa yang tak terbendung,
Walau ada asa yang bergelayut di ujung penantianku,
Aku ‘tak akan membiarkan asa yang lain milikmu hancur…..
Serahkanlah padaNya, Ia yang maha Adil, maha mengetahui,
Biar kita mereka-reka jalan, Ia jualah yang menentukan……
Walaupun rasa itu……..
Dan walaupun...........
Meskipun............................
Dan meskipun..............................

Aku hanya menanti suara yang “biasa” itu kembali,
Suara yang memiliki berjuta arti dalam kepolosannya,
Yang tidak bersandiwara.....yang tidak menuntut.
Aku ingin suara itu hadir tidak dengan keanehan,
Dan tidak dengan perubahan……..

Semoga ini hanya imajinasi, semoga ini hanya mimpi.
Bahwa ia yang ada dihati ini sudah berubah....
Jangan biarkan ada yang mengubahmu....
Jangan biarkan ada yang merobahmu....
Bolehkah suara “biasa” itu kembali kumiliki....
Pintaku dengan amat sangat !?!?
(Mich) (14 Pebruari 2011)






Sunday, January 30, 2011

"INTERMEZZO"

INTERMEZZO
(Refleksi ketika aku berada di kotaku beberapa tahun lalu)

Aku adalah aku, sosok yang akan mengisi alur cerita saat ini, sekalipun aku punya nama tapi adalah lebih baik kalau aku dikenal sebagai sosok “AKU” saja, agar tidak terkesan sombong. (Dan tidak terkesan sumbing).

Nah, aku ini adalah seorang manusia yang berjenis kelamin pria, usia(…..) tahun, belum beristri dan yang paling keren adalah karena dibelakang namaku ada embel-embel yang bikin orang mengenalku sebagai seorang sarjana, tapi sayangnya aku ini masih nganggur bersama teman-temanku pengangguran lainnya sayangnya kata nganggur yang dipakai disini lebih condong kearah tidak mempunyai pekerjaan dari pada artian menjual anggur.

Kala itu, pada suatu malam yang cerah, tepatnya tanggal 17 April (sehari setelah ulang tahunku) Tahun 2000, pukul 22.43, aku duduk sendirian di serambi rumahku, maksudku rumah kedua orang tuaku, sambil memandang bintang-bintang kecil dilangit aku menghayalkan seandainya aku adalah orang kaya, terlintas lagu yang dinyanyikan temanku Oppie Andriesta, andai a a a a a aku jadi orang kaya….
Aku melamunkan seandainya aku punya uang banyak misalnya 1.3 Triliun sejumlah yang konon pernah dipinjam tapi lupa dikembaliin oleh bung eddie tansil (namanya huruf kecil aja), atau mendekati jumlah yang disimpan tetanggaku si Adrian itu!

Setelah uang yang lumayan banyak itu ada, rencananya aku akan membuat hal-hal besar seperti proyek2 yang nantinya harus diresmikan oleh at least Wapres.
Kemudian sebagian dari uang itu akan kupakai untuk membangun rumah pribadiku yang rencananya harus ada dimana-mana dengan jumlah total kamar 2033 kamar (sebagian buat disewakan buat anak2 pelajar dikotaku.).
Membeli 16 mobil pribadi berbagai merk yang keren-keren dan yahud punya, tentunya.
Memperkerjakan paling sedikit 30 orang TK untuk mengurus rumahku yang sederhana itu berikut mobil-mobilnya, dan tentunya mereka akan aku gaji dengan baik yaitu diatas upah minimum regional (Minimum Wage Standard).

Setelah itu aku akan mendirikan berbagai panti asuhan dan aku juga akan menyumbang kepanti asuhanku itu sehingga namaku semakin terkenal, padahal uangku akan kembali karena panti-panti itukan miliku juga.
Selanjutnya aku akan mencoba jadwal makanku yang baru, pagi sarapan diSingapura bersama PMnya juga dengan si Sultan Brunei (yg sudah ku telpon sehari sebelumnya), siangnya makan siang di Paris bersama mitra bisnisku yang baru…itu lho si Donald Trump, dan makan malam di Las Vegas dengan beberapa Menteri kolegaku yang baru juga. Di Las Vegas kusempatkan untuk nonton pertandingan tinju-nya Mike Tyson yang sudah di atur si Trump dan habis nonton si Trump pun cerita bahwa dia dapat banyak dari hasil tinju itu, dan aku diberinya sebagai oleh-oleh segepok dollar yang kalau dirupiahkan yaaah, sekitar 2 kali APBD daerah Nyiur Melambaiku.

Sekembalinya ketanah air dengan pesawat pribadiku, aku dikejutkan dengan berita bahwa sebentar lagi akan ada kerusuhan ….eeeh maksudku sebentar lagi pesta demokrasi PEMILU akan segera tiba waktunya, ternyata aku lumayan lama bercokol dinegeri orang (lupa ya?), aku jadi malu sendiri, karena sampai lupa kalau aku masih punya negeri sendiri.
My home country always gonna be the best for me. Indeed! Menurut Etymologynya Home Country adalah :The country in which a person was born and usually raised, regardless of the present country of residence and citizenship.

Mendengar berita itu akupun semakin mempersiapkan diri sebaik mungkin, siapa tahu aku nantinya bisa dipercayakan oleh rakyat (bukankah uangku banyak) untuk menyuarakan suara mereka karena biasanya mereka kurang begitu baik menyuarakan suara sendiri yang kadang terdengar fals ditelinga sendiri (saya siap menjadi wakil mereka!).
Sebelumnya aku mampir ke bank yang menyimpan banyak hartaku dan setelah dicek kembali sisa uangku tinggal 987M, wah uang segitu cukup buat apaan pikirku, kata ponakanku kalau dibeliin krupuk bisa dibuat lingkaran yang mengelilingi Indonesia!

Sambil berpikir-pikir tindakan-tindakan apa yang harus aku ambil, tiba-tiba pintu diketok yang ternyata si pak ErTe kita, ngobrol sana-sini, sampailah beliau pada pesan-pesan yang sebenarnya intinya mengatakan bahwa “…..PEMILU semakin dekat, Pakailah HAK PILIH anda sebaik-baiknya…”
Koran terbitan pagi, besoknya telah menantiku dimeja sarapan, aku melirik sekilas terdapat topik dengan cetakan besar “PEMILU SEMAKIN DEKAT, PAKAILAH HAK PILIH ANDA DENGAN SEBAIK-BAIKNYA”

Sekalipun aku orang kaya, aku tidak pernah melupakan untuk melihat perkembangan yang terjadi di daerah-daerah lewat berita Televisi, Koran, Internet,dll. Dimalam itu aku agak terlambat menyalakan TV sehingga hanya “…..PEMILU tinggal (……..) hari lagi, pergunakanlah hak pilih anda dengan baik…”Yang sempat kudengar.
Keesokann harinya aku menyempatkan diri jalan-jalan melihat-lihat daerahku ini agar jangan kulupa bahwa aku ini asli orang Manado sekalipun lebih suka bergaya Amerikana, dan alangkah terkejutnya aku ketika melewati Boulevard, yang selama ini dijadikan tempat santai para remaja maupun yang tua-tua menikmati indahnya senja hari dan eloknya pemandangan sekitar, serta panorama sunset, tapi kini yang kulihat dan terlihat hanyalah tembok-tembok tak beraturan dan gedung-gedung sebagai pemisah antara hakku untuk menikmati alam ini dengan alam itu sendiri, aku bahkan sempat berpikir mungkin juga lautan dan pemandangan itu juga sedih karena tak bisa melihatku lagi, dan ketika aku bertanya mengapa, aku mendapat jawaban yang sangat memuasakan serta simple bahwa : “Demi Kepentingan bersama”, oooh itu toh jawabannya…..For our own good..? Really….??
Sembari berjalan kembali ke mobil BMWku akupun berpikir seberapa banyak tempat yang bisa kubeli dengan sisa uangku agar nantinya dapat kunikmati sendiri keindahan alam itu dan yang lain kalau mau ikut menikmati harus bayar padaku dan aku akan menjadi semakin kaya saja.

Braaakk…Ciiitttt….Bruuuuk….Buuuuuum.! Ternyata mobilku si BMW itu menyenggol sampai menabrak tembok pagar sekaligus dengan pohon kelapa dan tempat sampah yang memiliki sampah lebih banyak diluarnya daripada didalam. Aku sadar tidak baik mengendarai mobil sambil ngelamun apalagi tidur, tapi terlambat. Segerahlah ku dial melalui HP buatan Nokia Finland terbaru (yang paling canggih, kala itu belum ada Black Berry) nomor rumahku untuk minta dikirimin mobil lainnya.
Tak lama berselang mobil Jaguar Biruku telah sampai, dan yang BMW itu kutinggalkan saja sedemikian rupa yang akhirnya dikerumuni orang sambil melongo, mungkin mereka heran ada BMW teronggok begitu saja ditempat sampah, pikir mereka biasanya yang ada bayi malang kok sekarang ada mobil malang, aku sih cuek aja sambil ngeloyor pulang.

Suatu saat aku tiba di suatu pelosok daerah yang agak terpencil, kupelankan laju kendaraanku, samar-samar kulihat ada kerumunan orang, rupanya orang-orang kampung sedang berkumpul dan lambat-lambat kudengar kata-kata yang disampaikan lewat pengeras suara “….Saudara-saudara Pemilu semakin dekat, pergunakanlah hak pilih anda dengan sebaik-baiknya…”.You have to make the right choice no matter what.
Dan begitulah, ternyata dari desa terpencil sampai kantor-kantor pemerintah di kota agak besar hingga yang paling besar, disetiap media cetak dan elektronik, kata-kata mujarab sebelum pemilu selalu ada. Even though not so many people understand that well.
Sesampainya dirumah aku berpikir, mengapa hak kita untuk memilih selalu diperhatikan dengan seksama dan dengan sebaik-baiknya, sebaliknya derajat hak kita yang sama yaitu untuk dipilih kurang disinggung-singgung, seandainya yang dibicarakan bukan hanya hak memilih tapi juga hak dipilih maka akan samalah hak kita, artinya yah kalau bisa mbok ya sekali-kali kita yang dipilih dan merekalah yang memilih….jang talalu golojo kine! Tapi saya sadar sesadar-sadarnya bahwa semua ini hanyalah seandainya saja, bahkan keesokan harinya terdengar berita bahwa bankku dimana aku simpan uangku itu telah kebobolan, akibat kasus Comercial Paper yang menghebohkan itu dan semua uangku itu ikut lenyap, tak tahu kemana rimbanya. Aku marah-marah, sempat maki-maki, herannya aku benar-benar lupa kalau semua itu hanya sekali lagi ‘seandainya’, ‘seumpamanya’ ‘misalnya’, ‘andaikata’ belaka……………….

Dan memang….selama ini aku hanya dan terus, serta masih berada pada tempat dan posisi yang tetap yaitu duduk termenung didepan rumah orang tuaku itu sampai tak menyadari diriku telah dipindahkan nyamuk yang mungkin marah tempat mereka aku ambil alih tanpa izin resmi…kupakai berjam-jam lagi….sekali lagi tanpa izin! ! Dari sudut kamar depan sayup-sayup ku dengar berita TV tentang Gayus, tentang RIM BB yang lagi dihajar si Bapak Mentri, juga berita tentang lelucon korupsi di negeri ini yang semakin menggila dan mengganas…In Indonesia corruption is a big problem, and corruption is not unique to Indonesia, therefore only Indonesians can overcome corruption in Indonesia..!

Beruntunglah saya, karena semuanya ini hanya lamunan belaka. Atau sayang sekali karena ternyata ini hanya lamunan dan khayalan , dan bahwa aku tidak benar-benar kaya raya ?..........Aaaagghh aku perhaps harus lebih memilih kenyataan yang sekarang. Then I have to have a guts to accept this reality.
Bukan main kalau ini benar terjadi…………..Andai..aaa..aaaa.aaaa.a.a.a.a.a!!!



Leahcim 3 Wodnes

USA-MDO, 2010/2011

Friday, January 21, 2011

KKN Berbagi Kasih..

“Ketika kita berbagi kasih dengan mereka……”

Pada bulan Desember di Tahun 2005 yang lalu tepat di tanggal 25, saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga, ketika untuk kali kedua saya berkesempatan kembali untuk merayakan “Natal Bersama” dengan para orang tua/jompo di suatu ‘Panti Jompo’ di Rahway, New Jersey. Panti itu bernama ‘TreeManor’. Natal tahun 2005 membawa kesan yang mendalam bagi saya dan kami semua yang hadir karena bisa merayakan Kelahiran Dia. Sang Penebus. Yesus kristus, bersama dengan orang-orang tua tersebut. Memasuki ruangan dimana perayaan akan dilaksanakan hal pertama yang saya dan kami lihat adalah hampir semua mereka lagi duduk menatap keluar melalui jendela yang ada di ruangan itu. Apa yang ada dalam pikiran mereka dikala keluarga-keluarga lain lagi bergembira merayakan NATAL.
Beberapa diantara mereka menjawab dengan jawaban yang sama : “……..mereka menanti, menunggu sekiranya ada dari keluarga mereka, anak, kakak, adik atau keluarga dekat lainnya yang akan mengunjungi mereka ! Mereka sangat berharap supaya dapat bergembira di tengah-tengah keluarga, selayaknya yang sering kita lakukan dengan keluarga kita pada tiap NATAL”.
Menunggu dan menunggu sampai akhirnya mereka menjadi jenuh, karena ternyata tidak ada siapa-siapa yang datang. Hal mana memaksa saya dan beberapa kawan saya harus menahan air mata. Betapa pedih memang, ketika di hari yang berbahagia, dimana kegembiraan seharusnya menjadi milik semua, dan kita harus merayakannya sendirian.

Untuk itulah pada kesempatan yang sangat berbahagia tersebut Kerukunan Keluarga Nusantara/ Indonesian American Christian Association kembali menlakukan hal yang sama seperti tahun lalu. Dikomandani oleh Bp.Ronald Setlight sebagai Ketua KKN, kami melaksanakan pelayanan kepada orang-orang tua tersebut, kita adakan ibadah singkat dipimpin Pendeta yang kebetulan anggota panti tersebut yang tahun ini sudah akan menginjak usianya yang ke 90, Pdt. Parson. Dengan lantangnya beliau walau dengan tangan yang sudah gemetar, dan dengan menggunakan tongkat berkata : “Ada yang tidak dapat dibatasi oleh siapapun dan apapun untuk dilakukan diseluruh dunia di sepanjang segala abad, yaitu KASIH”. Ketika semua pintu akan tertutup, pintu kasih masih dan mesti terbuka. Yohanes 3 ayat 16 adalah puncak pernyataan KASIH tersebut.

Para ibu-ibupun tak kalah gesitnya, mulai dari sang Sekretaris Meity Peleh, Ibu Jenny, Ibu Ansye dan lainnya sibuk melayani para ‘eldery’ tersebut dengan makanan-makanan seperti Ham, Turkey, Spaghetti, kue-kue, buah-buahan dan lainnya. Sungguh pada saat itu keceriaan sangat terlihat dari wajah orang-orang tua tersebut, tak jarang terlontar kalimat “..you are so nice “....”Oh Great, thank you very much”. Disini terlihat jelas, ketika KASIH dijalankan maka setiap sekat terpinggirkan, tidak ada lagi yang melihat saya dari sini kamu dari sana. Todak ada lagi yang memandang saya ras ini kamu ras lain. Pokoknya yang ada Cuma kebahagiaan dan ucapan syukur. Oma-oma itu pun mengajak semua yang hadir untuk bernyanyi bersama dan bersuka ria bersama mereka.

Setelah itu diadakan acara foto bersama, dan pembagian kado kepada semua eldery yang hadir saat itu. Kemudian Ketua juga memberikan sambutan singkat, mengajak supaya acara-acara seperti ini tidak menjadi simbolisasi semata melainkan karena ketulusan membagi kasih dan tidak hanya sampai disini saja.
Ketika perpisahan pun harus terjadi, mereka iringi dengan tangisan. Tangisan bahagia karena mereka merasa sungguh terhibur, mendapat arti dalam perayaan ini, sekaligus tengisan sedih karena harus berpisah.

Kegiatan lainnya yang sementara dilakukan “NUSANTARA” adalah menyekolahkan beberapa anak asuh di Indonesia, yang kebetulan adalah anak-anak putus sekolah di Irian Jaya. Kemudian dalam waktu dekat ini juga akanmengadakan acara ‘Semalam Bersama Nusantara dimana program-program sosial yang ada akan di presentasikan.

Akhirnya, semoga acara-acara yang menunjang apa yang selalu disebutkan orang “memanusiakan manusia” akan terus berlanjut. Kita diajak untuk tidak menjadi ‘Homo Homini Lupus’ (menjadi serigala bagi sesama manusia), agar kita tidak menindas sesama kita dan bukan supaya menjadi ‘Homo Homini Angelus’ (menjadi malaikat bagi sesama manusia) , agar kita tidak menghakimi sesama kita, tapi agar kita bisa menjadi ‘Homo Homini Homo’ (menjadi manusia bagi sesama kita manusia). Cukup dengan HOMO HOMINI HOMO. Menjunjung tinggi kemanusiaan dan dengan mengasihi sesama kita manusia. Sekali lagi sesama kita Manusia. Bukan hanya untuk sesama kita orang kristen.